Monday, March 15, 2010

Cibolang - Hot Spring


Sabtu, 27 Februari 2010....

“Kita mau kemana ini?”…..suara dari walkie talkie yang dipegang Alin berbunyi, sesaat setelah mobil saya belokan keluar dari jalur utama dan mulai memasuki jalan perkebunan teh yang jelek dan sempit – hari sudah sore dan cuaca hujan rintik-rintik, udara dingin pegunungan menyusup masuk dari jendela mobil yang memang saya biarkan terbuka sedikit. Sore itu, dengan tiga mobil beriringan kami tengah dalam turing keluarga mengeksplorasi daerah Pangalengan – Bandung Selatan, Jawa Barat. 

“Kita mau ke Cibolang” jawab Alin setelah bertanya dulu kepada saya, sebenernya kita mau kemana?

“Ada apaan disana…?” suara tanya lagi dari walky talkie yang berada di mobil Teguh

“Pemandian air panas….” Jawab Alin lagi-lagi setelah tanya dulu kepada saya.

“Emangnya ada? jangan-jangan nanti air panasnya – orang lagi masak air” suara dari walkie talky menyahuti sambil becanda.

Saya tersenyum  menanggapi candaan tersebut, memang terbersit juga rasa ragu di hati saya, pemandian seperti apa yang ada di tengah-tengah perkebunan teh seperti ini? pikir saya.

Saya memang belum pernah menjelajahi daerah Pangalengan ini – padahal mereka mengandalkan saya sebagai tour guide dalam turing keluarga ini hehehe maklumlah saya yang paling sering jalan mbulusuk-mbulusuk daerah pedalaman jawa barat.

Namun pemandangan indah yang disuguhkan alam Pangalengan ini benar-benar membius mata membuat saya tidak terlalu peduli dengan keraguan hati saya – seandainya tidak ketemu pemandian tsb ataupun jika ternyata pemandian tersebut tidak sebaik yang kami harapkan, toh kami sudah bisa menikmati pemandangan seindah ini dan bisa menyelusup masuk perkebunan teh ini  sudah merupakan pengalaman yang tidak terlupakan….

Seperti kemarin sore ketika  kami menikmati keindahan kawah putih di Ciwidey semua anggota rombongan merasa puas dan terpesona dengan kecantikan dan keasrian pemandangan di kawah putih ini; dan bagi saya yang menjadi tour guide ini merupakan kepuasan tersendiri.

Tadi pagi kami menikmati keindahan Situ Patengan – sayang hujan lebat yang turun membatalkan kunjungan kami ke Ranca Upas sehingga kami putuskan untuk bergerak ke Pangalengan dalam cuaca hujan, dan setelah menikmati santap siang sop buntut istimewa di rumah makan Asti, plus tidak lupa tentunya minum susu segar hangat yang merupakan salah satu minuman  khas di Pangalengan ini (karena pangalengan terkenal dengan produksi susu segarnya), saya sendiri lebih memilih Bandrek susu, kami mencoba untuk mengeksplore Pangalengan.

Karena saya juga baru pertama kali ke Pangalengan maka saya juga tidak terlalu tau dengan pasti mau dibawa kemana rombongan ini hehehe, sempet muter-muter di perkebunan teh Malabar dan sempet liat penunjuk arah bertuliskan makam Boscha, tapi karena cuaca yang masih hujan rintik-rintik kami tidak turun untuk jalan kaki kesana,  dan kini akhirnya disinilah kami berada diantara perkebunan teh menuju ke Cibolang.

Kami terus menyelusup memasuki jalan perkebunan teh yang  dimiliki oleh PT Perkebunan Negara VIII (PTPN VIII), mobil kami terguncang-guncang oleh lubang-lubang jalanan dan sesekali menyeberangi genangan air hujan. Didepan kami tampak kaki gunung entah gunung apa namanya saya tidak tahu pasti – yang jelas disisi kiri gunung tersebut dari kejauhan tampak instalasi panas bumi Wayang Windu (yang ini saya tau karena nanya orang) dengan uap putihnya yang tebal membumbung tinggi kelangit yang saat itu berwarna kelabu karena mendung. DiKaki gunung ini juga tampak garis-garis pipa besar berwarna keperakan yang sangat kontras dengan latar belakang kaki gunung yang hijau tertutup perdu teh maupun pepohonan lainnya. Pipa tersebut nampaknya untuk mengalirkan entah uap panas atau gas ke atau dari instalasi panas bumi.

Beberapa kali saya terpaksa bertanya kepada orang untuk meyakinkan arah ke cibolang ini, maklum makin masuk ke dalam perkebunan suasananya makin sepi dan jalannya pun tidak meyakinkan bahwa itu menuju daerah wisata.

Sampai akhirnya kami melihat ada jalan yang menyimpang ke kiri menuju sebuah gerbang dengan tulisan pemandian air panas tirta camellia – cibolang, langsung saja mobil saya arahkan ke bangunan tersebut.

Ditempat parkir saya liat 2 – 3 mobil dan beberapa sepeda motor sedang parker, dari tempat parkiran ini saya juga bisa melihat ada dua buah kolam renang, kemudian bangunan semacam kantin yang terlihat tidak terawat dengan baik dan di ujung dekat kolam renang terlihat bangunan dengan beberapa pintu yang ternyata ruang berendam – tadinya saya pikir kamar ganti atau toilet.

Secara umum suasananya saat itu tidak terlalu ramai entah karena kami datang sudah sore, sekitar 15.30 atau memang suasananya sehari-hari memang seperti ini?

Saya menunggu pendapat rombongan apakah OK dengan kondisi pemandian ini? Soalnya adik-adik saya ini sangat concern terhadap kenyamanan dan kebersihan tempat wisatanya mengingat mereka membawa anak-anaknya yang masih kecil-kecil.

Setelah melihat bahwa kolamnya bersih walaupun tidak terlalu luas, akhirnya disepakati untuk menghabiskan waktu disitu, apalagi anak-anak sudah tidak sabar ingin berenang – sayangnya sarana ganti pakaiannya sangat tidak memadai diruang toilet yang gelap karena tidak ada lampunya, namun demikian tidak mengurangi kegembiraan  anak-anak untuk berenang.

Bapak-bapaknya pun juga tidak ketinggalan ingin berendam, soalnya memang nikmat bisa berendam di kolam air hangat ditengah perkebunan teh yang sejuk apalagi tubuh ini sudah cukup penat menyetir seharian…..terapi berendam air hangat ini mampu membuat tubuh fresh kembali…..

Apalagi cuaca yang tadinya gerimis kini berangsur cerah, sehingga udara terasa begitu sejuk dan bersih nikmat sekali untuk berendam di kolam air hangat ini.

Alya, Mira dan Faris yang biasanya nggak suka berenang sekarang sudah asyiik bermain air bersama, sementara Qatri masih asiik berenang sama ayahnya. Alin dan Arif juga asiik berenang, Tanto yang tadinya tidak ingin berenang dengan alasan tidak bawa celana ganti lagi akhirnya berenang juga. Hanya Fina dan ibu-ibunya saja yang nggak berenang…..

Belakangan saya baru tahu ternyata ada dua buah pemandian air hangat di Cibolang ini, satu milik perkebunan (PTPN) ini yang saya kunjungi dan satunya milik PT. Perhutani lokasinya masih disebelah atas lagi dari tempat kami ini. (wah kapan-kapan perlu tau juga tuh pemandian yang satunya)

Sementara kami dan anak-anak berenang, Susan isterinya Teguh sibuk booking hotel, memang yang untuk Pangalengan ini kami tidak booking hotel dari awal seperti ketika kami kemarin ke Ciwidey – soalnya memang rencana eksploring Pangalengan ini saya masukan dalam optional item – tergantung cuaca, dan waktu yang tersedia-  tujuan utamanya adalah Ciwidey dan sekitarnya.

Segarnya berendam di kolam air hangat di alam terbuka di kaki gunung yang sejuk dan ditengah pemandangan kebun teh membuat kami lupa waktu, tidak terasa sudah pukul 17.15 – kami harus bergegas mentas nih supaya tidak terlalu malam dijalan.

Menjelang jam 17.45 kami sudah berada di mobil kami masing-masing, dan selanjutnya bergerak kembali menyusuri jalanan perkebunan untuk kemudian masuk ke jalan utama mengarah ke Pangalengan.

Cuaca yang cerah membuat kami bisa menikmat senja yang indah di perkebunan teh ini, Matahari yang kini mulai memasuki horizon menyemburatkan warna jingga di langit sekitar tempatnya berada. Sisa cahayanya membuat siluet-sluet tegas dari pepohonan yang berdiri tegak di tengah-tengah perdu teh yang datar. Indah sekali, kami sampai terpaksa berhenti dipinggir jalan untuk mengabadikan dan menikmati proses masuknya sang matahari ke peraduannya. Siangpun berganti malam.

Dalam suasana malam perkebunan kami lanjutkan ke Pangalengan, sengaja kami tidak langsung ke hotel tapi mencari makan dulu mengingat perut sudah perlu di isi, apalagi udara dingin menyebabkan kami lebih cepat lapar.

Setelah menikmati santap malam sate ayam dan kambing yang maknyuss kami pun menuju hotel tidak lama setelah pembagian kamar dan menurunkan barang-barang, masing masing keluarga masuk kamarnya untuk beristirahat dan membawa kesan perjalanan hari ini dalam tidurnya masing-masing……zzz…zzz…zzz.

Saturday, March 13, 2010

Pabrik Teh Hitam Cukul



Slluuurrppp.......ahhhhh, saya seruput teh manis panas yang terhidang di meja makan tersebut....sisa rasa daun tehnya masih tersisa di lidah saya......hhmmm nikmatnya teh hitam Cukul. Rasa teh yang tertinggal di lidah tersebut membawa lamunan saya kembali ke perjalanan kami mendapatkan teh tersebut.

Kami tengah dalam perjalanan turing keluarga saat itu, Minggu pagi 28 Februari 2010 dengan tiga mobil kami menyusuri jalanan Pangalengan – Cukul – Cisewu – Ranca Buaya, sebelumnya kami sempat mampir di situ Cileunca. Menikmati pemandangan situ tersebut dan mengambil foto-foto untuk koleksi album kami. Dibandingkan situ Patengan yang kami kunjungi pada hari Sabtu sebelumnya situ Cileunca ini tampaknya tidak sepopuler situ Patengan, pengunjungnya lebih sedikit dan fasilitas yang ada disana tampak kurang terawatt padahal situ ini cukup indah juga lho – ada bagusnya juga sih jadi lebih sepi dan bisa lebih menikmati pemandangannya.

Selesai menikmati keindahan situ Cileunca kami segera bergerak melanjutkan perjalanan menuju pantai Ranca Buaya melalui Cukul dan Cisewu – dengan yang sekarang ini maka saya telah melewati rute ini sebanyak tiga kali, yang dua sebelumnya saya melintas pada malam hari dan satu lagi pada siang hari saat kabut pekat turun menyelimuti perkebunan teh Cukul dan keduanya saya datang dari arah Ranca Buaya sehingga berada di sisi dinding bukit.

Namun Kali ini saya melintasi kawasan ini dipagi hari yang cerah dan indah, sehingga benar-benar kami bisa menikmati moleknya pemandangan yang ada di perkebunan teh Cukul - yang terhampar didaerah perbukitan dan meliputi area seluas 1200 hektar. Dan kami bisa merasakan ngerinya melipir jalanan disisi jurang-jurang yang dalam....... apalagi di beberapa tempat sebagian bahu jalan ini terlihat longsor.....Beberapa kali rasa semriwing muncul saat menekuk tikungan-tikungan tajam dipinggir jurang….seandainya tidak berhasil menekuk tikungan tsb hiiiii serem.
Rombongan kami terus melipir jalanan dipinggang bukit ini sampai tiba di suatu tempat 28 kilometer sebelum Cisewu dimana jalanan ditutup tidak bisa dilalui, karena tertutup longsor - semua kendaraan ke cisewu hanya bisa sampai disitu saja….


Rencana kunjungan ke Ranca Buaya pun terpaksa dibatalkan…..Ada rasa kecewa, tapi tidak mengapa juga sih toh masih bisa disimpan untuk tujuan turing keluarga berikutnya dan yang terpenting penyebab batalnya ke Ranca Buaya karena Act of God…..tanah longsor bukan karena kemauan kita.

Rombongan pun berputar balik kembali ke arah Cukul, menjelang tiba di cukul Een adik saya usul untuk mampir mengunjungi pabrik teh Cukul, ok bisa di coba juga tuh walaupun belum tau apakah diperbolehkan atau tidak oleh pihak pabrik.

Akhirnya kami tiba di pabrik teh hitam Cukul, yang terletak tepat di sebuah tikungan. Kami sampaikan maksud kami kepada satpam pabrik dan diluar dugaan; kami diterima dengan tangan terbuka. Bahkan pak Irawan (kalo tidak salah demikian namanya) dan seorang temannya (lupa namanya siapa) dari pabrik bersedia menjadi tour guide kami selama factory visit ini.

Kami dijelaskan tahapan-tahapan pembuatan teh, banyak info baru yang kami peroleh misalnya ternyata teh hitam maupun teh hijau berasal dari daun teh yang sama, yang menyebabkan menjadi teh hijau atau teh hitam adalah proses pembuatannya.














Pabrik teh Cukul ini khusus mengolah teh hitam, dan pabrik ini tergabung dalam group teh Sosro (Rekso Group) yang produk terkenalnya adalah teh botol sosro.

Walaupun gedung pabriknya terlihat tua (kalo tidak salah berdiri tahun 50an, justru ini yang membuat terlihat antik dan menarik), namun terlihat bahwa manajemen pabrik dilakukan secara modern dan concern terhadap mutu (quality).

Tahukah anda ternyata para pemetik teh setiap harinya total bisa memetik sampai 15 ton daun teh segar, dan jumlah itulah yang diolah oleh pabrik teh Cukul ini setiap harinya…..


Kami juga melihat ruang tester teh dimana bercangkir-cangkir teh yang merupakan sampal dari masing-masing batch yang diproduksi di cicipi untuk menentukan qualitas dan grade nya.










Menjelang jam 11.00 kami akhiri kunjungan kami ke pabrik teh hitam Cukul ini, dan kami ternyata diberi oleh-oleh tiga kantong teh hitam produksi Pabrik teh hitam Cukul ini……wah senang sekali, benar-benar luar biasa penerimaan mereka terhadap kunjungan kami ini……pastinya ini cerminan dari manajemen yang baik…..

Sllurrrp…..ahhh aku teguk lagi teh hitam yang tersisa di cangkir…..hmm nikmatnya. tegukan yang juga mengakhiri kenanganku atas perjalanan kami ke pabrik teh hitam Cukul yang menyenangkan…..


Saturday, March 06, 2010

Guru Menyetir Saya





Jauh sebelum saya menjadi biker yang gemar turing jarak jauh saya lebih sering travelling dengan menggunakan mobil.

Alhamdulillah tidak terasa sudah banyak juga tempat yang saya kunjungi bersama keluarga dengan bermobil.

Ketika saya masih dinas di Medan (1995 – 1997) saya berkesempatan keliling Aceh, berangkat melalui pantai timur(Medan – Lhokseumawe – Banda Aceh) dan pulangnya lewat pantai barat (Banda Aceh – Meulaboh - Tapak Tuan – Kaban Jahe – Medan), semuanya saya menyetir sendiri.

Beberapa tempat lain yang saya pernah kunjungi dengan bermobil bersama keluarga dan menyetir sendiri antara lain adalah; Bali, Palembang, Bromo, Yogya dan lain-lain.

Bapak sayalah yang mengajari saya mengemudikan mobil dan menularkan kegemaran travelling keluarga dengan mobil

Dimata saya Beliau adalah pengemudi yang handal, tahan menyetir jarak jauh, sopan dan santun di jalan dan mengutamakan keselamatan.

Bapak pernah mengajak kami ke Surabaya, Jember, keliling Madura, ke Yogya …..semuanya beliau yang menyetir sendiri – saat itu anak-anaknya belum ada yg bisa menyetir. Barulah ketika kami pergi ke Bali (sekitar 1982) Bapak bisa agak berisitirahat, karena saat itu saya dan mas Anang sudah bisa menyetir mobil.

Bapak sangat strict soal aturan usia untuk mengemudi mobil, jadi kalo belum 17 th. Sudah pasti tidak akan diperbolehkan menyetir mobil. Sebaliknya ketika usia saya 16 tahun Beliau menyuruh saya untuk membuat SIM C untuk mengendari motor, saat itu batas usia untuk memperoleh SIM C adalah 16 th (nggak tau deh kalo aturan sekarang berapa batas usianya).

Bapak menyuruh saya untuk membuat surat keterangan dari kelurahan bahwa usia saya 16 tahun, Beliau juga mengantar saya ke Polda (dulu KOMDAK) untuk mendaftar ujian SIM, ketika petugas pendaftar menolak berkas pendaftaran saya – dengan alasan saya belum mempunyai KTP; Bapak maju mempertanyakan mana aturan yang mensyaratkan harus punya KTP baru boleh bikin SIM C wong syaratnya berusia 16 tahun – si petugas gak bisa berkutik akhirnya saya diperbolehkan ikut ujian teori dan besoknya ikut ujian praktek, dapet deh SIM C untuk naik motor.

Entah Bapak belajar darimana semua yang diajarkan kepada saya merupakan teknik mengemudi yang baik dan aman. Bapak mengajarkan teknik menyusul yang aman, tidak memaksakan diri dalam menyusul, tidak menyusul di jembatan, tidak menyusul di tikungan. Membunyikan klakson di tikungan-tikungan tajam untuk memberi tahu kendaraan dari arah berlawanan akan keberadaan kita.

Beliau juga mengajarkan cara mengemudikan yang aman di malam hari, mengajari tentang isyarat2 lampu, juga mengajarkan etika berkendara seperti tidak berjalan lambat di jalur kanan, memprioritaskan kendaraan yang sedang menanjak dan masih banyak lagi.

Semua etika2 tsb saat ini seringkali tidak diindahkan lagi oleh banyak pengemudi; seperti menjalankan mobil berlambat-lambat di jalur kanan, jika diklakson malah marah2, atau tidak memberi prioritas kendaraan yang sedang menanjak – yang ada siapa yang lebih berani dia yg menguasai jalan. Atau saat hujan menyalakan lampu Hazard (kedua sein nyala berkedip-kedip) padahal mobil yg bersangkutan tidak sedang berhenti – mereka tidak mengerti lampu hazard hanya digunakan untuk mobil yang sedang berhenti/mogok.

Namun demikian Bapak saya jugalah seorang manusia biasa, suatu saat juga bisa meledak emosinya – namun karena emosinya yang meledak inilah saya jadi bisa berkesempatan melihat salah satu aksi ketrampilan Beliau mengemudikan mobil.

Ceritanya saat itu sedang pemilu di masa orba dulu, waktu itu cuma ada tiga partai politik peserta pemilu, Hari itu sedang kampanye dari salah satu parpol; mereka konvoi menggunakan belasan (mungkin puluhan malah) truk terbuka dan bis menuju lokasi kampanye di Senayan.

Saat itu kami melaju dijalan Thamrin menuju rumah di Kebayoran, melihat ada konvoi tersebut, Bapak mengambil jalur kiri membiarkan konvoi kampanye tersebut lewat dengan lancar dijalur tengah – namun tiba-tiba peserta kampanye dari salah satu truk terbelakang melempari mobil kami dengan batu.

Tidak terima dengan perlakuan tersebut Bapak kemudian ngebut menyalip dan memotong satu persatu kendaraan yang sedang konvoi secara zig zag diantara kendaraan peserta konvoi..….. mobil Peugeot 404 th 63 kami pun meliuk-liuk mengikuti putaran kemudi Bapak…kereeeen bo. (jangan-jangan Bapak saya jago drifting juga kali ya….hehehe)

Terima kasih Bapak atas semua didikan yang telah diberikan, saya tidak bisa membalas budi baik Bapak…..hanya doa yang dapat saya panjatkan kepada Allah untuk Bapak.

Nah siapa guru mengemudi anda…?

***) ditulis untuk mengenang Almarhum Bapakku : Drs Imam Saroso

Wednesday, February 24, 2010

Memutar yang Baik (untuk Biker)

Beberapa waktu yang lalu ada postingan di salah satu milis komunitas biker yang saya ikuti, yang menanyakan bagaimana cara memutar yang baik, Namun karena kesibukan saya menyebabkan saya tidak sempat mengikuti topik tersebut sehingga tidak tahu bahasan teman2.

Menurut saya cara memutar yang baik adalah sebagai berikut dibawah ini, mohon di ingat ini adalah pendapat pribadi saya berdasarkan pengalaman selama ini. Apabila ada saran memutar yang lebih baik yang dikeluarkan dari sumber yang kompeten, maka silahkan ikuti saran tersebut.

Dalam memutar ada tiga hal utama yang harus diperhatikan.

1. Tempat Memutar
2. Proses/prosedur Memutar
3. Mengutamakan keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain.


1. Tempat Memutar

a. Jalan yang memiliki pemisah jalur

1. Jika jalanan memiliki pembatas jalan, maka berputarlah di tempat putaran yang memang disediakan untuk kita (ada rambu tanda berputar – U Turn).

2. Jangan berputar ditempat putaran yang diperuntukan kendaraan dari arah berlawanan, ataupun yang terdapat rambu dilarang berputar (U Turn – dicoret)

3. Jangan berputar di ujung lampu pengatur lalu lintas (traffic light), kecuali jika ada rambu diperbolehkan memutar ditempat tersebut.

4. Jangan sekali-kali menggunakan jembatan penyeberangan untuk berputar, jalur tanjakan yang disediakan dijembatan penyerberangan adalah untuk gerobak pedagang, bukan untuk sepeda motor. Jembatan penyeberangan adalah untuk pejalan kaki bukan untuk sepeda motor, jika anda menggunakan jembatan penyeberangan untuk memutar, selain melanggar aturan lalu lintas, anda jelas adalah biker kampungan

b. Jalan yang tidak memiliki pemisah jalur

1. Jika jalanan tidak memiliki pemisah jalur maka carilah tempat yang cukup lebar untuk memutar dan jalur yang lurus serta datar.

2. Jangan memutar di tanjakan/turunan yang terjal (ada kemungkinan anda tidak terlihat oleh pengendara lain, selain itu kemiringan jalan bisa mengganggu keseimbangan motor)

3. Jangan memutar di jalanan yang menikung - posisi anda mungkin tidak terlihat oleh pengendara lain yang akan masuk ke tikungan tersebut.

4. Jika situasi lalulintas ramai tunggu sampai situasi cukup aman untuk berputar, selama menunggu jika perlu berhent dulu di sisi kiri jalan.


2. Prosedur memutar

1. Nyalakan lampu sein setidaknya 50 m sebelum U Turn

2. Lihat spion untuk mengetahui posisi kendaraan2 dibelakang kita

3. Saat berpindah dari jalur kiri ke kanan jangan memotong jalan terlalu tajam

4. Jika kendaraan dari belakang cukup ramai jangan paksakan diri untuk memotong

5. Jika sudah berada diputaran, perhatikan arus dari arah berlawanan, tunggu sampai situasinya memungkinkan anda untuk keluar dari putaran. Memaksakan diri langsung keluar dari putaran bisa membahayakan diri anda dan pengguna jalan lainnya.

6. Keluar dari putaran jangan langsung memotong arus

7. Berpindahlah dari jalur kanan ke kiri dengan menyalakan sein dan memperhatikan arus kendaraan dari belakang anda.



3. Utamakan keselamatan.

Utamakan keselamatan adalah hal terpenting dalam kita mengendarai kendaraan (baik motor maupun mobil). Kedua poin diatas (tempat memutar dan proses memutar) semuanya dimaksudkan agar kita selamat, jadi jangan ragu untuk maju mungkin 100 – 200 meter kedepan untuk mencari tempat berputar yang aman, daripada anda memaksakan diri berputar ditempat yang membahayakan.



OK Bro and Sis…selamat berputar dan tetap utamakan keselamatan……

Monday, February 22, 2010

Mau Menarik....? jangan lebai Plissss

“Kriiiiiiiiiiiiiiiingg…” sebuah jam beker tampak berdering panjang dan nyaring diatas sebuah meja. Tiba-tiba braak! Sebuah tongkat bisbol (baseball) menghantam si jam beker tanpa ampun, jam bekerpun jatuh dan hancur berantakan.

Kemudian tampak seorang gadis cantik - si pemegang tongkat bisbol, sedang ber hahaha-hihihi dengan seseorang melalui hand phone nya.

Sesaat kemudian tiba-tiba si jam beker yang sudah hancur ini berdering kembali, si gadis cantik tampak kesal dan dengan bengis (lihat mimik mukanya) menghantamkan kembali tongkat bisbol ke jam beker tersebut………

Diatas tadi adalah adegan sebuah klip iklan sebuah operator telepon selular, iklan ini begitu seringnya ditayangkan di layar kaca televisi di rumah anda akhir-akhir ini.

Mungkin anda sering melihatnya, juga mungkin anak-anak anda…….dan kita tidak tahu apa yang ada di benak anak anda ketika melihat adegan tsb.

Terus terang saya tidak suka iklan ini, terlalu mengumbar kekerasan, kemarahan, semangat penghancuran…….

Walaupun jam beker bukan benda hidup, tapi pesan menghancurkan benda itu begitu kental, seakan kita boleh marah dan menghancurkan setiap benda yang mengganggu kesenangan kita.

Menurut saya ini adalah contoh iklan yang tidak pantas, karena mengajarkan kekerasan dan mengumbar kemarahan…… Bayangkan jika cara-cara penghancuran seperti itu di tiru oleh anak-anak kita, mungkin yang dihancurkan mainannya sendiri dengan menggunakan tongkat golf bapaknya….mungkin. Supaya dibelikan mainan yang baru hehehe…..

Jika kita amati iklan-iklan di TV banyak sekali yang tidak pantas sebenarnya karena mengajarkan hal-hal yang buruk terutama kepada anak-anak.

Memang sebuah iklan harus kreatif dan menarik sehingga produk yg di iklan kan tertanam di benak pemirsa, namun pastinya ada cara-cara kreatif lain yang lebih elegan, lebih santun, terhormat dan mendidik dalam mengiklankan suatu produk…..

So, mau menarik?......jangan lebai plis.

Sunday, February 21, 2010

Yang Tercepat



“Yah, kata tante Susan ayah nyetirnya kenceng juga ya” Demikian kata Alin anakku meneruskan komentar dari adik iparku Susan – saat itu kami sedang berkonvoi tiga mobil dalam perjalanan menuju Garut – Jawa Barat.

Mendengar komentar itu saya jadi berpikir, apa bener saya nyetirnya kenceng? menurut saya sendiri saya termasuk slow driver.

Dari empat bersaudara yang lelaki dalam keluarga saya, yaitu Mas Anang (alm), Mas Kokok, Saya sendiri dan si bungsu Teguh maka yang tercepat baik dalam mengendarai mobil maupun menunggangi motor adalah almarhum Mas Anang.

Mas Anang nggak pernah pelan kalo bawa mobil, gaya mengemudinya kenceng dan berani tapi tidak kasar atau ugal2an – sebenernya saya seneng dengan gaya mengemudinya tapi tidak demikian dengan Bapak, dia tidak terlalu cocok dengan gaya mengemudi Mas Anang.

Makanya kalo pergi liburan keluarga bersama Bapak, beliau lebih suka saya yang mengemudikan mobil, mungkin karena saya belajar mobil langsung dari didikan Bapak, maka sebagian gaya mengemudi Bapak menurun ke saya. Mas Anang dan Mas Kokok seingat saya belajar mengemudi sendiri, ini karena mas Anang lama tinggal di Yogya (kuliah) sedangkan mas Kokok lama dinas di Ambon.

Teguh sendiri sebenarnya pengemudi yang baik dan setahu saya juga diajari menyetir oleh Bapak, sayang kecelakaan hebat di Pantura tampaknya meninggalkan trauma yang dalam, sehingga kelihatannya sekarang jadi kurang pede untuk menyetir jarak jauh.

Mas Anang jugalah yang mengajari saya pertama kali bawa motor di jalanan luar kota, tepatnya dari Yogya ke Kaliurang. Saat itu saya masih kelas 3 smp saya dikasih kepercayaan untuk mengendarai Yamaha DT 100 (motor trail) sementara dia mbonceng sambil memberi instruksi bagaimana cara mengambil tikungan, memainkan perpindahan gigi di jalanan yang menikung dan menanjak. Bagaimana menggunakan engine brake di jalanan menurun, bagaimana menyusul yang baik dan lain sebagainya.

Rasanya itulah pelajaran turing motor saya yang pertama kali.

Sayang penyakit jantung yang diderita mas Anang menyebabkan mas Anang harus lebih dahulu meninggalkan kami untuk menghadap Allah SWT pada usia yang relative masih muda (40th). Terima kasih mas Anang atas segala pelajaran riding skill nya.

Nah bagaimana dengan keluarga anda? Siapakah yang tercepat dalam keluarga anda……..

Thursday, February 18, 2010

Ketika Saya merasa Menjadi Biker Cupu

Kamis malam 18 Februari 2010, sekitar jam 20 dengan menunggang Mat Item - Yamaha scorpio ku saya tinggalkan halaman kantor yang berada di kawasan Tanjung Priok untuk pulang menuju rumahku di daerah Pasar Minggu.

Gerimis tipis yang saat itu turun tidak begitu saya pedulikan, saya arahkan mat item menyusuri jalan Yos Sudarso, lalulintas malam itu masih ramai namun lumayan lancar.

Di lampu merah perempatan jl Pemuda – Pramuka, lampu lalulintas menyala merah, sayapun berhenti demikian juga dengan motor2 lain, tiba-tiba boncenger di motor sebelah bertanya pada saya.

“Pak, jalan ke Merak lewat mana ya?”

“Heh, ke Merak?” tanya saya balik, seakan tidak percaya, sambil memperhatikan sipenanya yang ternyata seorang perempuan berperawakan agak gemuk.

“Iya pak ke Merak” katanya meyakinkan saya.

“Wah masih jauh dari sini mbak – ya udah ikuti saya dulu deh nanti didepan saya jelasin” kata saya soalnya lampu sudah menyala hijau.

Motor si gemuk inipun mengikuti motor saya membelok ke jalan pramuka. Diujung jalan pramuka kami berhenti si gemuk ini turun sementara ridernya tetep menunggu di motor.

Kini saya lebih bisa memperhatikan lagi sosok perempuan ini, badanya tidak terlalu tinggi ya rata2 tinggi perempuan Indonesia lah, perawakannya agak gemuk usianya mungkin belum 30 tahun, pakaiannya bersahaja, celana jin ¾ tanpa sepatu (pakai sandal), mengenakan jacket anak muda yang ada kupluknya, dan pake helm half face. Jelas perempuan ini bukan anak motor, ataupun anggota klub motor yang sedang turing.

“Memangnya mau ke Merak ya mbak?” tanya saya kembali meyakinkan akan tujuan mereka.

“iya pak” jawab nya.

“Ya udah kamu nanti dari sini lurus aja terus cari jalan yang arah Grogol, terus ke Tangerang”

“Kamu tau Grogol kan?” tanya saya

“Ndak Pak, saya ngak tau, saya baru nyampe dari Blitar” katanya….

“Hah Blitar?... Mas yang itu tau nggak Grogol?” kata saya sambil menunjuk si Rider yang ada diatas motor (saya berpikir si gemuk ini orang Blitar dan diboncengin sama si Rider ini yang orang Jakarta).

“Dia Ndak tau juga pak, dia bareng-bareng saya dari Blitar, dan dia juga perempuan” kata si Gemuk menjelaskan…..(si rider ini pake helm full face makanya saya nggak tau kalo dia perempuan)

“Hah jadi kalian dari Blitar?.....trus tadi darimana?”….tanya saya dan makin kaget

“Iya kami tadi dari Tanjung Priok mau nyari kapal ke Lampung, tapi nggak ada dan disarankan ke Merak aja” katanya menjelaskan…….

Ampun deh dua perempuan ini nekat banget, dari Blitar mau ke Lampung nyari kapal ferry nya di Tanjung Priok…….huehehe dapet info darimana dia – dan sekarang mau menuju ke merak…..luar biasa.

Saya sudah paham duduk perkaranya sekarang……

“Mbak, Merak itu jauh lho masih 120km lagi sekarang jam 20.30 paling cepet si mbak sampe sana jam 12 malem. Gimana berani mbak?” tanya saya menjelaskan.

“Iya berani pak..” jawab si gemuk semangat, optimis dan tanpa keraguan sedikitpun……

Seandainya dia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, saya sudah siap menawarkan untuk mampir ke rumah dan istirahat saja dulu dirumah saya, baru besoknya melanjutkan perjalanan.

Tapi karena mereka begitu ingin untuk melanjutkan perjalanan akhirnya saya putuskan untuk memandu dia sampai ke Daan Mogot (gila apa kalo saya biarin jalan sendirian – bisa2 nggak keluar-keluar dari Jakarta mereka), kalo saya lepas di Daan Mogot nanti mereka bisa tinggal lurus saja ke Tangerang dan lanjut ke Merak.

Si gemuk yang tampaknya menjadi leadernya kini mengambil alih stang kemudi, dengan lincah mengikuti saya dan mat item menerobos ramainya lalulintas malam itu.

Kami sempet berhenti dulu untuk mengenakan jas hujan karena gerimisnya kini berubah menjadi hujan (tapi tidak lebat), waktu berhenti ini saya makin yakin mereka bukan anak club motor – saya perhatikan motornya Suzuki Smash (no pol AG4854KB) spionnya hanya ada sebelah kanan, jas hujan yang dipakai ponco ini pun cuma satu buah….kalo anak club motor yg lagi turing pastinya kelengkapan motor kumplit, plus jas hujan tipe dua pieces bukan ponco.

Pas berhenti pake jas hujan inilah baru saya sempet nanya nama mereka – Si gemuk ini bernama Tata, sementara temannya yang bertubuh langsing dan lebih tinggi ber nama Novi……

Saya tanya kapan mereka berangkat dari Blitar, kemarin malam kata mereka….bawa motornya gantian katanya.

Wah bener2 berani luar biasa dua perempuan ini, saya langsung merasa jadi Biker Cupu didepan mereka, turing2 saya semuanya gak ada apa2nya. Kalo saya kan turing dipersiapkan dengan matang cari info di internet dulu, liat petanya, kalo rutenya belum dikenal pasti aku libas siang hari dlsbnya, Nah mereka ini lebih edan ternyata jalan malem Blitar – Jakarta sendirian pula, terus lanjut jalan malem lagi Jakarta – Lampung. Nggak bawa peta….blom pernah ke Jakarta….bener-bener biker pemberani.

Weeks bandingan dengan anak club motor….jalan rame-rame, bawa peta, bawa gps plus pake rakom (radio komunikasi), ditiap kota yang dituju disambut dan diantar club lokal setempat…hehehe

Saya angkat topi deh buat keberanian mereka, entah keperluan apa yang menyebabkan mereka senekat itu…… saya hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan kepada mereka.

Di Jalan Daan Mogot, saya kasih briefing terakhir, mereka mengucapkan terima kasih dan langsung lanjutkan perjalanan kamipun berpisah. Saya berputar di putaran pertama yang saya jumpai untuk kembali menuju ke rumah….sambil masih terus berpikir betapa cupunya saya di banding mereka……….

Salam/imam arkan

Ketika Saya merasa Menjadi Biker Cupu

Kamis malam 18 Februari 2010, sekitar jam 20 dengan menunggang Mat Item - Yamaha scorpio ku saya tinggalkan halaman kantor yang berada di kawasan Tanjung Priok untuk pulang menuju rumahku di daerah Pasar Minggu.

Gerimis tipis yang saat itu turun tidak begitu saya pedulikan, saya arahkan mat item menyusuri jalan Yos Sudarso, lalulintas malam itu masih ramai namun lumayan lancar.

Di lampu merah perempatan jl Pemuda – Pramuka, lampu lalulintas menyala merah, sayapun berhenti demikian juga dengan motor2 lain, tiba-tiba boncenger di motor sebelah bertanya pada saya.

“Pak, jalan ke Merak lewat mana ya?”

“Heh, ke Merak?” tanya saya balik, seakan tidak percaya, sambil memperhatikan sipenanya yang ternyata seorang perempuan berperawakan agak gemuk.

“Iya pak ke Merak” katanya meyakinkan saya.

“Wah masih jauh dari sini mbak – ya udah ikuti saya dulu deh nanti didepan saya jelasin” kata saya soalnya lampu sudah menyala hijau.

Motor si gemuk inipun mengikuti motor saya membelok ke jalan pramuka. Diujung jalan pramuka kami berhenti si gemuk ini turun sementara ridernya tetep menunggu di motor.

Kini saya lebih bisa memperhatikan lagi sosok perempuan ini, badanya tidak terlalu tinggi ya rata2 tinggi perempuan Indonesia lah, perawakannya agak gemuk usianya mungkin belum 30 tahun, pakaiannya bersahaja, celana jin ¾ tanpa sepatu (pakai sandal), mengenakan jacket anak muda yang ada kupluknya, dan pake helm half face. Jelas perempuan ini bukan anak motor, ataupun anggota klub motor yang sedang turing.

“Memangnya mau ke Merak ya mbak?” tanya saya kembali meyakinkan akan tujuan mereka.

“iya pak” jawab nya.

“Ya udah kamu nanti dari sini lurus aja terus cari jalan yang arah Grogol, terus ke Tangerang”

“Kamu tau Grogol kan?” tanya saya

“Ndak Pak, saya ngak tau, saya baru nyampe dari Blitar” katanya….

“Hah Blitar?... Mas yang itu tau nggak Grogol?” kata saya sambil menunjuk si Rider yang ada diatas motor (saya berpikir si gemuk ini orang Blitar dan diboncengin sama si Rider ini yang orang Jakarta).

“Dia Ndak tau juga pak, dia bareng-bareng saya dari Blitar, dan dia juga perempuan” kata si Gemuk menjelaskan…..(si rider ini pake helm full face makanya saya nggak tau kalo dia perempuan)

“Hah jadi kalian dari Blitar?.....trus tadi darimana?”….tanya saya dan makin kaget

“Iya kami tadi dari Tanjung Priok mau nyari kapal ke Lampung, tapi nggak ada dan disarankan ke Merak aja” katanya menjelaskan…….

Ampun deh dua perempuan ini nekat banget, dari Blitar mau ke Lampung nyari kapal ferry nya di Tanjung Priok…….huehehe dapet info darimana dia – dan sekarang mau menuju ke merak…..luar biasa.

Saya sudah paham duduk perkaranya sekarang……

“Mbak, Merak itu jauh lho masih 120km lagi sekarang jam 20.30 paling cepet si mbak sampe sana jam 12 malem. Gimana berani mbak?” tanya saya menjelaskan.

“Iya berani pak..” jawab si gemuk semangat, optimis dan tanpa keraguan sedikitpun……

Seandainya dia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, saya sudah siap menawarkan untuk mampir ke rumah dan istirahat saja dulu dirumah saya, baru besoknya melanjutkan perjalanan.

Tapi karena mereka begitu ingin untuk melanjutkan perjalanan akhirnya saya putuskan untuk memandu dia sampai ke Daan Mogot (gila apa kalo saya biarin jalan sendirian – bisa2 nggak keluar-keluar dari Jakarta mereka), kalo saya lepas di Daan Mogot nanti mereka bisa tinggal lurus saja ke Tangerang dan lanjut ke Merak.

Si gemuk yang tampaknya menjadi leadernya kini mengambil alih stang kemudi, dengan lincah mengikuti saya dan mat item menerobos ramainya lalulintas malam itu.

Kami sempet berhenti dulu untuk mengenakan jas hujan karena gerimisnya kini berubah menjadi hujan (tapi tidak lebat), waktu berhenti ini saya makin yakin mereka bukan anak club motor – saya perhatikan motornya Suzuki Smash (no pol AG4854KB) spionnya hanya ada sebelah kanan, jas hujan yang dipakai ponco ini pun cuma satu buah….kalo anak club motor yg lagi turing pastinya kelengkapan motor kumplit, plus jas hujan tipe dua pieces bukan ponco.

Pas berhenti pake jas hujan inilah baru saya sempet nanya nama mereka – Si gemuk ini bernama Tata, sementara temannya yang bertubuh langsing dan lebih tinggi ber nama Novi……

Saya tanya kapan mereka berangkat dari Blitar, kemarin malam kata mereka….bawa motornya gantian katanya.

Wah bener2 berani luar biasa dua perempuan ini, saya langsung merasa jadi Biker Cupu didepan mereka, turing2 saya semuanya gak ada apa2nya. Kalo saya kan turing dipersiapkan dengan matang cari info di internet dulu, liat petanya, kalo rutenya belum dikenal pasti aku libas siang hari dlsbnya, Nah mereka ini lebih edan ternyata jalan malem Blitar – Jakarta sendirian pula, terus lanjut jalan malem lagi Jakarta – Lampung. Nggak bawa peta….blom pernah ke Jakarta….bener-bener biker pemberani.

Weeks bandingan dengan anak club motor….jalan rame-rame, bawa peta, bawa gps plus pake rakom (radio komunikasi), ditiap kota yang dituju disambut dan diantar club lokal setempat…hehehe

Saya angkat topi deh buat keberanian mereka, entah keperluan apa yang menyebabkan mereka senekat itu…… saya hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan kepada mereka.

Di Jalan Daan Mogot, saya kasih briefing terakhir, mereka mengucapkan terima kasih dan langsung lanjutkan perjalanan kamipun berpisah. Saya berputar di putaran pertama yang saya jumpai untuk kembali menuju ke rumah….sambil masih terus berpikir betapa cupunya saya di banding mereka……….

Salam/imam arkan

Wednesday, February 17, 2010

Bekal

Kemarin sore karena badan tidak fit saya pulang on time dari kantor, Alhamdulillah tiba dirumah pas adzan magrib berkumandang, setelah memasukan motor ke halaman rumah saya bergegas ke masjid tanpa sempat berganti pakaian hanya sempat menyambar payung saja....maklum mendung tebal bergelayut dilangit siap menghunjamkan titik air hujan ke bumi.

Dijalan menuju mesjid saya bersua dengan jiran saya seorang Bapak-bapak yang juga akan ke mesjid.

"Asalamualaikum..." ujarnya sambil menyalami tangan saya.
"Waalaikumsalam..." jawab saya sambil menjabat tangannya.
"Udah pulang Mam?..." tanyanya lagi (biasanya saya memang tidak pernah pulang sore, selalu malam)
"Iya pak, ini baru nyampe dari kantor terus langsung mau ke mesjid" kata saya menjelaskan, sambil berjalan di sisinya.
"Iya baguslah, kita ini kan lagi ngumpulin bekal" katanya ringan, "Apalagi disana nanti gak ada yang bisa kita sogok pake duit kita Mam, kalo kita nggak punya amalan, terus bekal apa nanti yang kita bawa coba?" ujarnya lagi setengah bercanda....

Walaupun disampaikan dengan bercanda, namun sangat mengena di hati saya...."Bener juga apa yang dikatakan dia, kita di dunia inikan seharusnya mengumpulkan bekal untuk akherat bukan untuk menumpuk harta dunia, memangnya kita bakalan selamanya hidup didunia? tujuan akhirnya kan akherat, final destination nya akherat bukan dunia....."

Jadi sudahkah kita disela-sela kesibukan kita bekerja memenuhi kebutuhan hidup (untuk yg hidupnya msh pas-pasan) ataupun sibuk untuk menumpuk harta (untuk yg hidupnya sudah mapan), ataupun disela-sela kesibukan kita menuntut ilmu (buat yg masih kuliah, atau belajar) apakah sudah kita upayakan untuk mengumpulkan bekal untuk di akherat kelak.

Jika jawabnya "Belum", maka sebaiknya mulailah dari sekarang.....mumpung masih diberi umur oleh NYA.

Saturday, February 06, 2010

Orang Yang Tidak Dipedulikan Allah

Assalamualaikum wr.wb
Dalam Hadis Shahih Muslim terdapat tiga hadis mengenai orang yang tidak dipedulikan Allah, namun disini saya sampaikan dua buah saja
hadis no 83
Dari Abu Dzar r.a , dari Nabi SAW, sabdanya "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat. Mereka itu ialah : (1) Orang yang suka memberi, tapi suka menyebut-nyebut pemberiannya. (2) Orang yang menawar-nawarkan dagangannya dengan sumpah palsu. (3) Orang yang suka berpakaian berjela-jela* karena sangat luasnya."
*) berpakaian sampai menyapu tanah untuk menunjukkan dirinya orang kaya atau bangsawan tinggi.
hadis no 84
Dari Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah SAW bersabda : "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap kepada mereka, tidak membersihkan mereka daripada dosa, --Kata Mua'wiyah juga tidak akan menengok kepada mereka bahkan mereka mendapat siksa yang pedih : (1) Orang tua yang pezina, (2) Raja (penguasa) yang pembohong, (3) Si miskin yang sombong.
Dikutip dari kitab terjemah hadis Shahih Muslim jilid I hadis no 83 dan 84.
Mudah-mudahan Allah membantu upaya dan ikhtiar kita agar tidak termasuk dalam golongan orang yang tidak dipedulikan Allah tersebut diatas.
salam/imam arkan

Saturday, January 23, 2010

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng – Pamengpeuk. #2-2


Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena harus konsen dan menjaga keseimbangan, tapi sambil ngeliat pemandangan juga hehehe…..; kira-kira dua kilo jalan gak ada perubahan malah makin parah, jadi sempet ragu juga bener nggak sih ini jalannya. Tanya lagi ke penduduk, dijawab bener. Nanya lagi “ini jalannya kayak gini terus ya sampai di Agra Binta?” dijawab “oh nggak pak nanti ada yang bagusnya juga selang seling deh” katanya.

Bagus deh ada harapan jalan bagus, soalnya di pal kilometer tadi disebutkan Agra Binta 34km…..kan kalo 34km ajrut-ajrutan gini bakalan gempor juga kita.
Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan saja paling gigi 1 atau gigi 2 aja, akhirny sekitar 20 km dari Agra Binta jalanan membaik – wuih lega rasanya.

Sepanjang perjalanan Tegal beleud – Agra Binta kontur alam masih sama, perbukitan dan banyak kebun kelapa, jarak antar kampong berjauhan kendaraan yang melintas hanya truck ¾ dan pickup yang mengangkut hasil bumi, angkutan umum tidak terlihat, sepi banget. Lumayan runyam kalo motor ada trouble di ruas ini. Motor sang suhu aja sil shockbrekernya jadi bocor…..tapi masih sanggup melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami tiba di Agra Binta sekitar jam 11.15, kami lanjutkan perjalanan menuju sindang barang yang berjarak 15km dari Agra Binta, kali ini jalanan sudah lebih baik dan terlihat angkutan umum berupa minibus Elf. Namun walaupun jalanan sudah lebih baik untuk mencapai Sindang Barang kami harus melalui 2 buah jembatan darurat, berupa jembatan baley yang lantainya berupa balok papan kayu……

Bener-bener deh kami seperti habis menembus daerah terisolir saja….padahal ini dipulau jawa lho.

Adzan dzuhur terdengar ketika kami memasuki Sindang Barang – dan ternyata tidak ada pom bensin di Sindang Barang ini padahal kota ini termasuk kota yang cukup ramai. Bro Arif terpaksa mengisi bensin eceran untuk bisa melanjutkan perjalanan, sedangkan bensin mat item masih cukup untuk mencapai pamengpeuk.

Saya sudah lega bisa mencapai Sindang Barang ini dengan selamat, karena dari Sindang Barang ke arah Pamengpeuk sebagaian besar saya sudah pernah lewati, tinggal sepotong saja yaitu dari Cidaun/Cijayanti ke Ranca Buaya itu saja yang belum saya lewati. Artinya rute selanjutnya saya sudah familiar.

Kami lanjutkan perjalanan menuju Cidaun (sekitar 25km dari Sindang Barang) – saya pernah ke Cidaun Maret 2009 kemarin bersama bro Djafron dan bro Wawan, kali ini saya lihat disamping jembatan darurat yang menuju cidaun sudah dibangun jembatan baru……baguslah sudah ada perbaikan, juga sebagian lubang saya liat sudah ditambal.

Dicidaun ini kami mampir dulu ke pantai Cijayanti – buat santap siang dan istirahat saat itu jam sudah menunjukan pukul 13.00. Santap siangnya nikmat banget pake ikan bawal bakar yang masih seger dan daging semua (bawal fillet?) sampai nggak abis tuh ikan bakarnya udah kekenyangan….yummy banget bo.

Menjelang jam 15 perjalanan kami lanjutkan dalam cuaca hujan, antara Cijayanti – Rancabuaya (15km) ini ada ruas yang masih rusak kira-kira sepanjang 2 kilo meter adanya selepas Cijayanti selanjutnya jalanan bagus.

Sayangnya saat itu hujan lebat, kalo tidak kami akan lebih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan alam kepada kita, kami berada diperbukitan dimana disebelah kanan ada persawahan hijau yang membentang dan berbatasan dengan laut/pantai, disebelah kiri kami perbukitan terbuka yang digunakan berladang oleh penduduk. Sangat indah – ditempat-tempat yang tidak digarap manusia perbukitannya masih berupa hutan2 kecil penuh pepohonan.

Setibanya di persilangan jalan Ranca Buaya, hujan semakin deras kami putuskan untuk lanjut ke Pamengpeuk dan tidak mampir ke pantai Ranca Buaya. Jarak Ranca Buaya – Pamengpeuk sekitar 33km sekitar tiga kilometer selepas persilangan jalan tadi…..hujan semakin menggila, kini disertai angin kencang sementara kami berada diperbukitan yang terbuka, akhirnya ketika kami melihat ada sebuah masjid cantik di kanan jalan kami putuskan berhenti.

Mesjid ini cantik karena terletak diatas perbukitan, dari teras disebelah kanan kami bisa melihat hamparan sawah dan tepi laut. Bangunan mesjid ini masih baru dan arsitekturnyapun modern, jadinya betah deh nunggu hujan disini. Kami sholat dzuhur dan ashar terus istirahat, selain kami juga ada pengendara2 lain yang berteduh disini.

Sekitar pukul 16.30 hujan reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju pamengpeuk, sepanjang jalan kami masih disuguhi pemandangan indah sampai akhirnya kami tiba disatu-satunya pom bensin di Pamengpeuk pada pukul 17.50 setelah sempet mampir ke depan gerbang pusat peluncuran roket LAPAN untuk ngambil foto bro Arif sebagai bukti sudah nyampe Pamengpeuk.

Pom bensin ini ternyata tidak buka 24 jam, jam 18.00 dia akan tutup jadi kami termasuk pelanggan terakhir hari ini, di pom bensin ini kami lepas jas hujan dan bersih2 terus sholat magrib sekalian. Tadinya kami ingin lanjut ke Garut (90km dari pamengpeuk) tapi melihat mendung mulai datang dan badan sudah lelah akhirnya kami putuskan untuk menginap di Pamengpeuk saja……

Setelah makan malam kami langsung istirahat di penginapan dan langsung tertidur kelelahan, sepertinya semua makanan yang kita makan hari itu tidak ada yang tersisa jadi daging deh, semua terkonversi menjadi energy yang kita pake hari itu…..hehehehe

Minggu, 27 Desember 2009
Etappe III : Pamengpeuk – Garut – Cijapati – Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Jakarta = 329km
Udara cerah Pamengpeuk di minggu pagi ini mengiringi kami di etappe terakhir touring kami, kami start dari penginapan sekitar pukul 07.00 dan langsung menuju ke arah Cikajang – Garut. Ruas Pemengpeuk – Cikajang – Garut ini buat saya sudah cukup familiar karena saya sudah tiga kali melalui rute ini.

Kondisi rute ini jalanannya baik, beberapa kilometer bahkan sudah ada yang baru diaspal dengan hotmix, tidak terlalu lebar dan intensitas kendaraannya cukup ramai. Sedangkan konturnya sendiri berada didaerah perbukitan sehingga kadang dijumpai tanjakan dan turunan. Kelokan-kelokan banyak sekali karena jalan ini mengikuti atau melipir di pinggang bukit, sehingga biasanya disalah satu sisi adalah dinding bukit dan disebelahnya lembah atau jurang.
Pemandangannya yang jelas cantik dan tidak membosankan, ada perkebunan teh yang menutupi perbukitan seperti karpet hijau tebal, ada bukit batu yg menjulang, pokoknya enak dilihat deh.

Perjalanan sangat lancar karena hari masih pagi, kami juga sering berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut orang yang kelihatannya akan rekreasi ke pantai-pantai yang ada di Pamengpeuk.

Menjelang pukul 09.30 kami sudah tiba di Garut, bro Asep mampir sebentar ke tempat penjualan oleh2. Digarut inilah baru kami bertemu dengan biker2 lain yang sedang turing – maklum garut juga salah satu daerah tujuan turing……hehehe berbeda banget dengan saat kami melintas di rute Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang, tidak satupun rombongan biker yg berpapasan….hihihi (kayaknya sih emang kita yang nyeleneh cari rutenya hahahaha).

Dari Garut kita lanjut ke arah Bandung, tapi kali ini kita tidak lewat Nagrek, tapi mencoba jalur alternative lewat Cijapati. Ternyata jalur alternative ini memang menantang, tanjakannya gila-gilaan hehehe……dan pemandangannya pun cukup indah. Sayang di ujungnya (Majalaya – Dayeuhkolot) masih sering macet.

Lepas dari Bandung kami sempat makan siang di Cimahi, di Padalarang rante motor sang suhu putus – untung deket bengkel jadi bisa langsung ganti rante.

Selanjutnya perjalanan lancar di Cianjur hujan lebat, Puncak lancar karena satu arah dan kering(saat itu jam 16.00), tapi di Cibulan hujan lagi terus sampai Bogor dan lalulintas menjadi padat merayap untungnya motor masih bisa nyelap nyelip diantara celah mobil yang ada……

Depok kami lewati dan kami berpisah di bawah flyover TB Simatupang bro Arif lurus ke arah pancoran sedangkan saya berbelok ke kanan menuju Poltangan. Saya tiba dihalaman rumah pukul 19.10 hari minggu tangga 27 Desember 2009 dengan selamat setelah menempuh total 730km.

Alhamdulillah selesai juga selusur jalur pantai Selatan ini di tahun 2009, Alhamdulillah sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelusuri jalan mulai dari Muara Binangeun sampai Pangandaran.

Sampai jumpa dalam catatan perjalan saya yang lain.
Imam arkananto
Samudera Indonesia Motor Community (SIMC) – 018
Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) – 170
Skywave Owner Club (SOC) - 157
Data angka :
total kilometer 730km
total biaya bensin Rp 102.500,- (full to full)
konsumsi bensin = 1 : 32km
Penginapan di Ujung Genteng = Rp 250.000,-
Penginapan di Pamengpeuk = Rp 100.000,-

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng - Pamengpeuk #1-2

Memang tidak mudah mencari teman untuk diajak turing dengan motor khususnya untuk menjelajah rute-rute yang tidak lazim dilalui biker. Tapi orang sering lupa dari perjalanan ke tempat2 tidak lazim inilah tempat-tempat indah penuh potensi wisata ditemukan dan kemudian dipopulerkan.
Mungkin empat atau lima tahun lalu orang tidak banyak tau tentang ujung genteng ataupun sawarna misalnya, karena prasarana jalannya yang masih jelek, medannya yang menguras tenaga ataupun akomodasinya yg terbatas dlsbnya pokoknya lebih banyak tantangannya sehingga orang berpikir dua kali untuk mengunjunginya. Kini setelah banyak orang berkunjung ke sana dan bercerita tentang keindahan atau keunikan tempat tersebut, maka tempat itu sekarang menjadi populer. Saat ini hampir semua komunitas biker mungkin mencita-citakan untuk bisa mengunjungi kedua tempat ini, dengan kata lain kedua tempat ini kini menjadi target tujuan turing.
Demikian juga ketika saya mencari teman untuk diajak turing menuntaskan obsesi saya untuk menyelusuri jalur pantai selatan Jawa Barat ini, cukup sulit untuk mendapatkannya sebagian karena memang sudah ada jadwal sendiri, sebagian lagi karena berpikir dua kali dengan medan yang akan dihadapi.
Untungnya H-2 menjelang keberangkatan seorang teman bersedia ikut – teman ini satu angkatan saat kami kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dulu (stan angkatan 82), dan secara kualifikasi dia ini levelnya termasuk suhu secara tahun 1984 dia sudah solo turing Jakarta – Surabaya naik vespa, sekarang ini hobbynya adalah miara motor-motor Honda lawas. Honda CB200, Honda XL, Honda Astrea Prima th89 adalah sejumlah koleksinya.
Bro Arif Septiadi – kita singkat jadi bro Asep demikian nama teman saya tsb dan kali ini dia akan turing dengan Honda astrea prima tahun 1989 nya. Nah kebayangkan saya turing pakai Yamaha Scorpio 225 cc tahun 2005 sementara Bro Asep dgn Astrea Prima 100cc th 1989 so pasti saya yang harus menyesuaikan irama dan kecepatan dalam turing kali ini
Jalur pantai selatan jawa bagian barat yang saya maksud adalah jalan yang membentang mulai dari Muara Binangeun di Banten Selatan sampai Pangandaran di Selatan Ciamis kira-kira jarak totalnya adalah 566km.
Karena jaraknya yang cukup jauh saya tidak menyelesaikannya dalam satu kali perjalanan, tetapi saya penggal dalam empat ruas utama, dan pelaksanaannya pun mengikuti hari libur ataupun cuti yang tersedia. Apalagi saya selalu menempatkan rute yg belum saya kenal harus dilalui pada siang hari, sehingga lama perjalanan yang dibutuhkan menjadi lebih panjang.
Adapun ke empat ruas utama tersebut adalah sebagai berikut :
1. Muara Binangeun – Bayah – Sawarna – Cisolok – Pelabuhan Ratu = 114km
2. Pelabuhan Ratu – Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng = 103 km
3. Ujung Genteng – Surade – Tegal Beleud – Arga Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188 km
4. Pamengpeuk – Cipatujah – Cikalong – Cijulang – Pangandaran = 161 km
Dari keempat rute tersebut tinggal yang nomor 3 yang belum saya selesaikan rute yang lainnya sudah saya selesaikan dalam waktu yang berbeda-beda bahkan ada yg sampai lebih dari satu kali saya kunjungi, rute pertama diselesaikan agustus 2007 dan oktober 2009, rute nomor dua Maret 2006, Ferbuari 2008 dan Maret 2008, rute nomor empat Agustus 2009.
Rute no 3 baru kesampaian Desember ini tepatnya tanggal 25,26,27 Desember 2009.
Berikut ini ceritanya.
Jum’at 25 Desember 2009
Etappe I : Jakarta – Bogor – Cikidang – Plb Ratu – Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng = 213km
Kami start dari halaman rumah saya di Poltangan jam 07.00 perjalanan lumayan lancar, sampai dengan pertigaan cikidang saya memimpin didepan, namun selanjutnya saya persilahkan suhu Asep memimpin sesuai aturan turing yang lazim motor dengan CC lebih kecil, ataupun yg berboncengan berada di depan…….
Sejak saat itu mat item (Yamaha scorpioku) yang biasanya beringas harus belajar kalem dan santai, menyesuaikan dengan kecepatan motor sang suhu yang di maintain di 50 – 60 kpj. Sebenernya motor sang suhu bisa aja lari sampai 80kpj tapi keliatannya beliau nggak pengen mesin motor kesayangannya rontok hehehe (maklum sdh berumur 20 tahun). Tapi sisi positifnya konsumsi bensin mat item jadi irit 1 lt : 32 km padahal dah pake karbu pe28 biasanya dalem kota Cuma dapet 1 : 26/27.
Sesekali kalo saya pengen merasakan beringasnya mat item…..maka saya jauhkan jarak dengan sang suhu….baru deh digeber mendekat lagi dibelakang motor suhu.
Kondisi jalan Jakarta sampai Pelabuhan Ratu cukup baik, masih bumpy tapi lubang2 sudah berkurang, trek cikidang juga kondisi bagus dan masih menantang untuk dilibas sama yang doyan tikungan2 buat rebahan.
Pukul 09.30 kami sudah tiba di pertigaan Pelabuhan Ratu selanjutnya belok ke kiri mengarah ke jalan raya Sukabumi – Pelabuhan Ratu, Disini sempet berhenti isi perut dulu dan baru lanjut lagi sekitar jam 10.30.
Menjelang masuk kiara dua hujan gerimis mulai turun – tapi karena mendung terlihat tidak merata kami tetep lanjutkan perjalanan tanpa mengenakan jas hujan, sambil kita cari-cari masjid untuk sholat jum’at.
Untunglah ketemu mesjid tepat pukul 11.55 saat hujan semakin deras, jadi sholat jum’at sekalian berteduh. Sholat Jum’at nya rada unik, setelah Adzan jam 12, khotbah disampaikan dalam bahasa Arab singkat dan padat (dan saya gak ngert hehehe) sholat jum’atnya selesai jam 12.15 (cepet banget kan). Terus bilal berdiri dan qamat lagi – imam dan jemaah berdiri dan kemudian sholat 4 rakaat dipimpin imam seperti sholat Dzuhur - unik saya baru tau yg seperti ini……(saya dan bro asep tidak ikut sholat tsb – kita sholat ashar jama taqdim). Sisi baiknya sholat nya cepet sehingga jam 12.30 kita sudah bisa lanjut start lagi hehehe….
Jas hujan terpaksa kami kenakan juga menjelang Jampang Kulon, dikarenakan hujan deras turun dengan lebatnya – saya bersyukur pake sepatu AP boot sehingga kaki dijamin tetep kering…..
Kondisi jalan Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng, cukup baik dalam artian sudah banyak lubang yang ditambal sehingga perjalanan bisa berlangsung cukup lancar tanpa harus meliuk-liuk menghindari lubang.
Di Surade sekarang ini sudah ada 3 buah SPBU, padaha sewaktu kunjungan saya terakhir disini (Maret 2008) baru ada satu SPBU dan itupun sedang dibangun/belum dioperasikan. Pesat sekali perkembangan daerah ini.
Jam 14.00 kami sudah tiba di Ujung Genteng yang saat itu suasananya crowded……meriah, banyak sekali pengunjungnya….hiks ujung genteng tidak seperti dulu lagi, dulu saya senang dengan ketenangannya, sunyi, sepi alami – sekarang terlihat lebih komersial banyak pondok/saung didirikan di tepi pantai.
Bahkan ketika saya mengarahkan motor menuju pantai Cibuaya melalui jalanan tanah (sekarang sudah ada jembatan beton lho – dulu masih batang kelapa, atau malah bisa pilih nyeberang sungai; nggak seru lagi ah sekarang), ternyata di Cibuaya pun ramai bukan main secara ada kemah baksos pramuka se kabupaten sukabumi…….waaks ramai banget, nggak nyaman deh.
Setelah muter2 akhirnya dapet tempat nginep disebuah kamar seadanya dipinggir pantai ujung genteng, sorenya setelah unpacking barang-barang mulai deh saya sounding dan cari info mengenai jalur yang besok harus saya lalui, selain tentunya mempelajari peta yang saya bawa.
Satu info berharga saya peroleh dari tukang ojeg yang tadinya nawarin kita untuk lihat penyu di pangumbahan. Dia pernah naik motor dari Ujung Genteng sampai di Cidaun untuk beli perahu disana, menurut dia jalannya sudah baik, kalo kita berangkat pagi-pagi jam 7 sampai disana sekitar tengah hari sekitar jam 13 an
Info yg berharga; setidaknya saya tau rute tsb bisa ditembus dengan motor, butuh waktu 6 – 7 jam untuk sampai cidaun. Kalo masalah jalannya dia bilang sudah baik saya tidak perhitungkan, karena baik menurut ukuran dia mungkin sekali beda dengan baik menurut kita…..
Malam itu ujung genteng mati lampu…….setelah santap malam….sekitar jam 10. an kami pergi tidur mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan besok……..

Sabtu, 26 Desember 2009
Etappe II : Ujg Genteng – Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188km
Pagi hari sekitar jam 07.00 lebih sedikit diiringi hujan gerimis kami start dari Ujung Genteng untuk melanjutkan etappe II yang merupakan jalur baru atau jalur yang sebagian besar belum saya kenal sama sekali (kecuali mulai Sindang Barang kea rah Pamengpeuk sudah pernah saya lewati).
Untunglah cuaca berpihak pada kami, belum lagi jauh meninggalkan Ujung Genteng, cuaca menjadi cerah, matahari memperlihatkan wajahnya – udara menjadi segar….gabungan antara sisa dinginnya malam dan hangatnya mentari pagi…….Jas Hujan kami lepas dan kami simpan kembali perjalanan dilanjutkan menuju Surade dalam udara yang segar tanpa polusi….
Di Surade kami mengisi bensin full tank, karena tidak tahu apakah dijalan nanti masih ada SPBU lagi, dan ternyata memang benar SPBU baru ada di Pamengpeuk.
Begitu sampai di pertigaan yang ada rambu penunjuk arah Tegal Beleud, Cikaso belok ke kiri, maka kamipun membelok ke kiri mengikuti petunjuk rambu tersebut.
Lebar jalannya sendiri sama seperti lebar jalan Surade – Ujung Genteng, jadi tidak terlalu lebar namun kondisinya lebih jelek 10 km pertama banyak lubang2 walaupun tidak besar dan masih mudah dihindari, barulah setelah memasuki perkebunan Cikaso, jalanan lebih baik berupa hotmix mulus.
Di Cikaso kami melihat ada rombongan orang yang siap-siap hendak berburu, dengan kendaraan jip 4x4 yang diatas atapnya ada kursi tempat sang pemburu membidik buruannya.
Selepas Cikaso suasana jalannya semakin sepi belum tentu lima menit sekali kita papasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, demikian juga angkutan umum saya perhatikan tidak ada yang berpapasan.
Pemandangannya sendiri top markotop deh, kami melewati perkebunan karet, hutan jati dan ladang2 penduduk, kontur alamnya berbukit-bukit, di beberapa tempat dimana kami berada dipunggung bukit yang terbuka kami bisa melihat lembah2 dan bukit2 hijau – cantik sekali.
Setelah sarapan disebuah warung sate beberapa kilometer sebelum Tegal Beleud, akhirnya kami sampai di Tegal Beleud sekitar jam 10.00 setelah berjalan sekitar 39km dari Surade, kami langsung lanjut dan sempet bingung karena rambu penunjuk arah menyebut Agra Binta sebagai kota kecamatan berikutnya…..lho padahal dari kedua peta yang jadi pedoman saya tidak mencantumkan Agra Binta sama sekali, yang ada adalah Rawa Uncal, Ciagra.
Daripada nyasar mendingan tanya penduduk saja, dan memang menurut dia untuk ke sindang barang memang lewat Agra Binta, jadi memang arahnya sudah benar.
Ok, lanjut kalo begitu…. Selepas Tegal Beleud ternyata jalanan semakin parah, sekarang jalanan berupa jalanan aspal yang sudah terkelupas yang tersisa adalah batu-batu fondasi jalan….itupun masih ditambah bergelombang permukaannya….hehehe

Sunday, January 27, 2008

Bang Arief Goes to Asrama


Sudah hampir tiga minggu ini Bang Arief - anakku yang penyandang tuna grahita tinggal di Asrama. Iya Bang Arief tinggal di Asrama tepatnya sejak tanggal 05 Januari 2008 - dan sudah selama itu pula kami tidak mendengar kegaduhan yang selalu dibuatnya. Rumah terasa
sepi......tetangga sebelah-sebelah pun juga bertanya kenapa akhir-akhir ini tidak terdengar kehebohan yang dibuat bang Arief.....

Bang Arief kini tinggal di Asrama SLB Nusantara di daerah Beji - Depok. Untuk tiga bulan pertama ini tidak boleh ditengok - konon ini untuk membentuk kembali kepribadian dan prilaku bang Arief.
Memang prilaku bang Arief akhir-akhir ini semakin tidak terkendali.
Sejak dia Me-merdeka-kan diri di bulan Agustus (baca Merdekanya Bang Arief http://www.imamarkan.multiply
.com/journal/item/33) prilakunya memburuk. Disiplin dan tanggung jawabnya runtuh, prilakunya sesuka hatinya.

Kabur dari sekolah pada saat ulangan umum dianggap biasa olehnya - padahal dulu dia cukup bertanggung jawab, senang mengerjakan PR dlsbnya.

Memecahkan kaca jendela kamarnya dengan sengaja juga dilakukan tanpa rasa bersalah.......Susah sekali menasehatinya, mungkin juga ini karena terbawa masa puber di usianya yang lima belas tahun ini.

Pernah dia pergi ke Muara Karang sendirian walaupun sudah kami larang, tapi nekat pergi. Disana dia ditipu orang, uangnya diambil (tidak banyak sih mungkin sekitar Rp 30 ribuan), beruntung bang Arief masih bisa pulang ke rumah.

Terakhir dia pamit mau berenang, ternyata dia tidak pergi berenang tapi malah ke blok M, beli macem2 (kacamata, jaket, lampu meja dlsbnya) ternyata dia ngambil uang ibunya.....

Melihat kelakuannya yang semakin membahayakan dirinya ataupun orang lain, maka kami sepakat untuk mencarikan asrama buat Bang Arief, agar dia ada kegiatan dan bimbingan sepanjang hari. Tadinya kami berpikir untuk memasukan ke pesantren....tapi pesantren mana yang bisa menerima siswa luar biasa....yang non pesantren aja sulit dicari? ternyata untuk mencari pendidikan berasrama untuk anak dengan kebutuhan khusus sangat sulit di Indonesia ini...(hiks wong pendidikan untuk anak normal aja sekolahannnya banyak yang ambruk....konon lagi untuk yang berkebutuhan khusus....menyedihkan).

Setelah mencoba mencari-cari akhirnya isteri saya menemukan SLB Nusantara ini, kami sepakat untuk menitipkan Arief disini.

Mengajak Arief untuk bisa tinggal di asrama ini pun butuh usaha besar dan negosiasi yang alot, Bang Arief ngotot gak mau tinggal di asrama - reaksi yang wajar sih, anak yang normalpun juga pasti tidak langsung mau jika disuruh tinggal di asrama - akhirnya dengan bujukan dan usaha keras mau juga dia tinggal asrama........

Tiga bulan pertama ini pastilah merupakan masa yang berat....bukan saja buat bang Arief tapi juga buat Saya sekeluarga, berpisah dengan anggota keluarga yang disayangi ternyata bukanlah hal yang mudah.......

Seringkali kami disergap rasa kangen dan rindu yang hebat pada Bang Arief, tapi kami harus tega - kami hanya bisa berdoa kepada Allah semoga bang Arief senang dan gembira di Asrama
sana........

Doa'in bang Arief ya.......................

Monday, September 03, 2007

Merdeka(nya) Bang Arief



Bang Arief, begitulah kami memanggilnya....nama lengkapanya Imam Khairul Arief; arti secara bebasnya adalah Pemimpin yang Baik dan Bijaksana.....; itulah yang kami harapkan dari anak nomor dua kami ini.

Namun Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain - Sewaktu dalam kandungan CMV (Cito Megali Virus) menyerangnya - Bang Arief terlahir sebagai penyandang tuna grahita - IQ nya  dibawah normal, motorik halus nya tidak berkembang baik, bicaranya gagap, sikapnya hiperaktif, kemampuan matematisnya sangat sederhana, prilakunya kadang emosional dan ekspresif.

Bang Arif saat ini (Juli 2007) telah duduk di bangku kelas 3 SMP Luar Biasa (SLB C) "Nur Abadi" usianya yang masuk 15 tahun, menyebabkan dia berada pada masa puber nya (sama seperti remaja normal lainnya, penyandang tuna grahita juga mengalami masa puber) susah sekali mengatur sikapnya.

Entah mengapa tanggal 17 Agustus dipilihnya sebagai hari kemerdekaannya, pagi itu sekitar jam 05.45 dia sudah siap berpakaian seragam sekolahnya - setiap pagi saya selalu mengantarnya ke sekolah dan pulangnya dia naek ojek langganan - begitu saya selesai mandi dan siap mengantarnya ternyata Bang Arif sudah tidak ada. Pintu depan terbuka dan saya longok keluar pintu pagar juga terbuka.....Bang Arif kabur....;

Kamipun panik.... memang sudah lama dia minta pergi ke sekolah sendiri naek angkot; tapi selalu kami larang (siapa juga yg tidak kuatir anak seperti ini berangkat sendirian) dan kami selalu janjikan nanti kalo pas liburan kami akan latih naek angkot. Rupanya hari inilah batas kesabaran dia menanti janji kami......

Isteri saya dapat info dari seorang ibu tetangga bahwa dia  melihat bang Arif berlari dengan seragam sekolah ke ujung jalan besar.....; Saya keluarkan Mat item (scorpio ku) mencoba mencari Bang Arif.....di ujung jalan Poltangan tidak ketemu, ke Arah gedung Antam tidak juga bersua - lanjut ke stasiun KA Lenteng Agung juga tidak tampak; akhirnya saya putuskan ke sekolahnya  di Jagakarsa. Sampai di sekolah yang masih sepi saya lihat bang Arif sedang duduk di bangku panjang di depan kelas......alhamdulillah gumamku.

Dia cengar-cengir melihat saya datang dan berucap "Ayah....berhasil yah, abang berhasil naek angkot ke sekolah".......tanpa rasa salah sedikitpun....huh.....

Itulah awal kemerdekaan bang Arif....... selanjutnya petualangan demi petualanganpun dia mulai.............

Tanggal 18 Agustus dia kabur ke rumah Yangti nya di Tegalan-Matraman, Begitu juga tanggal  21 Agustus berhasil mengelabui tukang ojek langganannya dia kabur ke tempat Yangti nya lagi...
Tanggal 24 Agustus dia kabur lagi tapi gak jelas mau kemana dia - dipergoki isteri saya  yang sedang pulang kantor.
Tanggal 29 Agustus kabur lagi kali ini dia pulang di anter tukang ojek Stasiun Pasar Minggu.

Untuk menghindari hal-hal yg tidak di inginkan kami belikan dia kalung - seperti kalung pasukan Amerika, dengan peneng graviran nama dan alamatnya sebagai bandul kalung tsb.

Tanggal 07 September kabur lagi dia, kali ini dia muncul di Tanjung Priok nyusul ke kantor saya.
Tanggal 08 September lagi-lagi kabur kali ini dia muter2 dulu ke jalan Sabang, mampir ke duta  suara..(beli kaset) dan kemudian muncul di rumah Yangtinya......

Duh....bang Arif kemana lagi kamu akan bertualang nak?......hiks....bisa jadi dia akan muncul di tempat anda.......

Bang Arif semoga Allah SWT selalu melindungimu dimanapun kamu berada - ayahmu tidak akan bisa mendampingimu dalam kehidupanmu selamanya nak.......tapi Allah bisa.

Selamat Merdeka ya nak...........