Saturday, January 23, 2010

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng – Pamengpeuk. #2-2


Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena harus konsen dan menjaga keseimbangan, tapi sambil ngeliat pemandangan juga hehehe…..; kira-kira dua kilo jalan gak ada perubahan malah makin parah, jadi sempet ragu juga bener nggak sih ini jalannya. Tanya lagi ke penduduk, dijawab bener. Nanya lagi “ini jalannya kayak gini terus ya sampai di Agra Binta?” dijawab “oh nggak pak nanti ada yang bagusnya juga selang seling deh” katanya.

Bagus deh ada harapan jalan bagus, soalnya di pal kilometer tadi disebutkan Agra Binta 34km…..kan kalo 34km ajrut-ajrutan gini bakalan gempor juga kita.
Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan saja paling gigi 1 atau gigi 2 aja, akhirny sekitar 20 km dari Agra Binta jalanan membaik – wuih lega rasanya.

Sepanjang perjalanan Tegal beleud – Agra Binta kontur alam masih sama, perbukitan dan banyak kebun kelapa, jarak antar kampong berjauhan kendaraan yang melintas hanya truck ¾ dan pickup yang mengangkut hasil bumi, angkutan umum tidak terlihat, sepi banget. Lumayan runyam kalo motor ada trouble di ruas ini. Motor sang suhu aja sil shockbrekernya jadi bocor…..tapi masih sanggup melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami tiba di Agra Binta sekitar jam 11.15, kami lanjutkan perjalanan menuju sindang barang yang berjarak 15km dari Agra Binta, kali ini jalanan sudah lebih baik dan terlihat angkutan umum berupa minibus Elf. Namun walaupun jalanan sudah lebih baik untuk mencapai Sindang Barang kami harus melalui 2 buah jembatan darurat, berupa jembatan baley yang lantainya berupa balok papan kayu……

Bener-bener deh kami seperti habis menembus daerah terisolir saja….padahal ini dipulau jawa lho.

Adzan dzuhur terdengar ketika kami memasuki Sindang Barang – dan ternyata tidak ada pom bensin di Sindang Barang ini padahal kota ini termasuk kota yang cukup ramai. Bro Arif terpaksa mengisi bensin eceran untuk bisa melanjutkan perjalanan, sedangkan bensin mat item masih cukup untuk mencapai pamengpeuk.

Saya sudah lega bisa mencapai Sindang Barang ini dengan selamat, karena dari Sindang Barang ke arah Pamengpeuk sebagaian besar saya sudah pernah lewati, tinggal sepotong saja yaitu dari Cidaun/Cijayanti ke Ranca Buaya itu saja yang belum saya lewati. Artinya rute selanjutnya saya sudah familiar.

Kami lanjutkan perjalanan menuju Cidaun (sekitar 25km dari Sindang Barang) – saya pernah ke Cidaun Maret 2009 kemarin bersama bro Djafron dan bro Wawan, kali ini saya lihat disamping jembatan darurat yang menuju cidaun sudah dibangun jembatan baru……baguslah sudah ada perbaikan, juga sebagian lubang saya liat sudah ditambal.

Dicidaun ini kami mampir dulu ke pantai Cijayanti – buat santap siang dan istirahat saat itu jam sudah menunjukan pukul 13.00. Santap siangnya nikmat banget pake ikan bawal bakar yang masih seger dan daging semua (bawal fillet?) sampai nggak abis tuh ikan bakarnya udah kekenyangan….yummy banget bo.

Menjelang jam 15 perjalanan kami lanjutkan dalam cuaca hujan, antara Cijayanti – Rancabuaya (15km) ini ada ruas yang masih rusak kira-kira sepanjang 2 kilo meter adanya selepas Cijayanti selanjutnya jalanan bagus.

Sayangnya saat itu hujan lebat, kalo tidak kami akan lebih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan alam kepada kita, kami berada diperbukitan dimana disebelah kanan ada persawahan hijau yang membentang dan berbatasan dengan laut/pantai, disebelah kiri kami perbukitan terbuka yang digunakan berladang oleh penduduk. Sangat indah – ditempat-tempat yang tidak digarap manusia perbukitannya masih berupa hutan2 kecil penuh pepohonan.

Setibanya di persilangan jalan Ranca Buaya, hujan semakin deras kami putuskan untuk lanjut ke Pamengpeuk dan tidak mampir ke pantai Ranca Buaya. Jarak Ranca Buaya – Pamengpeuk sekitar 33km sekitar tiga kilometer selepas persilangan jalan tadi…..hujan semakin menggila, kini disertai angin kencang sementara kami berada diperbukitan yang terbuka, akhirnya ketika kami melihat ada sebuah masjid cantik di kanan jalan kami putuskan berhenti.

Mesjid ini cantik karena terletak diatas perbukitan, dari teras disebelah kanan kami bisa melihat hamparan sawah dan tepi laut. Bangunan mesjid ini masih baru dan arsitekturnyapun modern, jadinya betah deh nunggu hujan disini. Kami sholat dzuhur dan ashar terus istirahat, selain kami juga ada pengendara2 lain yang berteduh disini.

Sekitar pukul 16.30 hujan reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju pamengpeuk, sepanjang jalan kami masih disuguhi pemandangan indah sampai akhirnya kami tiba disatu-satunya pom bensin di Pamengpeuk pada pukul 17.50 setelah sempet mampir ke depan gerbang pusat peluncuran roket LAPAN untuk ngambil foto bro Arif sebagai bukti sudah nyampe Pamengpeuk.

Pom bensin ini ternyata tidak buka 24 jam, jam 18.00 dia akan tutup jadi kami termasuk pelanggan terakhir hari ini, di pom bensin ini kami lepas jas hujan dan bersih2 terus sholat magrib sekalian. Tadinya kami ingin lanjut ke Garut (90km dari pamengpeuk) tapi melihat mendung mulai datang dan badan sudah lelah akhirnya kami putuskan untuk menginap di Pamengpeuk saja……

Setelah makan malam kami langsung istirahat di penginapan dan langsung tertidur kelelahan, sepertinya semua makanan yang kita makan hari itu tidak ada yang tersisa jadi daging deh, semua terkonversi menjadi energy yang kita pake hari itu…..hehehehe

Minggu, 27 Desember 2009
Etappe III : Pamengpeuk – Garut – Cijapati – Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Jakarta = 329km
Udara cerah Pamengpeuk di minggu pagi ini mengiringi kami di etappe terakhir touring kami, kami start dari penginapan sekitar pukul 07.00 dan langsung menuju ke arah Cikajang – Garut. Ruas Pemengpeuk – Cikajang – Garut ini buat saya sudah cukup familiar karena saya sudah tiga kali melalui rute ini.

Kondisi rute ini jalanannya baik, beberapa kilometer bahkan sudah ada yang baru diaspal dengan hotmix, tidak terlalu lebar dan intensitas kendaraannya cukup ramai. Sedangkan konturnya sendiri berada didaerah perbukitan sehingga kadang dijumpai tanjakan dan turunan. Kelokan-kelokan banyak sekali karena jalan ini mengikuti atau melipir di pinggang bukit, sehingga biasanya disalah satu sisi adalah dinding bukit dan disebelahnya lembah atau jurang.
Pemandangannya yang jelas cantik dan tidak membosankan, ada perkebunan teh yang menutupi perbukitan seperti karpet hijau tebal, ada bukit batu yg menjulang, pokoknya enak dilihat deh.

Perjalanan sangat lancar karena hari masih pagi, kami juga sering berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut orang yang kelihatannya akan rekreasi ke pantai-pantai yang ada di Pamengpeuk.

Menjelang pukul 09.30 kami sudah tiba di Garut, bro Asep mampir sebentar ke tempat penjualan oleh2. Digarut inilah baru kami bertemu dengan biker2 lain yang sedang turing – maklum garut juga salah satu daerah tujuan turing……hehehe berbeda banget dengan saat kami melintas di rute Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang, tidak satupun rombongan biker yg berpapasan….hihihi (kayaknya sih emang kita yang nyeleneh cari rutenya hahahaha).

Dari Garut kita lanjut ke arah Bandung, tapi kali ini kita tidak lewat Nagrek, tapi mencoba jalur alternative lewat Cijapati. Ternyata jalur alternative ini memang menantang, tanjakannya gila-gilaan hehehe……dan pemandangannya pun cukup indah. Sayang di ujungnya (Majalaya – Dayeuhkolot) masih sering macet.

Lepas dari Bandung kami sempat makan siang di Cimahi, di Padalarang rante motor sang suhu putus – untung deket bengkel jadi bisa langsung ganti rante.

Selanjutnya perjalanan lancar di Cianjur hujan lebat, Puncak lancar karena satu arah dan kering(saat itu jam 16.00), tapi di Cibulan hujan lagi terus sampai Bogor dan lalulintas menjadi padat merayap untungnya motor masih bisa nyelap nyelip diantara celah mobil yang ada……

Depok kami lewati dan kami berpisah di bawah flyover TB Simatupang bro Arif lurus ke arah pancoran sedangkan saya berbelok ke kanan menuju Poltangan. Saya tiba dihalaman rumah pukul 19.10 hari minggu tangga 27 Desember 2009 dengan selamat setelah menempuh total 730km.

Alhamdulillah selesai juga selusur jalur pantai Selatan ini di tahun 2009, Alhamdulillah sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelusuri jalan mulai dari Muara Binangeun sampai Pangandaran.

Sampai jumpa dalam catatan perjalan saya yang lain.
Imam arkananto
Samudera Indonesia Motor Community (SIMC) – 018
Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) – 170
Skywave Owner Club (SOC) - 157
Data angka :
total kilometer 730km
total biaya bensin Rp 102.500,- (full to full)
konsumsi bensin = 1 : 32km
Penginapan di Ujung Genteng = Rp 250.000,-
Penginapan di Pamengpeuk = Rp 100.000,-

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng - Pamengpeuk #1-2

Memang tidak mudah mencari teman untuk diajak turing dengan motor khususnya untuk menjelajah rute-rute yang tidak lazim dilalui biker. Tapi orang sering lupa dari perjalanan ke tempat2 tidak lazim inilah tempat-tempat indah penuh potensi wisata ditemukan dan kemudian dipopulerkan.
Mungkin empat atau lima tahun lalu orang tidak banyak tau tentang ujung genteng ataupun sawarna misalnya, karena prasarana jalannya yang masih jelek, medannya yang menguras tenaga ataupun akomodasinya yg terbatas dlsbnya pokoknya lebih banyak tantangannya sehingga orang berpikir dua kali untuk mengunjunginya. Kini setelah banyak orang berkunjung ke sana dan bercerita tentang keindahan atau keunikan tempat tersebut, maka tempat itu sekarang menjadi populer. Saat ini hampir semua komunitas biker mungkin mencita-citakan untuk bisa mengunjungi kedua tempat ini, dengan kata lain kedua tempat ini kini menjadi target tujuan turing.
Demikian juga ketika saya mencari teman untuk diajak turing menuntaskan obsesi saya untuk menyelusuri jalur pantai selatan Jawa Barat ini, cukup sulit untuk mendapatkannya sebagian karena memang sudah ada jadwal sendiri, sebagian lagi karena berpikir dua kali dengan medan yang akan dihadapi.
Untungnya H-2 menjelang keberangkatan seorang teman bersedia ikut – teman ini satu angkatan saat kami kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dulu (stan angkatan 82), dan secara kualifikasi dia ini levelnya termasuk suhu secara tahun 1984 dia sudah solo turing Jakarta – Surabaya naik vespa, sekarang ini hobbynya adalah miara motor-motor Honda lawas. Honda CB200, Honda XL, Honda Astrea Prima th89 adalah sejumlah koleksinya.
Bro Arif Septiadi – kita singkat jadi bro Asep demikian nama teman saya tsb dan kali ini dia akan turing dengan Honda astrea prima tahun 1989 nya. Nah kebayangkan saya turing pakai Yamaha Scorpio 225 cc tahun 2005 sementara Bro Asep dgn Astrea Prima 100cc th 1989 so pasti saya yang harus menyesuaikan irama dan kecepatan dalam turing kali ini
Jalur pantai selatan jawa bagian barat yang saya maksud adalah jalan yang membentang mulai dari Muara Binangeun di Banten Selatan sampai Pangandaran di Selatan Ciamis kira-kira jarak totalnya adalah 566km.
Karena jaraknya yang cukup jauh saya tidak menyelesaikannya dalam satu kali perjalanan, tetapi saya penggal dalam empat ruas utama, dan pelaksanaannya pun mengikuti hari libur ataupun cuti yang tersedia. Apalagi saya selalu menempatkan rute yg belum saya kenal harus dilalui pada siang hari, sehingga lama perjalanan yang dibutuhkan menjadi lebih panjang.
Adapun ke empat ruas utama tersebut adalah sebagai berikut :
1. Muara Binangeun – Bayah – Sawarna – Cisolok – Pelabuhan Ratu = 114km
2. Pelabuhan Ratu – Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng = 103 km
3. Ujung Genteng – Surade – Tegal Beleud – Arga Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188 km
4. Pamengpeuk – Cipatujah – Cikalong – Cijulang – Pangandaran = 161 km
Dari keempat rute tersebut tinggal yang nomor 3 yang belum saya selesaikan rute yang lainnya sudah saya selesaikan dalam waktu yang berbeda-beda bahkan ada yg sampai lebih dari satu kali saya kunjungi, rute pertama diselesaikan agustus 2007 dan oktober 2009, rute nomor dua Maret 2006, Ferbuari 2008 dan Maret 2008, rute nomor empat Agustus 2009.
Rute no 3 baru kesampaian Desember ini tepatnya tanggal 25,26,27 Desember 2009.
Berikut ini ceritanya.
Jum’at 25 Desember 2009
Etappe I : Jakarta – Bogor – Cikidang – Plb Ratu – Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng = 213km
Kami start dari halaman rumah saya di Poltangan jam 07.00 perjalanan lumayan lancar, sampai dengan pertigaan cikidang saya memimpin didepan, namun selanjutnya saya persilahkan suhu Asep memimpin sesuai aturan turing yang lazim motor dengan CC lebih kecil, ataupun yg berboncengan berada di depan…….
Sejak saat itu mat item (Yamaha scorpioku) yang biasanya beringas harus belajar kalem dan santai, menyesuaikan dengan kecepatan motor sang suhu yang di maintain di 50 – 60 kpj. Sebenernya motor sang suhu bisa aja lari sampai 80kpj tapi keliatannya beliau nggak pengen mesin motor kesayangannya rontok hehehe (maklum sdh berumur 20 tahun). Tapi sisi positifnya konsumsi bensin mat item jadi irit 1 lt : 32 km padahal dah pake karbu pe28 biasanya dalem kota Cuma dapet 1 : 26/27.
Sesekali kalo saya pengen merasakan beringasnya mat item…..maka saya jauhkan jarak dengan sang suhu….baru deh digeber mendekat lagi dibelakang motor suhu.
Kondisi jalan Jakarta sampai Pelabuhan Ratu cukup baik, masih bumpy tapi lubang2 sudah berkurang, trek cikidang juga kondisi bagus dan masih menantang untuk dilibas sama yang doyan tikungan2 buat rebahan.
Pukul 09.30 kami sudah tiba di pertigaan Pelabuhan Ratu selanjutnya belok ke kiri mengarah ke jalan raya Sukabumi – Pelabuhan Ratu, Disini sempet berhenti isi perut dulu dan baru lanjut lagi sekitar jam 10.30.
Menjelang masuk kiara dua hujan gerimis mulai turun – tapi karena mendung terlihat tidak merata kami tetep lanjutkan perjalanan tanpa mengenakan jas hujan, sambil kita cari-cari masjid untuk sholat jum’at.
Untunglah ketemu mesjid tepat pukul 11.55 saat hujan semakin deras, jadi sholat jum’at sekalian berteduh. Sholat Jum’at nya rada unik, setelah Adzan jam 12, khotbah disampaikan dalam bahasa Arab singkat dan padat (dan saya gak ngert hehehe) sholat jum’atnya selesai jam 12.15 (cepet banget kan). Terus bilal berdiri dan qamat lagi – imam dan jemaah berdiri dan kemudian sholat 4 rakaat dipimpin imam seperti sholat Dzuhur - unik saya baru tau yg seperti ini……(saya dan bro asep tidak ikut sholat tsb – kita sholat ashar jama taqdim). Sisi baiknya sholat nya cepet sehingga jam 12.30 kita sudah bisa lanjut start lagi hehehe….
Jas hujan terpaksa kami kenakan juga menjelang Jampang Kulon, dikarenakan hujan deras turun dengan lebatnya – saya bersyukur pake sepatu AP boot sehingga kaki dijamin tetep kering…..
Kondisi jalan Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng, cukup baik dalam artian sudah banyak lubang yang ditambal sehingga perjalanan bisa berlangsung cukup lancar tanpa harus meliuk-liuk menghindari lubang.
Di Surade sekarang ini sudah ada 3 buah SPBU, padaha sewaktu kunjungan saya terakhir disini (Maret 2008) baru ada satu SPBU dan itupun sedang dibangun/belum dioperasikan. Pesat sekali perkembangan daerah ini.
Jam 14.00 kami sudah tiba di Ujung Genteng yang saat itu suasananya crowded……meriah, banyak sekali pengunjungnya….hiks ujung genteng tidak seperti dulu lagi, dulu saya senang dengan ketenangannya, sunyi, sepi alami – sekarang terlihat lebih komersial banyak pondok/saung didirikan di tepi pantai.
Bahkan ketika saya mengarahkan motor menuju pantai Cibuaya melalui jalanan tanah (sekarang sudah ada jembatan beton lho – dulu masih batang kelapa, atau malah bisa pilih nyeberang sungai; nggak seru lagi ah sekarang), ternyata di Cibuaya pun ramai bukan main secara ada kemah baksos pramuka se kabupaten sukabumi…….waaks ramai banget, nggak nyaman deh.
Setelah muter2 akhirnya dapet tempat nginep disebuah kamar seadanya dipinggir pantai ujung genteng, sorenya setelah unpacking barang-barang mulai deh saya sounding dan cari info mengenai jalur yang besok harus saya lalui, selain tentunya mempelajari peta yang saya bawa.
Satu info berharga saya peroleh dari tukang ojeg yang tadinya nawarin kita untuk lihat penyu di pangumbahan. Dia pernah naik motor dari Ujung Genteng sampai di Cidaun untuk beli perahu disana, menurut dia jalannya sudah baik, kalo kita berangkat pagi-pagi jam 7 sampai disana sekitar tengah hari sekitar jam 13 an
Info yg berharga; setidaknya saya tau rute tsb bisa ditembus dengan motor, butuh waktu 6 – 7 jam untuk sampai cidaun. Kalo masalah jalannya dia bilang sudah baik saya tidak perhitungkan, karena baik menurut ukuran dia mungkin sekali beda dengan baik menurut kita…..
Malam itu ujung genteng mati lampu…….setelah santap malam….sekitar jam 10. an kami pergi tidur mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan besok……..

Sabtu, 26 Desember 2009
Etappe II : Ujg Genteng – Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188km
Pagi hari sekitar jam 07.00 lebih sedikit diiringi hujan gerimis kami start dari Ujung Genteng untuk melanjutkan etappe II yang merupakan jalur baru atau jalur yang sebagian besar belum saya kenal sama sekali (kecuali mulai Sindang Barang kea rah Pamengpeuk sudah pernah saya lewati).
Untunglah cuaca berpihak pada kami, belum lagi jauh meninggalkan Ujung Genteng, cuaca menjadi cerah, matahari memperlihatkan wajahnya – udara menjadi segar….gabungan antara sisa dinginnya malam dan hangatnya mentari pagi…….Jas Hujan kami lepas dan kami simpan kembali perjalanan dilanjutkan menuju Surade dalam udara yang segar tanpa polusi….
Di Surade kami mengisi bensin full tank, karena tidak tahu apakah dijalan nanti masih ada SPBU lagi, dan ternyata memang benar SPBU baru ada di Pamengpeuk.
Begitu sampai di pertigaan yang ada rambu penunjuk arah Tegal Beleud, Cikaso belok ke kiri, maka kamipun membelok ke kiri mengikuti petunjuk rambu tersebut.
Lebar jalannya sendiri sama seperti lebar jalan Surade – Ujung Genteng, jadi tidak terlalu lebar namun kondisinya lebih jelek 10 km pertama banyak lubang2 walaupun tidak besar dan masih mudah dihindari, barulah setelah memasuki perkebunan Cikaso, jalanan lebih baik berupa hotmix mulus.
Di Cikaso kami melihat ada rombongan orang yang siap-siap hendak berburu, dengan kendaraan jip 4x4 yang diatas atapnya ada kursi tempat sang pemburu membidik buruannya.
Selepas Cikaso suasana jalannya semakin sepi belum tentu lima menit sekali kita papasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, demikian juga angkutan umum saya perhatikan tidak ada yang berpapasan.
Pemandangannya sendiri top markotop deh, kami melewati perkebunan karet, hutan jati dan ladang2 penduduk, kontur alamnya berbukit-bukit, di beberapa tempat dimana kami berada dipunggung bukit yang terbuka kami bisa melihat lembah2 dan bukit2 hijau – cantik sekali.
Setelah sarapan disebuah warung sate beberapa kilometer sebelum Tegal Beleud, akhirnya kami sampai di Tegal Beleud sekitar jam 10.00 setelah berjalan sekitar 39km dari Surade, kami langsung lanjut dan sempet bingung karena rambu penunjuk arah menyebut Agra Binta sebagai kota kecamatan berikutnya…..lho padahal dari kedua peta yang jadi pedoman saya tidak mencantumkan Agra Binta sama sekali, yang ada adalah Rawa Uncal, Ciagra.
Daripada nyasar mendingan tanya penduduk saja, dan memang menurut dia untuk ke sindang barang memang lewat Agra Binta, jadi memang arahnya sudah benar.
Ok, lanjut kalo begitu…. Selepas Tegal Beleud ternyata jalanan semakin parah, sekarang jalanan berupa jalanan aspal yang sudah terkelupas yang tersisa adalah batu-batu fondasi jalan….itupun masih ditambah bergelombang permukaannya….hehehe

Sunday, January 27, 2008

Bang Arief Goes to Asrama


Sudah hampir tiga minggu ini Bang Arief - anakku yang penyandang tuna grahita tinggal di Asrama. Iya Bang Arief tinggal di Asrama tepatnya sejak tanggal 05 Januari 2008 - dan sudah selama itu pula kami tidak mendengar kegaduhan yang selalu dibuatnya. Rumah terasa
sepi......tetangga sebelah-sebelah pun juga bertanya kenapa akhir-akhir ini tidak terdengar kehebohan yang dibuat bang Arief.....

Bang Arief kini tinggal di Asrama SLB Nusantara di daerah Beji - Depok. Untuk tiga bulan pertama ini tidak boleh ditengok - konon ini untuk membentuk kembali kepribadian dan prilaku bang Arief.
Memang prilaku bang Arief akhir-akhir ini semakin tidak terkendali.
Sejak dia Me-merdeka-kan diri di bulan Agustus (baca Merdekanya Bang Arief http://www.imamarkan.multiply
.com/journal/item/33) prilakunya memburuk. Disiplin dan tanggung jawabnya runtuh, prilakunya sesuka hatinya.

Kabur dari sekolah pada saat ulangan umum dianggap biasa olehnya - padahal dulu dia cukup bertanggung jawab, senang mengerjakan PR dlsbnya.

Memecahkan kaca jendela kamarnya dengan sengaja juga dilakukan tanpa rasa bersalah.......Susah sekali menasehatinya, mungkin juga ini karena terbawa masa puber di usianya yang lima belas tahun ini.

Pernah dia pergi ke Muara Karang sendirian walaupun sudah kami larang, tapi nekat pergi. Disana dia ditipu orang, uangnya diambil (tidak banyak sih mungkin sekitar Rp 30 ribuan), beruntung bang Arief masih bisa pulang ke rumah.

Terakhir dia pamit mau berenang, ternyata dia tidak pergi berenang tapi malah ke blok M, beli macem2 (kacamata, jaket, lampu meja dlsbnya) ternyata dia ngambil uang ibunya.....

Melihat kelakuannya yang semakin membahayakan dirinya ataupun orang lain, maka kami sepakat untuk mencarikan asrama buat Bang Arief, agar dia ada kegiatan dan bimbingan sepanjang hari. Tadinya kami berpikir untuk memasukan ke pesantren....tapi pesantren mana yang bisa menerima siswa luar biasa....yang non pesantren aja sulit dicari? ternyata untuk mencari pendidikan berasrama untuk anak dengan kebutuhan khusus sangat sulit di Indonesia ini...(hiks wong pendidikan untuk anak normal aja sekolahannnya banyak yang ambruk....konon lagi untuk yang berkebutuhan khusus....menyedihkan).

Setelah mencoba mencari-cari akhirnya isteri saya menemukan SLB Nusantara ini, kami sepakat untuk menitipkan Arief disini.

Mengajak Arief untuk bisa tinggal di asrama ini pun butuh usaha besar dan negosiasi yang alot, Bang Arief ngotot gak mau tinggal di asrama - reaksi yang wajar sih, anak yang normalpun juga pasti tidak langsung mau jika disuruh tinggal di asrama - akhirnya dengan bujukan dan usaha keras mau juga dia tinggal asrama........

Tiga bulan pertama ini pastilah merupakan masa yang berat....bukan saja buat bang Arief tapi juga buat Saya sekeluarga, berpisah dengan anggota keluarga yang disayangi ternyata bukanlah hal yang mudah.......

Seringkali kami disergap rasa kangen dan rindu yang hebat pada Bang Arief, tapi kami harus tega - kami hanya bisa berdoa kepada Allah semoga bang Arief senang dan gembira di Asrama
sana........

Doa'in bang Arief ya.......................

Monday, September 03, 2007

Merdeka(nya) Bang Arief



Bang Arief, begitulah kami memanggilnya....nama lengkapanya Imam Khairul Arief; arti secara bebasnya adalah Pemimpin yang Baik dan Bijaksana.....; itulah yang kami harapkan dari anak nomor dua kami ini.

Namun Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain - Sewaktu dalam kandungan CMV (Cito Megali Virus) menyerangnya - Bang Arief terlahir sebagai penyandang tuna grahita - IQ nya  dibawah normal, motorik halus nya tidak berkembang baik, bicaranya gagap, sikapnya hiperaktif, kemampuan matematisnya sangat sederhana, prilakunya kadang emosional dan ekspresif.

Bang Arif saat ini (Juli 2007) telah duduk di bangku kelas 3 SMP Luar Biasa (SLB C) "Nur Abadi" usianya yang masuk 15 tahun, menyebabkan dia berada pada masa puber nya (sama seperti remaja normal lainnya, penyandang tuna grahita juga mengalami masa puber) susah sekali mengatur sikapnya.

Entah mengapa tanggal 17 Agustus dipilihnya sebagai hari kemerdekaannya, pagi itu sekitar jam 05.45 dia sudah siap berpakaian seragam sekolahnya - setiap pagi saya selalu mengantarnya ke sekolah dan pulangnya dia naek ojek langganan - begitu saya selesai mandi dan siap mengantarnya ternyata Bang Arif sudah tidak ada. Pintu depan terbuka dan saya longok keluar pintu pagar juga terbuka.....Bang Arif kabur....;

Kamipun panik.... memang sudah lama dia minta pergi ke sekolah sendiri naek angkot; tapi selalu kami larang (siapa juga yg tidak kuatir anak seperti ini berangkat sendirian) dan kami selalu janjikan nanti kalo pas liburan kami akan latih naek angkot. Rupanya hari inilah batas kesabaran dia menanti janji kami......

Isteri saya dapat info dari seorang ibu tetangga bahwa dia  melihat bang Arif berlari dengan seragam sekolah ke ujung jalan besar.....; Saya keluarkan Mat item (scorpio ku) mencoba mencari Bang Arif.....di ujung jalan Poltangan tidak ketemu, ke Arah gedung Antam tidak juga bersua - lanjut ke stasiun KA Lenteng Agung juga tidak tampak; akhirnya saya putuskan ke sekolahnya  di Jagakarsa. Sampai di sekolah yang masih sepi saya lihat bang Arif sedang duduk di bangku panjang di depan kelas......alhamdulillah gumamku.

Dia cengar-cengir melihat saya datang dan berucap "Ayah....berhasil yah, abang berhasil naek angkot ke sekolah".......tanpa rasa salah sedikitpun....huh.....

Itulah awal kemerdekaan bang Arif....... selanjutnya petualangan demi petualanganpun dia mulai.............

Tanggal 18 Agustus dia kabur ke rumah Yangti nya di Tegalan-Matraman, Begitu juga tanggal  21 Agustus berhasil mengelabui tukang ojek langganannya dia kabur ke tempat Yangti nya lagi...
Tanggal 24 Agustus dia kabur lagi tapi gak jelas mau kemana dia - dipergoki isteri saya  yang sedang pulang kantor.
Tanggal 29 Agustus kabur lagi kali ini dia pulang di anter tukang ojek Stasiun Pasar Minggu.

Untuk menghindari hal-hal yg tidak di inginkan kami belikan dia kalung - seperti kalung pasukan Amerika, dengan peneng graviran nama dan alamatnya sebagai bandul kalung tsb.

Tanggal 07 September kabur lagi dia, kali ini dia muncul di Tanjung Priok nyusul ke kantor saya.
Tanggal 08 September lagi-lagi kabur kali ini dia muter2 dulu ke jalan Sabang, mampir ke duta  suara..(beli kaset) dan kemudian muncul di rumah Yangtinya......

Duh....bang Arif kemana lagi kamu akan bertualang nak?......hiks....bisa jadi dia akan muncul di tempat anda.......

Bang Arif semoga Allah SWT selalu melindungimu dimanapun kamu berada - ayahmu tidak akan bisa mendampingimu dalam kehidupanmu selamanya nak.......tapi Allah bisa.

Selamat Merdeka ya nak...........

Friday, December 29, 2006

Mount Ijen Touring Report #6


Etappe VI : Malang – Blitar – Ponorogo – Solo – Semarang – Batang = 485 km

Jum'at 14 Juli 2006.

Jum'at pagi setelah sarapan bersama keluarga Dik Tjuk, saya pun segera menyiapkan mat item, oli saya tambahkan lagi, side bag saya pasang, sekarang bahkan diatas tangki saya letakan kotak sepatu berisi safety shoes saya yang masih basah tentunya lagi-lagi menggunakan cargo net sebagai pengikatnya, ternyata sungguh bermanfaat cargo net yang selalu saya sungkupkan ke tangki mat item ini.

Bill hotel segera saya selesaikan, dan beruntungnya ternyata Hotel Margo Suko ini melayani pembayaran dengan credit card, jadi lumayanlah bisa menghemat uang kas ditangan, hehehe padahal rate kamarnya cukup murah yaitu Rp 125.000,- semalam setelah diskon, rate aseli sebelum diskon Rp 180.000 kalo gak salah. Cukup murah menurut pendapat saya lho, soalnya kamarnya bersih dan apik, wah bisa jadi tempat nginep andalan nih kalo liburan ke Malang lagi....hehehehe.

Pukul 09.30 saya berpamitan dengan keluarga Dik Tjuk, dan kamipun segera menunggangi mat item. Cuaca pagi itu cukup cerah walaupun disana – sini tampak berawan. Keluar dari kota Malang tidak sulit tinggal menelusuri lagi jalan yang kemarin dengan arah yang berlawanan. Sedikit diluar kota Malang saya sempatkan untuk mengisi Bensin, saya minta petugas pom bensin untuk mengisi Full Tank, ternyata butuh Rp 33.000,- untuk mengisi penuh tangki besin mat item.

Malang – Blitar berjarak sekitar 77km, jalan menuju Blitar ini cukup baik, lebar dan mulus, suasananyapun cukup ramai, seperti umumnya jalan di jalur selatan pulau jawa jalanan menuju blitar ini juga berkelok-kelok dan naik turun, karena memang sebagian besar daerah selatan jawa adalah perbukitan atau dataran tinggi. Namun kelok2an dan suasananya kali ini tidak seperti jalur Lumajang – Malang kemarin. Satu lagi ciri khas jalur selatan pulau jawa ini adalah seramai-ramainya jalur selatan tetap saja tidak seramai jalur di Pantura, mungkin hal ini disebabkan juga karena jarak satu kota dengan kota lainnya tidak terlalu rapat.

Dengan kondisi yang demikian maka di jalur selatan ini lebih memungkinkan untuk mempertahankan kecepatan pada tingkat tertentu lebih lama – atau tingkat kecepatan konstan lebih lama. Jadi walaupun sulit untuk mengembangkan top speed karena jalurnya yang berkelok-kelok, namun jalur selatan tingkat hambatannya lebih sedikit, alhasil kadang waktu tempuh bisa lebih cepat. Lain dengan jalur pantura, yang kadang kita bisa menggapai top speed di 110 – 120 kpj, tapi setelah itu harus bermacet ria karena ketemu pasar tumpah, atau terhadang oleh truk yang berjalan lambat.

Mat item biasa saya pacu melalui jalur selatan ini di kecepatan 80kpj, tapi jika pas jalur memungkinkan, top speed hanya bisa mentok di 100 kpj, sebelum kemudian harus mengurangi kecepatan karena muncul kelokan berikutnya.

Blitar ternyata bisa kami lalui lebih cepat dari yang saya bayangkan, tapi sebelum sampai di Blitar kami melewati kota Wlingi disini terdapat bendungan Ir Sutami (waduk karang kates?), fisik bendungan bisa terlihat dari jalan raya. Sayangnya saya tidak sempat mengambil fotonya karena padahal pemandangannya lumayan cantik, mengingatkan saya pada bendungan Jatiluhur di Purwakarta.

Ketika mengarah keluar kota Blitar ada papan penunjuk jalan menuju makam Proklamator Indonesia – Presiden Pertama Indonesia Ir Soekarno, sayangnya karena Arif sudah pengen pulang dan tidak mau saya ajak untuk mampir ke sana jadi saya tidak mengunjungi makam sang Proklamator ini. Padahal pengen juga tahu seperti apa sih makamnya.

Alhasil kami teruskan perjalanan meninggalkan Blitar mengarah ke barat, dan karena situasi jalan seperti yg saya sampaikan diatas lebih sepi dan minim hambatan maka kota demi kota pun dapat kami lalui dengan cepat. Tulung Agung, Trenggalek lewat sudah, sampai akhirnya kami tiba di Ponorogo – kota Reog (kesenian khas ponorogo) dan juga kota Warok (mungkin semacam jawara kali ya kalo di Jakarta tempo dulu) pada jam 13.30. Karena tuntutan perut dan saya tertarik dengan banyaknya warung nasi gule dan sate kambing, akhirnya saya berhenti disebuah warung kecil disudut jalan yang menjual nasi gule dan sate kambing.

Saya dan arif pesan nasi gule dan masing-masing sepuluh tusuk sate kambing. Tempat gulenya terbuat dari Guci tanah liat, mengingatkan saya pada penjual nasi Gule Tikungan (Gul Tik) di jalan Mahakam – Bulungan dikawasan Blok M. Yang membedakan adalah gule yang di Ponorogo ini rasanya jauh lebih mantap....sedep bumbunya meresap dan seger serta porsinya lebih banyak, udah gitu harganya murah lagi. Sate kambingnya tusukan memang tidak besar-besar tapi dagingnya asli empuk banget. Saking uenaknya saya dan arif nambah lagi nasi gulenya.......Pas bayar kami kaget cuma ditagih Rp 21.500,- saya sampai meyakinkan diri lagi ke si ibu penjual, apa sudah dihitung semua? Katanya sudah dihitung semua, ya sudah saya bayar. Sampai diatas motor ketika melanjutkan perjalanan pada jam 14.00 saya masih kuwatir kalo2 si ibu penjual salah hitung.....; sebagai gantinya ya sudah saya do'a kan saja semoga di kasih rezeki yang banyak dan dagangannya laris manis..............

Country road, take me home...to the place I belong....south Jakarta, country momma....take me home...country road....Bait lagu country road dari John Denver terngiang di pikiranku, ketika menyusuri jalan antara Ponorogo dan Wonogiri........kombinasi pemandangan alam, jalanan yang berkelok-kelok dan kerinduan untuk segera kembali ke rumah cocok sekali dengan bait-bait lagu John Denver tadi......

Mat item terus menelusuri jalan selatan jawa yang indah, melewati wonogiri dan kemudian menuju Solo, jam 16.30 saya sudah tiba di Solo dilanjutkan mencari jalan ke Semarang via Boyolali – Salatiga – Bawen dan Ungaran..... Setelah sedikit berputar-putar dan bertanya akhirnya didapatlah jalan yang benar.

Sedikit diluar Solo sekitar jam 17.00 saya berhenti untuk sholat ashar dan istirahat sejenak, ketika akan melanjutkan perjalanan lagi sekitar pukul 17.30 saya cek kembali ketinggian oli Mat Item, ternyata agak berkurang cukup banyak walaupun masih sedikit dibawah garis atas, agak kuatir juga saya dengan kondisi tersebut karena jam segini sulit untuk cari bengkel yg jual oli Yamalube..(persediaan oli saya sudah habis di Malang).

Akhirnya saya tetap lanjutkan perjalanan dengan harapan dehidrasinya gak bertambah parah setidaknya oli masih ada sampai di Batang nanti (sekitar 90km dari semarang). Jalur Solo – Semarang via Boyolali ini ternyata cukup padat terutama dengan truk-truk Container dan Bus-bus Malam yang mulai keluar (Solo – Jakarta). Truk-truk Container ini kelihatannya membawa peti kemas yang akan dikapalkan dari Semarang jadi muatannya penuh makanya jalannya lambat dan berat.

Jam sudah menunjukan pukul 19.00, ketika saya masuk kota Semarang, sempat terhambat karena macet akibat adanya pembukaan sebuah Vihara di pinggiran kota Semarang, Vihara besar tersebut kelihatan Megah dan penuh dengan cahaya lampu. Untungnya sesudah melewati kemacetan tersebut jalan cukup lancar dan panduan arah menuju keluar semarang cukup terlihat jelas.

Lepas dari kota semarang kami tiba di ruas Kendal – Batang dengan jalan-jalannya yang bagus serta melalui Boulevard Alas Roban. Di ruas ini mat item ber duel dengan bus-bus malam dan truk-truk barang, saya bilang duel karena mat item saya pacu cukup kencang 80 – 100 kpj, menyalip bus-bus malam dan truk kadang juga mobil penumpang. Saya cukup percaya diri melibas jalur Boulevard Alas Roban ini karena tahu kondisinya cukup bagus tidak ada lubang2 dan jalurnya cukup lebar sehingga leluasa untuk menyalip.

Rasanya jalur ini lebih cepat saya tempuh pada malam hari dibandingkan waktu siang hari kemarin ketika saya berangkat. Mungkin hal ini disebabkan pada malam hari tidak ada lagi aktifitas orang dipinggir jalan, kalau siang kan ada aja orang yg bersepeda, atau menyeberang dan lain sebagainya.

Akhirnya jam 21.30 saya tiba di Batang, saya putuskan untuk menginap kembali di Hotel Sendang Sari, walaupun arif tidak setuju, dia pinginnya kita nonstop, langsung saja ke Jakarta. Tadinya saya pingin juga mencoba nonstop, tapi mengingat mat item dalam kondisi dehidrasi dan mempertimbangkan resiko yg mungkin terjadi maka saya putuskan untuk menginap saja.

Kali ini side bag tidak saya turunkan dari mat item, saya hanya ambil pakaian ganti untuk besok pagi saja, seperti biasa saya catet dulu trip meter yg dicapai oleh mat item hari ini, ternyata menunjukan angka 1.913 km....hmm lumayan berarti hari ini saya menempuh 485km, dan berkendaraan selama 12 jam yaitu dari jam 9.30 pagi sampai 21.30, rasanya ini etape terpanjang dari turing saya kali ini......pantes terasa capek banget malam ini.....habis mandi dengan air hangat saya langsung pules.....zzzzzzzzzzzzz...(sedangkan arif masih nonton tv)....

Etape VII : Batang – Pekalongan – Tegal – Cirebon – Bekasi – Jakarta = 378 km

Sabtu, 15 Juli 2006

Pagi itu setelah sholat subuh saya tidur-tiduran lagi, saya tidak terburu-buru karena semua muatan tetap diatas motor tadi malam, jadi tidak perlu ada packing lagi, sehingga saya bisa sedikit santai pagi itu. Apalagi ini adalah etape terakhir saya untuk sampai Jakarta, jadi beban mental semakin ringan dan percaya diri bahwa sore ini sampai di Jakarta makin menggumpal.

Sekitar jam 08.00 sambil menunggu arif selesai mandi saya check kondisi mat item Scorpio ku. Ketika saya coba start....ternyata hanya bunyi trrrrrrttt....trrrrrt, dam lampu netral juga langsung padam......waduh akinya kayaknya tekor, kemarin memang sepanjang siang dan malam lampu menyala terus, kemarin saya berjalan hampir 12 jam dari jam 9.30 sampai 21.30 apakah ini yang menyebabkan aki tekor saya tidak tau pasti. (sepanjang turing ini saya memang menyalakan lampu baik siang maupun malem).

Akhirnya dengan kick starter motor bisa saya hidupkan, sebelumnya saya periksa olinya dan posisinya ditengah-tengah antara batas atas dan bawah. Setelah dipanasi cukup lama, saya coba starter electric....ternyata bisa, hmm mungkin memang akinya yang drop nih, padahal itu aki baru, beli sebelum turing ini cuma karena mungkin dihajar siang malem dan mungkin sistem pengisiannya yang kurang bagus makanya jadi tekor. Sepertinya di Jakarta nanti musti di periksa lagi nih sistem kelistrikannya.

Jam 08.30 setelah semuanya beres kami pun melanjutkan perjalanan, motor keluar halaman hotel dan langsung saya arahkan ke barat menuju pekalongan, pemalang dan selanjutnya Tegal. Aktifitas orang dipagi hari menyebabkan jalanan menjadi ramai sehigga kami tidak bisa mengembangkan kecepatan, barulah setelah lepas dari keramaian kota sedikit demi sedikit kami bisa mengembangkan kecepatan.

Awal-awalnya sih kecepatan masih saya kembangkan di 70-80 kpj, tapi setelah tubuh, mata dan pikiran “tune in” dengan kondisi jalan dan kondisi motor maka kecepatan pun meningkat sampai 80 – 90 kpj. Setelah isi bensin di Tegal dan juga menambahkan oli ke mesin Mat Item, saya lebih percaya diri lagi untuk mengembangkan kecepatan menjadi 90 – 100 kpj.

Walaupun beberapa tempat di jalan pantura ini berlubang namun tidak menghambat saya untuk menjaga kecepatan di 90 kpj keatas. Pukul 11.00 saya sudah tiba di Cirebon (129km dari pekalongan). Lepas dari Cirebon kali ini mat item duel dengan bis-bis dan truk-truk di jalur pantura yg sudah seperti boulevard karena masing2 arah memiliki 2 lajur dengan pemisah jalan ditengahnya. Seperti malam sebelumnya di jalur Kendal – Batang, duel kali ini lebih seru karena dilakukan siang hari sehingga mata lebih awas memperhatikan jalanan.

Luragung Jaya, Dewi Sri, Deddy Jaya dan sejumlah angkutan Elf plus Truk-truk Cargo merupakan lawan duel mat item kali ini.... beberapa mobil penumpang juga sempat duel dengan mat item antara lain sebuah opel Blazer berplat nomor E, sempat beberapa kali saling susul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan motor ketika dia harus tertahan kemacetan akibat jembatan darurat........ mat item melenggang dengan melintas diantara kendaraan yg terjebak macet....hehehe.

Dijalur ini mat item cuma dikalahkan satu motor yaitu ninja KRR, dia juga boncengan tapi larinya kayaknya enteng banget, saya cuma bisa membuntuti sambil mengikuti racing line nya untuk menghindari lubang dan jalan rusak. Kalau pas jalan mulus saya ketinggalan jauh juga sih, tapi mungkin sayanya yang nyalinya kurang cuma manteng di 110 kpj.

Kalau waktu berangkat saya selalu berusaha menjaga kondisi motor, maka pas pulang di etape akhir ini, saya justru agak memforsir mat item, mungkin karena ingin lekas sampai rumah. Jam 13.00 dipemanukan kami berhenti untuk makan siang dan lanjut lagi setengah jam kemudian, dengan riding style masih sama geber abis....hehehe. (Akibat motor digeber terus yg jadi korban adalah side bag saya yang sebelah kanan bolong terbakar kena kenalpot mat item, satu celana juga bolong.....untungnya gak menyala jadi api ya....; saya baru tau setelah sampai rumah ketika bongkar side bag. Padahal turing-turing sebelumnya side bag ini juga kena kenalpot lho tapi gak apa-apa tuh).

Jam 15.30 saya sudah tiba di Bekasi.....asyiik bentar lagi nyampe rumah nih....eh gak taunya bekasi luar biasa macet cet, lepas dari bekasi, sampai di kali malang di pertigaan kranji macet lagi, kendaraan sudah pada untel-untelan saling serobot...huh menyebalkan.

Dengan susah payah mat item bisa keluar dari kesemrawutan di pertigaan tersebut, dan melanjutkan perjalanan.....sebel juga kehilangan banyak waktu karena kemacetan tadi. Lampu merah Halim lewat, Uki juga lewat, belok ke Dewi Sartika kemudian belok kiri lagi ke menyusuri jalan Kalibata.....hih sudah makin dekat rumah......siip deh paling tinggal kemacetan di Pasar Minggu nih. Pasar Minggu ....eh ternyata motor bisa nerobos under pass yg belum selesai, asiik gak jadi kena macet, rel kereta juga pas gak ada kereta lewat...jadi bablas aja.

Dan akhirnya tepat jam 16.35, saya tiba kembali di rumah di Jl Poltangan III/52a, langsung parkir di halaman samping.....Alhamdulillah. Saya segera lihat trip meter mat item, 2.291km. Berarti hari ini saya menyelesaikan 378km (dari Batang – Jakarta) dalam waktu 8 jam (jam 08.30 – 16.35) atau kecepatan rata-rata = 47,25 kpj.....lumayan tidak jelek2 amat.

Alhamdulillah sore itu saya berkumpul lagi bersama keluarga setelah menyelesaikan solo turing saya ke kawah Ijen dengan selamat. Saya tidak tau kapan akan solo turing lagi.....kayaknya sih masih lama deh.....hehehehe

Jakarta, 25 Juli 2006.

Imam Arkananto

MiLYS 170
SIM-C #018

Data dan Statistik :

Total km = 2.291 km (lebih sedikit dari yg direncanakan karena opsi ke Banyuwangi di drop)

tgl Turing 09 Juli – 15 juli 2006

BBM dibutuhkan = Rp 318.000,- setara 70,6 liter

Pemakaian bensin rata-rata = 32 km/liter

Total pengeluaran Rp 1.685.500,- terdiri dari

Hotel Rp 778.000 (7 malam)

Makan Rp 331.500,- (2 orang selama 7 hari)

Lain2 Rp 258.000,- (ganti oli, kampas rem, sepatu, tiket masuk dll)

BBM Rp 318.000,-

(data uang rupiah ini saya buka disini tidak ada maksud apa2 selain agar data ini bisa menjadi acuan bagi siapa saja yg ingin bersolo turing).

Nyungsep = 1 kali, ketika mat item roboh dihutan pinus.

Puji dan Syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan keselamatan kepada saya dan Arif selama melakukan solo Turing ini.

Ucapan Terima Kasih saya sampaikan kepada :

Isteri Tercinta yang telah memberikan dukungan baik materi maupun immateril

Alin dan Aliya atas doa nya.

Kakak dan Adik-adik atas dukungan materi dan doanya

Mas Belo & keluarga atas bantuan penginapan

Mas Oth yg selalu memantau posisi saya

Teman-teman bikers atas doa dan dukungannya

  • Samudera Indonesia Motor Community = SIM-C

  • Samudera Indonesia Bikers = SI Bikers

  • Mailing List Yamaha Scorpio = MiLYS

Pihak-pihak lain yg tidak dapat disebutkan satu per satu

Touring Mount Ijen #5


Ettape V: Lumajang – Malang (128km), Mission Completed

Kamis, 13 Juli 2006

Seperti biasa saya terbangun jam 04.30 karena alarm handphone saya, Lho koq hujan ini kan musim kemarau....batin ku ketika mendengar suara rintik hujan diatas genting, setengah tidak percaya saya lihat dari jendela....ternyata memang hujan.

Hari ini rencananya saya akan menuju Malang, untuk menghadiri resepsi pernikahan keponakan saya. Rencananya saya akan mengambil jalur selatan dengan rute Lumajang – Tempeh – Dampit – Kepanjen – Malang dengan jarak sekitar 128km, rute ini memang pendek tapi tidak bisa dianggap enteng.

Jalur selatan yang satu ini terkenal dengan pemandangan indah dan menggentarkan, jalanannya sempit berkelok-kelok melipir pinggang perbukitan, dengan jurang-jurang sangat dalam siap menerima pengendara yang tidak waspada. Kalau gak salah rute ini melewati daerah yang dinamakan piket nol (CMIIW). (Sebenernya ada beberapa objek yg bagus buat di foto tapi karena hujan jadi gak jadi di foto)

Makanya saya sangat berharap ketika melewati jalur ini cuaca adalah cerah, supaya bisa menikmati pemandangannya dengan santai dan waspada, tapi pagi ini koq ndelalah hujan........ ..

Jam 08.30 semua sudah siap, side bag sudah diatas mat item, demikian juga mat item olinya sudah saya tambahin lagi....tapi hujan tidak kunjung berhenti, akhirnya saya putuskan untuk tidur-tiduran lagi sambil nunggu hujan, apalagi sebenernya capek sisa mendaki kemarin belum tergantikan dengan tidur semalem.

Jam 09.30 hujan masih turun juga, saya coba keluar untuk melihat situasi langit.....walah, awan mendung rata menutup daerah berkilo-kilo meter, tidak ada tanda-tanda bahwa matahari akan menembus pekatnya mendung ini. Akhirnya saya putuskan harus berangkat jam 10.00 baik cuaca hujan ataupun terang, karena kalau tidak segera berangkat maka akan terlalu siang sampai di Malang. Memang sih resepsinya malam jam 19.00 tapi saya tidak mau ambil resiko dengan datang mepet waktu.

Pukul 09.45 tidak ada tanda-tanda hujan berhenti, well saya segera keluarkan jas Hujan......Arif saya bantu mengenakan celana dan baju jas hujannya yang berwarna oranye mirip jack mania, kemudian saya sendiri mengenakan jas hujan kuning dekil saya, ransel eiger saya untungnya memiliki rain cover sendiri sama seperti side bag saya jadi tidak ada masalah untuk menerobos hujan ini.

Ternyata hujan ini memang merata hampir diseluruh Jawa bagian selatan, soalnya setelah pulang turing saya dapet laporan dari Alin (anak saya) yang pada hari yang sama sedang camping di Ujung Genteng dengan teman2nya, ternyata mereka juga mengalami hujan lebat pada hari itu sejak malam harinya malah. Benar-benar fenomena alam yang aneh.

Jam sepuluh tepat saya keluar dari halaman Warung Gunung Wonorejo, menerobos hujan yang masih turun, motor saya arahkan ke kota Lumajang, kemudian sebelum memasuki kota ada simpangan ke kanan mengarah ke Tempeh dan Senduro.

Di Senduro sendiri ada bangunan pura yang cukup besar yg sering kali digunakan upacara umat hindu jawa timur. Suasana puranya yang besar dan dibangun dengan desain mirip pura di Bali, sehingga benar2 menghadirkan suasana Bali di Jawa timur. Selain itu dari jalan yg ke Senduro ini ada jalan juga yang menuju Ranu Pane, dari sana konon bisa mendaki ke Gunung Semeru......Sayangnya saya tidak berkunjung ke kedua tempat itu kali ini, mungkin next turing lah.....ke Gunung Semeru....hehehe

Saya mengambil jalan yang mengarah ke Tempeh. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, saya merasakan ada yang aneh pada Mat Item scorpioku, tiap kali dari gigi 4 pindah ke gigi 5, begitu lepas kopling ada gelaja sedikit tersendat....saya tidak tau apakah aliran bensin yg tertahan atau karena apa. Selain itu pada posisi gigi 5 dan RPM 5000, jika gas saya buka agak cepat timbul suara ngelitik (knocking?), saya juga tidak tahu pasti apakah ini karena bahan bakar yang jelek atau setelan klep yang berubah.

Saya terpaksa mengubah gaya pengoperasian Mat Item, menyesuaikan dengan kondisi yang terjadi, sambil berharap semua gejala tersebut berasal dari bahan bakar yang jelek, bukan dari setelan yang berubah. Terus terang kondisi mat item yang seperti ini membuat saya was-was takut terjadi masalah pada mesin mat item.

Perasaan was-was ini makin bertambah-tambah manakala memasuki wilayah perbukitan, hujan saat itu masih turun tidak terlalu lebat tapi cukup deras juga, suasana agak remang-remang karena mendung yang tebal dan rimbunan pepohonan mungkin lebih tepatnya hutan kali ya, jalanan berliku mengikuti kontur pinggang bukit yang kita lalui, disebelah kiri jurang2 dalam menganga (jurangnya dalem banget sampai2 pohon yg tingginya mungkin 20 – 25 m cuma kelihatan pucuk2nya saja, itupun masih disebelah bawah badan jalan), sedangkan disebelah kanan adalah dinding bukit cukup terjal dengan resiko rawan longsor. Aspal jalannya sih cukup baik tidak mulus sekali tapi yang jelas tidak berlubang-lubang, lebar jalan juga tidak lebar-lebar sekali.

Walaupun ini jalan utama namun frekuensi kendaraan yang melintasinya tidak terlalu tinggi, boleh dibilang sepi dan jauh dari pemukiman (siapa lagi yg mau bermukim dihutan seperti ini hehehe), makanya perasaan was-was muncul, takut ada masalah dijalanan tsb dan sulit mencari pertolongan.

Perasaan mencekam muncul manakala tiba-tiba turun kabut – aseli kabut, gila ini sudah hampir jam 11 siang dan ada kabut muncul didaerah ini,.....bener2 fenomena yang ganjil. Saya saat itu disergap rasa kuatir dan rasa sendirian yang hebat, apalagi arif yg walaupun saat itu hujan dia tertidur kecapekan (terasa dari tubuhnya yang gandoli punggung saya, dan kepalanya yg tergolek di bahu saya).....mana mat item juga dalam kondisi tidak fit......bener-bener was-was; kadang kalau lagi gini nyesel juga ber solo turing.....hehehe.

Akhirnya untuk memperkuat mental kembali, saya berdzikir sepanjang rute ini, bener-bener tulus berdzikir dan berdoa berserah diri kepada Yang Maha Kuasa. Alhamdulillah sepertinya Allah mendengar do'a saya, walaupun tidak ada perubahan dalam kondisi mat item, tapi mat item tetep berjalan menembus hujan dan kelok-kelok perbukitan ini, sampai akhirnya kami tiba di Dampit, wah senengnya ketemu kota yang cukup ramai lagi.

Dampit rupanya kota yang cukup hidup terbukti dari banyaknya angkutan umum Malang – Dampit. Dengan banyaknya angkutan umum ini lalulintas tidak lagi sepi seperti ketika melewati perbukitan tadi, walaupun jalanan masih berkelok-kelok juga, namun jarak antar kampung kini semakin rapat. Jadi walaupun masih hujan juga saya tidak merasa was-was lagi.

Makin mendekati malang suasana lalu lintas semakin padat, Turen sebuah kota kecil lagi kami lewati, kami semakin mendekati tujuan kami yaitu Malang, walaupun masih mendung hujan sekarang tinggal gerimisnya saja, kelihatannya mau berhenti hujannya.

Dalam cuaca mendung - sudah tidak gerimis lagi, kami masuki kota Malang dari arah selatan, saat itu jam menunjukan pukul 13.15. Saya menyusuri jalan raya yang menuju pusat kota. Dari info yg saya peroleh di internet hotel Margo Suko, tempat resepsi pernikahan diadakan terletak di jalan KH Ahmad Dahlan, biasanya dikota besar di jawa kalo nama jalan pake nama pahlawan maka biasanya terletak ditengah kota dan biasanya ngumpul dengan pahlawan-pahlawan lainnya.

Maka sesuai kebiasaan tsb saya menuju pusat kota, saya lihat jalan yg saya susuri adalah Jl Gatot Subroto wah jangan2 deket2 sini nih jalan yg saya cari. Eh....ternyata benar salah satu ujung jalan yg bermuara ke jl Gator Subroto adalah jl Ahmad Dahlan ini, hanya saja dari Gatot Subroto jalan tsb verbodden alias tidak boleh masuk. Jadi saya musti cari jalan masuk dari ujung yg satunya lagi......setelah berputar balik dan juga dituntun sms dari sepupuku akhirnya saya sampai di halaman parkir Hotel Margo Suko pukul 13.30.

Dik Tjuk (Imam Tjuk) sepupuku yang punya hajat menikahkan putrinya, menyambut kedatangan saya, dia baru yakin kalo saya ke Malang naik motor, tadinya dipikirnya hanya guyon saja ketika diberi tahu saya ke Malangnya naik motor. Masih mengenakan jas hujan beberapa Saudara datang menghampiri kami di halaman hotel, Mas Belo (yg punya Warung Gunung Wonorejo) dan Mas Oth (rumahnya tempat saya nginep waktu solo turing ke Surabaya) juga menjumpai saya. Setelah bertegur sapa dan bersalaman dan mereka juga punya acara lain, akhirnya saya bisa memarkir mat item dan membongkar muatan, untuk selanjutnya menuju kamar saya. Trip meter di mat item menunjukan angka 1.428 km.

Hotel Margo Suko tidak begitu besar, tapi saya lihat penataannya cukup asri dan apik. Kamar yang saya tempati berukuran standar tidak terlalu besar, dengan dua tempat tidur yg tertata rapi dan perlengkapan kamar yg fungsional, AC, TV dan yang terpenting buat saya ada kamar mandi dengan air panas – paling nikmat kalo badan capek itu adalah mandi dengan air hangat......(kalo buat arif yg penting ada TV). Setiba dikamar saya rasakan badan saya sangat lelah dan juga kepala saya terasa berat (gejala migrain saya mau muncul nih), jadi setelah mandi dengan air panas dan santap siang, segera saja saya minum obat sakit kepala dan kemudian pergi tidur, saat itu jam 14.30, resepsi nanti jam 19.00, jadi masih ada waktu untuk istirahat......

Jam menunjukkan pukul 17.30 ketika saya sedang menyiapkan pakaian untuk resepsi (baju batik + celana formal....hehehe lucu juga turing koq bawa baju batik), baru saya sadar ketika melihat sepatu safety shoes saya basah kuyup di hajar hujan seharian tadi (sedangkan sepatu arif tidak terlalu basah karena posisinya sebagai boncenger jadi lebih terlindung)......wah-wah gak mungkin dipake nih, bisa masup angin kalo dipaksakan apalagi badan lagi kurang fit gini. Jadi terpaksa saya pergi keluar hotel untuk beli sepatu.

Saya jalan kaki menuju jalan Gatot Subroto karena siang tadi saya lihat jalan ini penuh dengan pertokoan, siapa tau ada toko sepatu disana. Tapi ternyata sebagian besar toko sudah tutup – (mirip pertokoan di glodok jakarta) yang terlihat cuma deretan rolling dor atau pintu besi model harmonika, lagi pula tidak terlihat toko sepatu. Harapan saya muncul ketika melihat sebuah toko perlengkapan ABRI masih buka, pasti disini jual sepatu abri untuk PDH (pakaian dinas harian) yg model kantoran. Yes bener juga ada sepatu model kantoran yg sampai mata kaki dengan resleting di sisi bagian dalam, segera cari ukuran 40...dapet, sekalian juga beli kaos kakinya total Rp 110 ribu.....fuii beres deh. Jadi nanti resepsi pake sepatu abri baru....hehehehe

Pukul 18.30 saya dan Arif keluar kamar dengan pakaian formal, kemeja batik dengan motip yang serupa dan celana hitam, bersepatu hitam, rapi, necis dan wangi ....hehehehe jauh dari kesan biker yang baru menempuh perjalanan jauh.

Resepsinya sendiri berjalan lancar, tamu yang menghadirinya banyak sekali, makanannya juga lezat-lezat, pokonya makan enak lah....; seperti biasa juga ada acara foto-foto. Menjelang pukul 21.15 acara resepsipun berakhir, saudara-saudara yg berasal dari surabaya dan lumajang pamit pulang.

Saya pun kembali ke kamar untuk istirahat, Wah lega sekali rasanya tugas sebagai utusan mewakili keluarga besar saya di jakarta untuk hadir dalam resepsi ini tuntas sudah, semua pesan dan salam dari jakarta sudah saya sampaikan kepada yg punya hajat. Jadi dengan demikian MISSION COMPLETED, (kalau main game komputer gitu kali pesan yg muncul di layar).

Tinggal lagi memikirkan perjalanan pulang ke jakarta, apalagi logistik terutama obat2an (vitamin dan jamu tolak angin ku) sudah habis plus kondisi mat item yg kurang fit agak mengganggu pikiran saya......hmmm tapi itu soal nanti yg penting sekarang tidur dulu.....gitu pikirku.....

to be continued.........

Monday, December 11, 2006

Mount Ijen Touring Report #4


Etappe IV : Hari Pendakian

Rabu, 12 Juli 2006

Terus terang sebenarnya hibernasi saya tidak mulus2 banget, beberapa kali selimut tersingkap dan langsung saja udara dingin menyengat menusuk bagian tubuh yang tidak tertutup selimut.....dan ini membuat saya beberapa kali terbangun. Seandainya saja saya bawa sleeping bag tentunya tidak akan tersiksa seperti ini. Mungkin sudah saatnya saya musti ganti box Givi yang lebih besar kali ya supaya bisa muat bawa sleeping bag.

Pukul 04.30 saya terbangun selain karena bunyi alarm hand phone saya juga karena saya mendengar langkah2 orang melintas didepan pondokan kami. Saya lihat keluar hari sudah mulai terang remang-remang (bingung juga saya jam segitu sudah mulai terang remang-remang kalau dijakarta masih gelap banget), saya lihat beberapa orang penambang melintas didepan pondokan saya membawa keranjang kosong.

Waah jelas gak mungkin ngeliat sun rise nih kalo kaya gini .....hehehe, tapi saya tetap segera menyiapkan barang-barang yang mau saya bawa kedalam Ransel saya. Biskuit, Kacang Sukro, Permen Karet, Permen Asem, Tripot serta handuk kecil saya masukan dalam ransel eiger ku, persediaan air sih sudah pasti gak ketinggalan. Kemudian saya siapkan juga kamera digital dan persediaan baterenya, hp ku karena gak ada sinyal di Paltuding ini saya matikan dan masukan kedalam tas pinggang.

Kegiatan selanjutnya yang gak kalah susahnya adalah membangunkan Arief, yang masih tidur meringkuk dalam selimutnya. Butuh waktu setengah jam lebih untuk membujuk dia bangun dan mengajaknya untuk siap-siap mendaki. Akhirnya arif bangun juga setelah dijanjikan bahwa setelah mendaki kita akan ke pemandian air panas.

Jam 05.30 kami mulai melangkahkan kaki menyusuri jalan pendakian ke kawah ijen. Udara masih sangat dingin saat itu, makanya arif selain mengenakan jacket saya pakaikan sarung tangan dan balaclava cadangan.

Jalanan menanjak yang kami lalui berupa jalan tanah dengan permukaannya berupa butiran pasir berwarna abu-abu, cukup licin jika tapak sepatu tidak punya kembangan. Bagian jalan yang sering dilintasi oleh penambang meninggalkan jejak berupa permukaan jalan yang berwarna hitam, hal ini dikarenakan pasir-pasirnya tersapu ke pinggir. Kira-kira kalau dilintasan sirkuit ini menunjukan racing line dari para penambang hehehe.

Menit-menit pertama berjalan sih, masih belum terasa apa-apa tapi setelah seperempat jam ....koq terasa napas mulai berat. Wah kacau juga nih stamina saya sudah jelek banget, memang sih lebih dari dua bulan terakhir ini saya absen dari olahraga badminton (terakhir ini ganti belajar tennis) maupun sepak bola (sebenernya saya main bola cuma buat menuh2in lapangan hehehe, tapi begitupun sampai saat ini saya sudah mengoleksi satu gol dalam pertandingan resmi – Final Samudera Cup 2005 hihihi).

Saya sendiri bukan jebolan pecinta alam, jadi tidak pernah tau gimana cara teknik berjalan mendaki gunung supaya tidak tersengal-sengal. Akhirnya saya pake jurus truk Fuso melibas tanjakan, biar pelan asal keep moving, toh kata pribahasa tak kan lari Gunung dikejar...iya kan. Sepanjang jalan saya sendiri berusaha mengajak arif ngobrol biar dia nggak ngerasa capek dan patah semangat untuk mendaki.

Dijalanan yang mendaki ini kami tidak saja berpapasan dengan penambang yang turun tapi juga didahului oleh penambang-penambang yang naik. Salah seorang penambang yang naik kami ajak ngobrol namanya kalo gak salah denger pak Sulastiono, kami tanya berapa banyak belerang yang bisa mereka angkut sekali jalan. Menurut dia rata-rata penambang disana bisa mengangkut 80 kg belerang sekali angkut, tapi kalo dia sendiri karena lagi capek dan tidak fit katanya cuma bisa mengangkut 60 – 70 kg.....(dalam hati saya 60 – 70 kg koq dibilang cuma...weleh2).

Mengangkut 80 kg itu artinya lebih berat dari berat badan saya yang 78 kg...hehehe wah kalo gitu kalo saya pingsan pasti si penambang ini mampu gotong saya kali ya....hihihi.

Ketika ditanya untuk berat 80kg belerang itu berapa uang yang mereka dapatkan, bapak ini menjawab sebesar Rp 35 ribu, kalo cuma 60 – 70 kg kata dia cuma sekitar Rp 29 ribuan dapetnya. Hmmm berarti sekilo kurang dari Rp 500,-..gile padahal jalannya jauh banget. Sayangnya saya lupa nanya daam sehari mereka bisa berapa kali bolak balik. Tapi dari hitung2an logika saya kira tidak akan lebih dari 3 kali. Karena waktu tempuh pulang pergi untuk yang sudah terlatih jalan seperti mereka mungkin 2 – 2.5 jam.

Kasihan juga melihat para penambang ini bekerja keras. Mereka memikul bongkahan-bongkahan belerang berwarna kuning dalam dua keranjang bambu yang dihubungkan dengan dua batang bamboo yang dijadikan satu sebagai pikulannya. Apabila mereka berjalan menuruni jalan setapak dengan memikul keranjang bermuatan penuh dibahunya, maka keranjang tersebut terayun lentur dengan mengeluarkan bunyi kriet-kriet yang khas. Bunyi kriet-kriet ini mengikuti ayunan langkah kaki sipenambang…… kadang kalau bahunya lelah, maka dengan terampilnya pikulan ini dipindahkan ke bahunya yang satu lagi.

Walau sekuat-kuatnya sipenambang ternyata mereka juga perlu beristirahat sejenak dalam perjalanan turun membawa bongkah-bongkah belerang tersebut. Pagi itu bahkan saya jumpai bukan cuma penambang yang berhenti sejenak untuk istirahat tapi malah beberapa penambang beristirahat sambil menyantap sarapan pagi mereka yang terbungkus daun.

Memperhatikan penambang yang turun dengan lincah dengan keranjang penuh belerang yang dipikulnya, kadang mengingatkan saya pada film-film kung fu. Mereka seperti biarawan-biarawan shaolin yang sedang berlatih kung fu dengan membawa dua beban dibahu…..hehehehe

Setelah beberapa kali berhenti untuk mengambil nafas - untungnya pengelola sudah menyediakan beberapa shelter untuk pengunjung beristirahat jika kecapekan mendaki – kamipun sampai di tempat penimbangan belerang, pos penimbangan belerang ini terletak satu kilometer dari puncak Ijen. Ditempat penimbangan ini kami beristirahat lagi, sebelum kami melanjutkan tahap akhir pendakian.

Ketika ada seorang penambang yang dating untuk menimbang bongkah belerangnya saya mencoba melihat angka timbangan dari belerang tersebut, dan ternyata memang beratnya 80 (delapan puluh) kilogram. Luar biasa bener-bener delapan puluh kilogram bo……

Setelah nafas kami terkumpul kembali kami segera melanjutkan tahap akhir pendakian. Kini pemandangannya berubah kalau tadi disekelilingi kami adalah pepohonan dan semak belukar yang rapat, kini pepohonan tersebut tidak banyak lagi, gerumbul-gerumbul perdu lebih banyak mendominasi. Efeknya ruang jadi lebih terbuka sehingga kami jadi bisa memandang sekeliling dari ketinggian, indah sekali, terasa sekali bahwa kami berada disuatu tempat yang cukup tinggi.

Karena kami tahu tinggal satu kilometer lagi sebelum puncak Ijen, ada semangat atau tenaga baru yang mendorong kami untuk mempercepat langkah agar sampai di tujuan. Pukul 07.30 (artinya kami butuh 2 jam untuk sampai kepuncak) kami akhirnya sampai di bibir kawah Ijen………Pemandangannya luar biasa, menakjubkan. Jujur saja ada rasa puas senang dan takjub jadi satu ketika kami sampai dikawah Ijen…..rasanya ingin berteriak senang Akhirnya biker dan boncenger ini sampai juga ke puncak Ijen setelah menempuh jarak lebih dari 1.000km dari jakarta. (mungkin bagi pendaki gunung sejati, rute pendakian kawah ijen ini cuma dianggap jalan-jalan sore aja, tapi bagi saya yang orang biasa-biasa saja tentunya ini kepuasan tersendiri)

Dihadapan kami terdapat cekungan luas kawah Ijen dikelilingi dinding kawah, didalam cekungan kawah tersebut terdapat danau kawah Ijen dengan airnya yang berwarna hijau tosca. Jauh dibawah ditepian danau kawah Ijen ada bagian berbatu-batu yang berwarna kuning dan mengeluarkan asap, itulah sumber belerang yang ditambang oleh penambang-penambang.

Dari atas bibir kawah penambang-penambang yang berada disumber belerang tersebut terlihat kecil…..sayangnya saya tidak membawa teropong untuk melihat dengan jelas bagaimana mereka menambang belerang. Sebetulnya ada jalan setapak menuruni dinding kawah ijen untuk mencapai tambang belerang tersebut, namun karena ada larangan selain penambang dilarang turun ke kawah, maka saya tidak turun kesana.

Pemandangan yang sangat indah ini segera saja saya abadikan dengan kamera digitalku. Beruntung saya membawa tripod sehingga saya bisa mengabadikan diri sendiri dan arif tanpa harus minta bantuan orang lain untuk mengambil gambar kami. Bordiran logo MiLYS yang terdapat dalam body protector saya bentangkan untuk saya abadikan, sebagai bukti bahwa member MiLYS sudah sampai di kawah Ijen, demikian juga dengan lambang Samudera Indonesia Bikers saya kibarkan.

Setengah jam lebih kami habiskan waktu untuk menikmati keindahan alam yang luar biasa ini, matahari yang bersinar cerah membantu kami untuk bisa melihat dengan jelas dinding-dinding kawah ijen, maupun pemandangan disekeliling kawah ijen yang mempunyai ketinggian 2.386m dpl (diatas permukaan laut) ini. Rasanya keindahan kawah ijen tidak kalah dengan keindahan Gunung Bromo, hanya saja bromo memiliki lautan pasir yg menakjubkan dan sarana wisatanya sudah lebih terkelola dengan baik.

Jam 08. lebih sedikit saya putuskan untuk turun gunung. Jangan dikira turun gunung lebih enak dari pada mendakinya lho, ternyata sama beratnya, saya malah sempat beberapa kali terpeleset. Betis saya terasa kencang menahan berat badan saya, lutut saya juga gemetar kelelahan. Sama seperti berangkatnya ternyata perjalanan turun ini saya juga butuh berhenti beberapa jenak untuk mengatur nafas, dan memberikan kesempatan lutut dan betis kembali normal.

Namun kali ini karena menurun dan didorong gaya gravitasi kali ya hehehe.....ternyata perjalanan turun lebih cepat dibandingkan pada saat naik. Rute turun kami tempuh dalam 1.5 jam, sehingga jam 09.30 kami sudah sampai di Pondokan.....Tentu saja dengan kaos yang basah dengan keringat dan nafas tersengal serta kaki-kaki yang kelelahan.

Karena sudah jam 09.30 dan kami baru turun dari Kawah Ijen, maka saya membatalkan opsi ke Banyuwangi dan Taman Nasional Alas Purwo di Blambangan, - waktunya tidak memungkinkan. Dari Paltuding ini memang ada jalan yang menuju Banyuwangi, dengan jarak 33km, sementara TN Alas Purwo masih 60 km lagi dari Banyuwangi ke arah tenggara. Sebagai gantinya kami mengexplore lebih dalam daerah seputar Ijen ini, yaitu ke daerah Blawan dimana disini ada objek wisata, pemandian air panas, air terjun dan goa kapur serta pemandian damar wulan.

Saya sih pinginnya segera berangkat menuju Blawan, tapi ternyata lama juga waktu yang kami butuhkan untuk menormalkan kembali tubuh setelah kecapekan mendaki tadi. Akhirnya baru jam 11.00 kami bisa meninggalkan paltuding menuju Blawan.

Tidak terlalu sulit untuk menuju ke arah Blawan, karena kemarin waktu kami naik ke Paltuding kami melewati papan penunjuk jalan ke Blawan. Yang agak sulit adalah kondisi jalannya setelah melewati pemukiman pekerja perkebunan, jalannya ternyata terdiri dari batu-batu kali, jadi ya pating gronjalan gitu deh...

Jam 11.30 an kami tiba di pemandian air panas.....hmm jangan dibayangkan pemandian air panas ini seperti di Ciater atau di Cimanggu – Bandung Selatan sana ya. Pemandian air panas ini sederhana banget cuma terdiri dari 2 kolam untuk berendam. Memang sih ada bangunan kamar2 mandi untuk yang ingin mandi air panas diruang tertutup, tapi semuanya sudah tidak berfungsi.

Ketika kami datang hanya ada satu orang pengunjung yg datang, itupun dia baru selesai berendam, jadi ya sepi banget. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2000.- per orang, Arif segera saja buka baju dan menceburkan diri ke kolam air panas tersebut.....byurr wah seneng banget dia kalo udah main air kayak gini. Tidak lama kemudian saya pun menyusul arif untuk berendam dan mandi di kolam air panas ini......soalnya sejak di Paltuding saya gak berani mandi.....airnya dingin banget seperti air es......hehehehe

Ternyata enak juga berendam di air panas setelah tubuh kecapekan mendaki tadi, makanya mandinya jadi kelamaan. Akibatnya kami baru meninggalkan Blawan jam 12.30 setelah sebelumnya melihat air terjun (lokasinya berdekatan dengan pemandian ini), tapi kami gak mampir di gua kapurnya padahal satu lokasi dengan air terjun tapi agak memutar sedikit, soalnya telapak kaki saya nyeri setelah mendaki tadi....gak tau kenapa, jalan saya agak terpincang-pincang.

Kami lanjutkan perjalanan menuju sempol, dan disini kami sempatkan untuk santap siang, baru jam 13.30 kami lanjutkan perjalanan menuju Bondowoso dengan sasaran akhir adalah Lumajang. Rute lengkapnya adalah Sempol-Bondowoso-Jember-Lumajang dengan jarak sekitar 168 km.

Terus terang pendakian pagi tadi sangat menguras tenaga kami, selain kaki yang masih terasa pegel dan telapak yang nyeri kerasa banget stamina drop. Saat itu satu-satunya keinginan adalah segera tiba di Lumajang untuk istirahat. Makanya motor saya jalankan cukup cepat, apalagi jalanannya di dominasi turunan terus. Sempol – Bondowoso kami tempuh kurang dari satu setengah jam; kemudian Bondowoso-Jember juga kurang dari satu jam. Hal ini disebabkan juga faktor jalanannya yang mendukung jalanannya mulus – besar dan menurun, kecepatan bisa 80 – 90 Kpj.

Kami berhenti isi bensin dulu di Jember, selanjutnya mat item kami geber lagi menuju Lumajang. Kondis jalan Jember – Lumajang sangat baik, mulus dan lebar, serta relatif datar. Mat item saya ajak lari sampai 100-110 kpj di trek ini, karena memang treknya benar2 memungkinkan untuk digeber tanpa takut ada lubang menghadang. Harapan saya untuk bisa masuk Lumajang sebelum pukul 17.00 akhirnya tercapai, ketika kami berhasil tiba dirumah Sepupuku pada jam 16.55. Rasanya inilah etappe tercepat yang bisa saya selesaikan, karena hanya butuh 3.5 jam saja untuk jarak 168km an.

Sampai di Warung Gunung Wonorejo (WGW) tempat sepupuku ini(sepupuku – Mas Belo ini mengusahakan resto dengan nama Warung Gunung Wonorejo letaknya 100m dari terminal bis Lumajang arah ke Probolinggo), ternyata tuan rumah sudah berangkat ke Malang siang tadi. Tapi tuan rumah sudah pesen kepada yang jaga rumah kalo kami mau datang dan agar diterima dengan baik. Jadi saya gak perlu kuatir bakalan terlantar hehehehe....

Motor segera saya masukan halaman samping WGW, Resto WGW ini menempati tanah yg cukup luas, kebetulan tuan rumah ini hobby tanaman dan memilhara hewan....dibagian belakang ada dibuat semacam pendopo untuk lesehan, halaman belakang ini teduh dan hijau dengan berbagai tanaman, sedangkan hewan piaraannya cukup banyak ada angsa, burung beo, ayam kate dan juga rusa.

Anak-anak tuan rumah semuanya kuliah di surabaya dan ada juga yg sudah bekerja di jakarta dan jogya, sehingga banyak kamar kosong dirumah ini saat saya datang menginap. Saya segera bongkar side bag dari mat item untuk dibawa ke kamar tempat saya menginap, sambil membongkat saya lihat trip meter mat item scorpioku ternyata menunjukan angka 1.301 km.

Malam itu setelah membuat beberapa catatan saya segera pergi tidur, walaupun badan masih terasa letih tapi ada rasa puas bahwa satu misi telah selesai, tinggal ada satu misi lagi yang harus diselesaikan besok, yaitu menghadiri resepsi pernikahan keponakan saya di Malang..........

Mount Ijen Touring Report #3


Etape ketiga : Mojokerto – Pasuruan – Probolinggo – Bondowoso – Ijen = 255km

Selasa, 11 Juli 2006

Pagi ini saya bangun dengan agak lebih bersemangat, karena sasaran misi pertama yaitu ke Ijen sudah semakin dekat, yang kedua jarak yang harus saya tempuh hari ini tidak sepanjang hari-hari sebelumnya artinya jika semua beres maka kami bisa sampai tempat tujuan saat matahari masih terang, tidak seperti sebelum-sebelumnya dimana selalu masuk tempat yang dituju pada saat hari sudah gelap.

Pukul 08.30 saya keluarkan Mat Item Scorpioku yg tampangnya sudah makin dekil dari teras kamar dan kemudian bersama arif menungganginya untuk memulai etape ketiga saya. Hari ini saya harus mengambil arah ke Gempol kemudian ke arah Pasuruan dan Probolinggo. Untungnya tidak sulit untuk keluar dari Mojokerto untuk menuju kota tujuan berikutnya, disini peranan rambu penunjuk jalan sangat membantu kami.

Mungkin karena masih diseputaran Kota Surabaya yang merupakan jantung perekonomian Jawa Timur, maka lalu lintas di Mojokerto – Gempol ini terasa padat dan aktif sekali pagi itu, truk-truk lalu lalang berjejalan dengan bis penumpang maupun angkutan kota yang isinya padat oleh penumpang terasa sekali geliat aktifitas kota besarnya. Padahal suasana yang saya sukai adalah suasana pedesaan, dimana waktu seakan berjalan melambat, tenang, tentram dan mengalir alami penuh kedamaian, tidak ada rush hour, tidak ada ketergesa-gesaan.

Makanya senang sekali saya ketika kami akhirnya bisa meninggalkan semua kesibukan dan kepadatan tersebut, setelah sarapan di Pasuruan kami sekarang berada di jalur Pasuruan – Probolinggo yang jauh lebih lengang dibanding jalur Mojokerto – Gempol. Jalanan berupa aspal mulus dan baik. Truk-truk pengangkut tebu banyak sekali kami jumpai dijalanan. Demikian juga dengan kebun2 tebunya kalau melihat ini semua rasanya memang sepantasnya kita tidak perlu impor gula ya.....; rasanya memang ada yang salah pada kebijakan pertanian dan perdagangan kita.....mungkin para menteri ini mesti lebih sering solo turing naik motor liat langsung kondisi kebun2 tebu kita kali ya....hehehe

Dijalanan saya juga sering kali menjumpai iring-iringan sepeda onthel yang mengangkut sisa-sisa daun tebu, entah untuk apa? mungkin untuk pakan ternak mereka kali ya. Iring-iringan sepeda onthel pengangkut daun tebu ini memberikan nuansa yang lain di jalanan luar kota ini, sebuah kombinasi yang kontras dengan truk-truk pengangkut tebu yang dengan angkuh menderu dijalanan melambangkan modal kuat dan modernitas sementara si sepeda cerminan alat angkut traditional, tua reyot tapi arif dan bijak – gak bikin polusi soalnya.......

Kontur jalanan Pasuruan – Probolinggo – Paiton ini adalah datar, sejajar pantai utara jawa timur, karena konturnya yang datar dan relatif terbuka serta tepi pantai maka terpaan angin sangat kuat saya rasakan, beberapa kali mat item yang saya pacu di 80kpj, bergeser dihantam terpaan angin dari samping. Apalagi saat itu adalah musim kemarau hembusan anginnya terasa kering, jam saat itu sekitar pukul 11.00 an kebayangkan panasnya.......

Barulah pas di PLTU Paiton jalannya berubah naik turun dan berliku-liku melintasi punggung perbukitan dengan tumbuhan hutan jati. Pemandangan di paiton ini cukup indah karena dari atas perbukitan kita bisa melihat ke laut lepas.

Besuki adalah kota yang kami kunjungi setelah paiton lewat, dimana dari kota Besuki ini kami mengambil arah ke selatan menuju kota Bondowoso. Besuki sendiri berjarak 72 km dari Probolinggo sedangkan untuk menuju Bondowoso masih harus menempuh jalan sejauh 28 km, dengan melewati perbukitan hutan jati. Di Besuki ini banyak ditanam orang tembakau, konon tembakau Besuki cukup dikenal.

Perbukitan hutan jati yang akan kami lalui untuk menuju Bondowoso ini sangat terkenal dengan panoramanya yang indah, nama daerah ini adalah Arak-Arak, dan kenyataannya memang panoramanya sangat indah. Jalannya yang mulus naik turun berkelok-kelok menyusuri punggung perbukitan hutan jati yang meranggas di musim kemarau sangat tidak membosankan. Mata ini seperti dimanjakan dengan pemandangan yg segar, jauh dari pemandangan hutan beton Jakarta.

(Notes: foto-foto turing ijen lihat di http://photos.yahoo.com/arkanantoimam)

Kalau kami menyempatkan diri berhenti di arak-arak bukan semata karena lelah melainkan ingin menikmati pemandangan lebih lama sambil minum air kelapa muda dingin.......uiiiiih nikmat dan segernya. Bayangkan dari atas perbukitan memandang ke dataran lepas dibawah sana, di siang terik dan disemiliri angin perbukitan sambil minum air kelapa muda......uuenak tenan rasanya pengen berlama-lama disana.

Akhirnya kami lanjutkan perjalanan setelah mengambil beberapa foto panorama arak-arak tadi, Bondowoso tidak terlalu jauh lagi. Jalanan yang menurun menuju Bondowoso mempercepat kami tiba di kota tersebut, belum lagi pukul 13.00 ketika kami tiba di Bondowoso. Kami sempat bertanya jalan menuju ke kawah Ijen, dan ternyata jalannya mudah saja yaitu kami harus mengarah ke Situbondo, nanti sekitar 8 – 9 km setelah keluar kota Bondowoso ada pertigaan dengan penunjuk arah ke kawah Ijen.

Benar saja setelah berjalan keluar kota Bondowoso sekitar 8 – 9 km kami jumpai papan rambu penunjuk arah dimaksud. Segera saja motor saya belokan ke arah jalur jalan yang menuju Ijen. Rute yang akan kami tempuh ini adalah Bondowoso – Sempol (53 km an) kemudian dari sempol ke Paltuding sekitar 7 km. Paltuding ini pos terakhir sebelum mendaki ke ijen sejauh 3 km.

Jalanan menuju sempol ini pemandangannya khas jalanan luar kota di Jawa, dikiri kanan jalan ditanam orang pohon asam jawa, berkilo-kilometer pohon asam jawa ini berjajar rindang menaungi jalanan, membuat jalanan menjadi teduh. Kalau dilihat dari pokok batangnya yang cukup besar dan ranting daun serta buah asam jawanya yang begitu lebat, kelihatannya usia pohon asam jawa ini sudah puluhan tahun. Saat itu entah sedang musimnya berbuah atau tidak yang jelas banyak warga yang memunguti asam jawa yang berjatuhan, saya lihat bisa sampai satu karung asam jawa yang terkumpul. Terus terang saya salut dengan orang yang memberi ide untuk menanam asam jawa ditepian jalanan ini karena artinya dia punya visi yang jauh kedepan bahwa pohon ini akan bermanfaat bagi banyak orang kelak sekian puluh tahun mendatang.

Pepohonan lain yang biasa ditanam orang dijalanan pedesaan atau jalan luar kota di pulau Jawa ini adalah pohon Kapuk Randu. Bentuk pohonnya khas dengan batang ranting yang satu-satu memanjang, kalau lagi musimnya buah kapoknya bergelantungan, kadang kapuk nya berterbangan ditiup angin.

Sedangkan pohon beringin biasanya ditanam orang ditengah alun-alun kota-kota dijawa mungkin sebagai simbol pusat pemerintahan, tapi kalo kita lihat pokok beringin rindang ditengah areal persawahan biasanya sih itu pekuburan desa dan biasanya pohon kamboja mengelilingi si pohon beringin ini.

Aspal mulus menuju sempol ini ternyata berakhir setelah bertemu simpangan dimana yang lurus menuju sumber wringin sedangkan yang menyerong ke kiri menuju sempol – ijen. Jalanan kali ini mulai tidak terlalu mulus, lubang di jalan berserakan, dibeberapa tempat aspalnya terkelupas, tapi masih bisa dilalui dengan enak sih. Jalanan juga tidak lagi datar seperti tadi tapi mulai berkelok-kelok menanjak.

Pemandangan juga mulai berubah jika siang tadi kami disuguhi hutan jati yang meranggas, kini dihibur dengan keteduhan hutan pinus. Bener-bener pemandangan yang menyegarkan, apalagi sekarang AC alam mulai dinyalakan maksudnya udara mulai berubah menjadi udara sejuk pegunungan. Hmmm nikmatnya menghirup udara yang bersih dari polusi.

Dihutan pinus ini kami berhenti sejenak untuk menikmati keteduhannya dan juga mengambil beberapa foto untuk dokumentasi perjalanan. Ketika lagi asik mengambil foto dari seberang jalan, tiba-tiba mat item yang saya parkir dengan standar samping, terjerembab.....gubraaakkk, helm saya yg ditaruh diatas tangki terpental dengan keras dan ngegelundung ditanah.....; Astaghfirulah....ada apa ini....kaget saya dengan kejadian tsb, segera saya berlari menghampiri mat item yang rebah ditanah, saya coba dirikan.....uuuh ampun berat banget, setelah dibantu Arif akhirnya mat item bisa saya dirikan lagi.....

Saya perhatikan tempat saya tadi standar samping mat item,.....hmmm ternyata tanahnya empuk pantesan jatuh; berarti saya yang teledor.....saya agak mangkel dengan kejadian tersebut, memang sih tidak ada kerusakan sama sekali....tetapi kenapa juga harus pake acara roboh kayak gitu.......namun setelah merenung lebih dalam saya bersyukur juga, untungnya acara robohnya mat item tidak pada saat kami tunggangi atau helm yg mental dan gelundungan ditanah itu untungnya pas tidak ada kepala saya didalam situ. Jadi tampaknya ini sih message dari yang Maha Kuasa supaya saya tetep hati-hati di jalan dan tetap bersyukur serta selalu mengingatNYA.

Setelah kejadian tadi saya segera lanjutkan perjalanan, sampai akhirnya kami tiba di pos penjagaan PT. Perkebunan Nusantara XII (?), disini kami harus lapor ke pos penjagaan, seperti biasa menuliskan nama pengunjung, alamat, tujuan kunjungan dan jumlah rombongan, udah gitu boleh jalan lagi.

Jalanan di kawasan perkebunan kopi ini sangat baik mulus dan terawat, beda sekali dengan jalan sebelumnya yang berada diluar kawasan perkebunan. Pemandangannya juga menarik kali ini kita disuguhi pemandangan hamparan kebun kopi dan kelihatannya sedang berbuah juga, terlihat dari kesibukan pekerja perkebunan dan beberapa pick up yang mengangkut karung-karung hasil kopi yg baru dipanen.

Dikawasan perkebunan ini tampaknya juga diusahakan sebagai kawasan agro wisata, ini terlihat dari terdapatnya tiga lokasi hotel atau penginapan milik perkebunan ini masing-masing di Catimor-Blawan, Jampit I di Kalisat/jampit dan Jampit II juga di kalisat. Tadinya kami akan menginap disini, namun setelah mendapat keterangan bahwa di Paltuding juga ada penginapan maka saya memutuskan untuk menginap saja di Paltuding. Pertimbangan saya adalah karena tujuan saya yang utama ke wilayah Ijen ini adalah untuk mendaki Kawah Ijen, maka sebisa mungkin saya harus mendekat ke kawah Ijen, kalau saya menginap di daerah jampit-kalisat ini maka untuk ke Paltudingnya saja harus menempuh sekitar 10 km, sementara untuk ke kawah Ijen harus jalan kaki lagi sejauh 3 km.

Dengan pertimbangan tersebut maka kami tidak mengunjungi lokasi penginapan yang dikelola perkebunan, melainkan langsung menuju ke paltuding. Setelah melewati pos yang kedua disini ritualnya juga sama melapor dan menulis dibuku tamu, maka akhirnya kami melewati pos ketiga dan terakhir disini lagi-lagi melapor dan menulis di buku tamu. Setelah melewati pos yang ketiga ini artinya kami sudah keluar dari kawasan perkebunan dan menuju ke Paltuding, jalanan masih tetap mulus, naik turun dan berliku tapi agak lebih sempit dibanding jalan didalam kawasan perkebunan, pemandangannya tidak perlu diragukan; indah tenaan........kalau saja bawa handycam mungkin pemandangannya bisa terekam lebih sempurna......

Setelah melewati beberapa tanjakan yang cukup panjang dan tinggi, kami tiba di Paltuding pos terakhir sebelum mendaki Kawah Ijen, pos ini berada diketinggian 1850m dpl (diatas permukaan laut). Semua kendaraan yang ingin ke kawah ijen berhenti disini, tersedia lapangan parkir yang luas (cukup banget kalo buat kopdar para biker...hehehe), camping ground dan beberapa bangunan penginapan, kemudian juga ada beberapa warung dan tentunya bangunan-bangunan kantor pengelola daerah wisata ijen. Kalau tidak salah dikelola oleh Pelestarian Hutan dan Perlindungan Alam (PHPA?) Taman Nasional Alas Purwo, wah berarti cakupannya luas juga pengelola ini, soalnya Alas Purwonya sendiri berada di Blambangan letaknya.

Uuuh lega sekali rasanya sudah sampai di Paltuding, Setelah memarkir mat item, sambil melakukan peregangan saya ambil nafas dalam-dalam mengisi rongga dada ini dengan udara bersih pegunungan di ketinggian 1800m dpl....wuih seugeeer nya.... mana udaranya sejuk banget lagi, Suasananya tenang tidak banyak orang yang ada di paltuding saat itu maklum jam saat itu menunjukan pukul 15.30, matahari sore pun masih bersinar terang tapi tidak terasa panas sama sekali soalnya kalah dengan sejuknya udara.

Saya melapor ke kantor pengelola sekaligus mencari penginapan, petugas menerima kami dengan ramah, mereka geleng2 kepala keheranan ketika tau kami dari jakarta dengan mengendarai motor. Dari petugas tersebut kami ditawari dua jenis penginapan ada yang Rp 135.000 per kamar/malam ada juga yang Rp 65.000,- semua fasilitasnya sama kamar mandi di luar, dan tidak ada tivi maklum listriknya juga pake genset. Saya pilih yang Rp 135.000,- karena saya lihat viewnya lebih enak yaitu menghadap ke arah camping ground dan kayaknya lebih nyaman (padahal sih sama aja bangunannya sederhana rumah panggung semi permanen dengan dinding papan hehehehe namanya juga penginapan untuk pecinta alam, jadi jangan dibayangkan atau dibandingkan dengan penginapan seperti disebuah resort ya.....).

Yang unik motor saya disuruh masukan kedalam kantor pengelola, saya lihat memang motor-motor dinas si petugas juga dimasukan dalam kantor tersebut, mungkin untuk keamanan di malam hari kali ya. Apa iya ada maling yg jauh2 dateng ke paltuding buat maling motor ya?.....batin saya ketika mendorong mat item untuk dimasukan ke dalam kantor pengelola. Sambil memasukan mat item saya lirik trip meter Mat Item, menunjukan angka 1.133 km......hmm sudah hampir separuh perjalanan yang kami tempuh dan sejauh ini lancar semua Alhamdulillah...............

Setelah unpacking barang bawaan kami dan kami taruh dikamar, saya dan arif pun melakukan orientasi lapangan seputaran paltuding ini khususnya adalah untuk menemukan posisi warung makan, soalnya belom makan siang karena keasyikan jalan melihat panorama yang indah, terakhir kali perut diisi air kelapa di arak-arak siang tadi. Untungnya tidak sulit menemukan warung tersebut memang hanya warung kecil yg sederhana, menjual mie rebus, mie goreng dan nasi goreng – tapi sangat vital artinya buat kami saat itu soalnya udah laper banget. Kami pesan nasi goreng dan telor mata sapi,.......benar2 kombinasi yang nikmat udara yang dingin perut yang lapar dan sepiring nasi goreng yg masih hangat dan segelas teh nasgitel (panas, legi dan kentel)...... kontan segera saja nasi goreng ini berpindah tempat dari piring kami kedalam perut kami yg kelaparan kemudian ditutup dengan seruput teh panas....ueenak tenan....(Arif nambah sepiring lagi nasi gorengnya......hehehe)

Setelah santap siang yang kesorean, saya kumpulkan informasi dari petugas mengenai pendakian ke Kawah Ijen, menurut mereka pendakian paling bagus sih jam 03.00 pagi karena perjalanan kesana butuh waktu 1 – 1,5 jam supaya bisa lihat matahari terbit. Dan jalan menuju kesana cukup mudah karena hanya satu jalan tidak ada percabangan sehingga tidak mungkin kesasar.

Bahkan menurut si petugas mendaki malam-malam untuk tanggal sekarang ini dimungkinkan karena saat ini bulan sedang bersinar penuh, dan cuaca terang karena musim kemarau. Kalau mendaki malam-malam bisa terlihat bara api dari sumber belerang di kawah ijen nya demikian penjelasan tambahan beliau.

Mendaki malam-malam....uuh nggak deh, kalau yang dini hari jam 03.00 sih mau juga tuh....tapi apa mungkin bangun jam segitu.....hehehehe....kayaknya sih mission imposible deh.

Setelah informasi terkumpul kami kembali ke kamar maksudnya mau istirahat tidur-tiduran, lho tapi koq makin dingin jadi ya selimutan deh..... tapi akhirnya bablas.......tidur beneran.....badan capek, perut kenyang udara dingin dan selimutan apalagi yang paling enak kalo tidak ber-hibernasi....(tidur panjang seperti beruang dimusim dingin).....hehehehe

Saya terbangun jam 19.00, cahaya bulan menerobos masuk kamar dari kaca jendela yang kordennya sengaja saya buka, sinar bulan ini cukup kuat menerangi kamar kami yang tanpa penerangan – saya coba menyalakan lampu tapi tidak menyala, saya coba dengarkan dikeheningan malam itu dan memang tidak terdengar suara genset hmm mungkin karena terang bulan mereka tidak menyalakan gensetnya kali ya.... Udara dingin sekali saat itu, saya turun dari tempat tidur dan coba ambil jacket yang saya gantung di dinding papan untuk saya kenakan. Waaks jacketnya aja ternyata sudah menjadi dingin banget.....

Segera setelah mengenakan jacket saya berjalan keluar menuju teras pondokan,....brrr udara dingin langsung menyergap saya begitu saya ada diluar. Pemandangan diluar indah sekali, benar kata petugas tadi sore bahwa malam ini terang bulan. Langit cerah dan bersih sekali bintang-bintan bertaburan, berkerlipan, sementara itu permukaan bumi bermandikan cahaya bulan, tidak gelap total tapi temaram....saya sapukan pandangan saya ke segala arah... suasananya hening damai dan indah sekali. Seandainya dinginnya tidak menusuk tulang ingin sekali saya berlama-lama berjalan bermandikan cahaya bulan......tapi dinginnya itu lho gak nahan banget.

Akhirnya kembali berselimut dan ber hibernasi adalah pilihan yang saya ambil, karena tidak tahan dinginnya....”uuhh gimana mau mendaki jam 03.00 kalau seperti ini dinginnya.....besok pagi-pagi aja deh mendakinya kalau sudah terang aja dan sudah lebih hangat.”....begitu pikirku sambil meringkuk dibawah selimut meneruskan hibernasi ku...........zzzzzzzzzzzzzzz.....zzzzzzzzzzz