Wednesday, February 24, 2010

Memutar yang Baik (untuk Biker)

Beberapa waktu yang lalu ada postingan di salah satu milis komunitas biker yang saya ikuti, yang menanyakan bagaimana cara memutar yang baik, Namun karena kesibukan saya menyebabkan saya tidak sempat mengikuti topik tersebut sehingga tidak tahu bahasan teman2.

Menurut saya cara memutar yang baik adalah sebagai berikut dibawah ini, mohon di ingat ini adalah pendapat pribadi saya berdasarkan pengalaman selama ini. Apabila ada saran memutar yang lebih baik yang dikeluarkan dari sumber yang kompeten, maka silahkan ikuti saran tersebut.

Dalam memutar ada tiga hal utama yang harus diperhatikan.

1. Tempat Memutar
2. Proses/prosedur Memutar
3. Mengutamakan keselamatan baik diri sendiri maupun orang lain.


1. Tempat Memutar

a. Jalan yang memiliki pemisah jalur

1. Jika jalanan memiliki pembatas jalan, maka berputarlah di tempat putaran yang memang disediakan untuk kita (ada rambu tanda berputar – U Turn).

2. Jangan berputar ditempat putaran yang diperuntukan kendaraan dari arah berlawanan, ataupun yang terdapat rambu dilarang berputar (U Turn – dicoret)

3. Jangan berputar di ujung lampu pengatur lalu lintas (traffic light), kecuali jika ada rambu diperbolehkan memutar ditempat tersebut.

4. Jangan sekali-kali menggunakan jembatan penyeberangan untuk berputar, jalur tanjakan yang disediakan dijembatan penyerberangan adalah untuk gerobak pedagang, bukan untuk sepeda motor. Jembatan penyeberangan adalah untuk pejalan kaki bukan untuk sepeda motor, jika anda menggunakan jembatan penyeberangan untuk memutar, selain melanggar aturan lalu lintas, anda jelas adalah biker kampungan

b. Jalan yang tidak memiliki pemisah jalur

1. Jika jalanan tidak memiliki pemisah jalur maka carilah tempat yang cukup lebar untuk memutar dan jalur yang lurus serta datar.

2. Jangan memutar di tanjakan/turunan yang terjal (ada kemungkinan anda tidak terlihat oleh pengendara lain, selain itu kemiringan jalan bisa mengganggu keseimbangan motor)

3. Jangan memutar di jalanan yang menikung - posisi anda mungkin tidak terlihat oleh pengendara lain yang akan masuk ke tikungan tersebut.

4. Jika situasi lalulintas ramai tunggu sampai situasi cukup aman untuk berputar, selama menunggu jika perlu berhent dulu di sisi kiri jalan.


2. Prosedur memutar

1. Nyalakan lampu sein setidaknya 50 m sebelum U Turn

2. Lihat spion untuk mengetahui posisi kendaraan2 dibelakang kita

3. Saat berpindah dari jalur kiri ke kanan jangan memotong jalan terlalu tajam

4. Jika kendaraan dari belakang cukup ramai jangan paksakan diri untuk memotong

5. Jika sudah berada diputaran, perhatikan arus dari arah berlawanan, tunggu sampai situasinya memungkinkan anda untuk keluar dari putaran. Memaksakan diri langsung keluar dari putaran bisa membahayakan diri anda dan pengguna jalan lainnya.

6. Keluar dari putaran jangan langsung memotong arus

7. Berpindahlah dari jalur kanan ke kiri dengan menyalakan sein dan memperhatikan arus kendaraan dari belakang anda.



3. Utamakan keselamatan.

Utamakan keselamatan adalah hal terpenting dalam kita mengendarai kendaraan (baik motor maupun mobil). Kedua poin diatas (tempat memutar dan proses memutar) semuanya dimaksudkan agar kita selamat, jadi jangan ragu untuk maju mungkin 100 – 200 meter kedepan untuk mencari tempat berputar yang aman, daripada anda memaksakan diri berputar ditempat yang membahayakan.



OK Bro and Sis…selamat berputar dan tetap utamakan keselamatan……

Monday, February 22, 2010

Mau Menarik....? jangan lebai Plissss

“Kriiiiiiiiiiiiiiiingg…” sebuah jam beker tampak berdering panjang dan nyaring diatas sebuah meja. Tiba-tiba braak! Sebuah tongkat bisbol (baseball) menghantam si jam beker tanpa ampun, jam bekerpun jatuh dan hancur berantakan.

Kemudian tampak seorang gadis cantik - si pemegang tongkat bisbol, sedang ber hahaha-hihihi dengan seseorang melalui hand phone nya.

Sesaat kemudian tiba-tiba si jam beker yang sudah hancur ini berdering kembali, si gadis cantik tampak kesal dan dengan bengis (lihat mimik mukanya) menghantamkan kembali tongkat bisbol ke jam beker tersebut………

Diatas tadi adalah adegan sebuah klip iklan sebuah operator telepon selular, iklan ini begitu seringnya ditayangkan di layar kaca televisi di rumah anda akhir-akhir ini.

Mungkin anda sering melihatnya, juga mungkin anak-anak anda…….dan kita tidak tahu apa yang ada di benak anak anda ketika melihat adegan tsb.

Terus terang saya tidak suka iklan ini, terlalu mengumbar kekerasan, kemarahan, semangat penghancuran…….

Walaupun jam beker bukan benda hidup, tapi pesan menghancurkan benda itu begitu kental, seakan kita boleh marah dan menghancurkan setiap benda yang mengganggu kesenangan kita.

Menurut saya ini adalah contoh iklan yang tidak pantas, karena mengajarkan kekerasan dan mengumbar kemarahan…… Bayangkan jika cara-cara penghancuran seperti itu di tiru oleh anak-anak kita, mungkin yang dihancurkan mainannya sendiri dengan menggunakan tongkat golf bapaknya….mungkin. Supaya dibelikan mainan yang baru hehehe…..

Jika kita amati iklan-iklan di TV banyak sekali yang tidak pantas sebenarnya karena mengajarkan hal-hal yang buruk terutama kepada anak-anak.

Memang sebuah iklan harus kreatif dan menarik sehingga produk yg di iklan kan tertanam di benak pemirsa, namun pastinya ada cara-cara kreatif lain yang lebih elegan, lebih santun, terhormat dan mendidik dalam mengiklankan suatu produk…..

So, mau menarik?......jangan lebai plis.

Sunday, February 21, 2010

Yang Tercepat



“Yah, kata tante Susan ayah nyetirnya kenceng juga ya” Demikian kata Alin anakku meneruskan komentar dari adik iparku Susan – saat itu kami sedang berkonvoi tiga mobil dalam perjalanan menuju Garut – Jawa Barat.

Mendengar komentar itu saya jadi berpikir, apa bener saya nyetirnya kenceng? menurut saya sendiri saya termasuk slow driver.

Dari empat bersaudara yang lelaki dalam keluarga saya, yaitu Mas Anang (alm), Mas Kokok, Saya sendiri dan si bungsu Teguh maka yang tercepat baik dalam mengendarai mobil maupun menunggangi motor adalah almarhum Mas Anang.

Mas Anang nggak pernah pelan kalo bawa mobil, gaya mengemudinya kenceng dan berani tapi tidak kasar atau ugal2an – sebenernya saya seneng dengan gaya mengemudinya tapi tidak demikian dengan Bapak, dia tidak terlalu cocok dengan gaya mengemudi Mas Anang.

Makanya kalo pergi liburan keluarga bersama Bapak, beliau lebih suka saya yang mengemudikan mobil, mungkin karena saya belajar mobil langsung dari didikan Bapak, maka sebagian gaya mengemudi Bapak menurun ke saya. Mas Anang dan Mas Kokok seingat saya belajar mengemudi sendiri, ini karena mas Anang lama tinggal di Yogya (kuliah) sedangkan mas Kokok lama dinas di Ambon.

Teguh sendiri sebenarnya pengemudi yang baik dan setahu saya juga diajari menyetir oleh Bapak, sayang kecelakaan hebat di Pantura tampaknya meninggalkan trauma yang dalam, sehingga kelihatannya sekarang jadi kurang pede untuk menyetir jarak jauh.

Mas Anang jugalah yang mengajari saya pertama kali bawa motor di jalanan luar kota, tepatnya dari Yogya ke Kaliurang. Saat itu saya masih kelas 3 smp saya dikasih kepercayaan untuk mengendarai Yamaha DT 100 (motor trail) sementara dia mbonceng sambil memberi instruksi bagaimana cara mengambil tikungan, memainkan perpindahan gigi di jalanan yang menikung dan menanjak. Bagaimana menggunakan engine brake di jalanan menurun, bagaimana menyusul yang baik dan lain sebagainya.

Rasanya itulah pelajaran turing motor saya yang pertama kali.

Sayang penyakit jantung yang diderita mas Anang menyebabkan mas Anang harus lebih dahulu meninggalkan kami untuk menghadap Allah SWT pada usia yang relative masih muda (40th). Terima kasih mas Anang atas segala pelajaran riding skill nya.

Nah bagaimana dengan keluarga anda? Siapakah yang tercepat dalam keluarga anda……..

Thursday, February 18, 2010

Ketika Saya merasa Menjadi Biker Cupu

Kamis malam 18 Februari 2010, sekitar jam 20 dengan menunggang Mat Item - Yamaha scorpio ku saya tinggalkan halaman kantor yang berada di kawasan Tanjung Priok untuk pulang menuju rumahku di daerah Pasar Minggu.

Gerimis tipis yang saat itu turun tidak begitu saya pedulikan, saya arahkan mat item menyusuri jalan Yos Sudarso, lalulintas malam itu masih ramai namun lumayan lancar.

Di lampu merah perempatan jl Pemuda – Pramuka, lampu lalulintas menyala merah, sayapun berhenti demikian juga dengan motor2 lain, tiba-tiba boncenger di motor sebelah bertanya pada saya.

“Pak, jalan ke Merak lewat mana ya?”

“Heh, ke Merak?” tanya saya balik, seakan tidak percaya, sambil memperhatikan sipenanya yang ternyata seorang perempuan berperawakan agak gemuk.

“Iya pak ke Merak” katanya meyakinkan saya.

“Wah masih jauh dari sini mbak – ya udah ikuti saya dulu deh nanti didepan saya jelasin” kata saya soalnya lampu sudah menyala hijau.

Motor si gemuk inipun mengikuti motor saya membelok ke jalan pramuka. Diujung jalan pramuka kami berhenti si gemuk ini turun sementara ridernya tetep menunggu di motor.

Kini saya lebih bisa memperhatikan lagi sosok perempuan ini, badanya tidak terlalu tinggi ya rata2 tinggi perempuan Indonesia lah, perawakannya agak gemuk usianya mungkin belum 30 tahun, pakaiannya bersahaja, celana jin ¾ tanpa sepatu (pakai sandal), mengenakan jacket anak muda yang ada kupluknya, dan pake helm half face. Jelas perempuan ini bukan anak motor, ataupun anggota klub motor yang sedang turing.

“Memangnya mau ke Merak ya mbak?” tanya saya kembali meyakinkan akan tujuan mereka.

“iya pak” jawab nya.

“Ya udah kamu nanti dari sini lurus aja terus cari jalan yang arah Grogol, terus ke Tangerang”

“Kamu tau Grogol kan?” tanya saya

“Ndak Pak, saya ngak tau, saya baru nyampe dari Blitar” katanya….

“Hah Blitar?... Mas yang itu tau nggak Grogol?” kata saya sambil menunjuk si Rider yang ada diatas motor (saya berpikir si gemuk ini orang Blitar dan diboncengin sama si Rider ini yang orang Jakarta).

“Dia Ndak tau juga pak, dia bareng-bareng saya dari Blitar, dan dia juga perempuan” kata si Gemuk menjelaskan…..(si rider ini pake helm full face makanya saya nggak tau kalo dia perempuan)

“Hah jadi kalian dari Blitar?.....trus tadi darimana?”….tanya saya dan makin kaget

“Iya kami tadi dari Tanjung Priok mau nyari kapal ke Lampung, tapi nggak ada dan disarankan ke Merak aja” katanya menjelaskan…….

Ampun deh dua perempuan ini nekat banget, dari Blitar mau ke Lampung nyari kapal ferry nya di Tanjung Priok…….huehehe dapet info darimana dia – dan sekarang mau menuju ke merak…..luar biasa.

Saya sudah paham duduk perkaranya sekarang……

“Mbak, Merak itu jauh lho masih 120km lagi sekarang jam 20.30 paling cepet si mbak sampe sana jam 12 malem. Gimana berani mbak?” tanya saya menjelaskan.

“Iya berani pak..” jawab si gemuk semangat, optimis dan tanpa keraguan sedikitpun……

Seandainya dia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, saya sudah siap menawarkan untuk mampir ke rumah dan istirahat saja dulu dirumah saya, baru besoknya melanjutkan perjalanan.

Tapi karena mereka begitu ingin untuk melanjutkan perjalanan akhirnya saya putuskan untuk memandu dia sampai ke Daan Mogot (gila apa kalo saya biarin jalan sendirian – bisa2 nggak keluar-keluar dari Jakarta mereka), kalo saya lepas di Daan Mogot nanti mereka bisa tinggal lurus saja ke Tangerang dan lanjut ke Merak.

Si gemuk yang tampaknya menjadi leadernya kini mengambil alih stang kemudi, dengan lincah mengikuti saya dan mat item menerobos ramainya lalulintas malam itu.

Kami sempet berhenti dulu untuk mengenakan jas hujan karena gerimisnya kini berubah menjadi hujan (tapi tidak lebat), waktu berhenti ini saya makin yakin mereka bukan anak club motor – saya perhatikan motornya Suzuki Smash (no pol AG4854KB) spionnya hanya ada sebelah kanan, jas hujan yang dipakai ponco ini pun cuma satu buah….kalo anak club motor yg lagi turing pastinya kelengkapan motor kumplit, plus jas hujan tipe dua pieces bukan ponco.

Pas berhenti pake jas hujan inilah baru saya sempet nanya nama mereka – Si gemuk ini bernama Tata, sementara temannya yang bertubuh langsing dan lebih tinggi ber nama Novi……

Saya tanya kapan mereka berangkat dari Blitar, kemarin malam kata mereka….bawa motornya gantian katanya.

Wah bener2 berani luar biasa dua perempuan ini, saya langsung merasa jadi Biker Cupu didepan mereka, turing2 saya semuanya gak ada apa2nya. Kalo saya kan turing dipersiapkan dengan matang cari info di internet dulu, liat petanya, kalo rutenya belum dikenal pasti aku libas siang hari dlsbnya, Nah mereka ini lebih edan ternyata jalan malem Blitar – Jakarta sendirian pula, terus lanjut jalan malem lagi Jakarta – Lampung. Nggak bawa peta….blom pernah ke Jakarta….bener-bener biker pemberani.

Weeks bandingan dengan anak club motor….jalan rame-rame, bawa peta, bawa gps plus pake rakom (radio komunikasi), ditiap kota yang dituju disambut dan diantar club lokal setempat…hehehe

Saya angkat topi deh buat keberanian mereka, entah keperluan apa yang menyebabkan mereka senekat itu…… saya hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan kepada mereka.

Di Jalan Daan Mogot, saya kasih briefing terakhir, mereka mengucapkan terima kasih dan langsung lanjutkan perjalanan kamipun berpisah. Saya berputar di putaran pertama yang saya jumpai untuk kembali menuju ke rumah….sambil masih terus berpikir betapa cupunya saya di banding mereka……….

Salam/imam arkan

Ketika Saya merasa Menjadi Biker Cupu

Kamis malam 18 Februari 2010, sekitar jam 20 dengan menunggang Mat Item - Yamaha scorpio ku saya tinggalkan halaman kantor yang berada di kawasan Tanjung Priok untuk pulang menuju rumahku di daerah Pasar Minggu.

Gerimis tipis yang saat itu turun tidak begitu saya pedulikan, saya arahkan mat item menyusuri jalan Yos Sudarso, lalulintas malam itu masih ramai namun lumayan lancar.

Di lampu merah perempatan jl Pemuda – Pramuka, lampu lalulintas menyala merah, sayapun berhenti demikian juga dengan motor2 lain, tiba-tiba boncenger di motor sebelah bertanya pada saya.

“Pak, jalan ke Merak lewat mana ya?”

“Heh, ke Merak?” tanya saya balik, seakan tidak percaya, sambil memperhatikan sipenanya yang ternyata seorang perempuan berperawakan agak gemuk.

“Iya pak ke Merak” katanya meyakinkan saya.

“Wah masih jauh dari sini mbak – ya udah ikuti saya dulu deh nanti didepan saya jelasin” kata saya soalnya lampu sudah menyala hijau.

Motor si gemuk inipun mengikuti motor saya membelok ke jalan pramuka. Diujung jalan pramuka kami berhenti si gemuk ini turun sementara ridernya tetep menunggu di motor.

Kini saya lebih bisa memperhatikan lagi sosok perempuan ini, badanya tidak terlalu tinggi ya rata2 tinggi perempuan Indonesia lah, perawakannya agak gemuk usianya mungkin belum 30 tahun, pakaiannya bersahaja, celana jin ¾ tanpa sepatu (pakai sandal), mengenakan jacket anak muda yang ada kupluknya, dan pake helm half face. Jelas perempuan ini bukan anak motor, ataupun anggota klub motor yang sedang turing.

“Memangnya mau ke Merak ya mbak?” tanya saya kembali meyakinkan akan tujuan mereka.

“iya pak” jawab nya.

“Ya udah kamu nanti dari sini lurus aja terus cari jalan yang arah Grogol, terus ke Tangerang”

“Kamu tau Grogol kan?” tanya saya

“Ndak Pak, saya ngak tau, saya baru nyampe dari Blitar” katanya….

“Hah Blitar?... Mas yang itu tau nggak Grogol?” kata saya sambil menunjuk si Rider yang ada diatas motor (saya berpikir si gemuk ini orang Blitar dan diboncengin sama si Rider ini yang orang Jakarta).

“Dia Ndak tau juga pak, dia bareng-bareng saya dari Blitar, dan dia juga perempuan” kata si Gemuk menjelaskan…..(si rider ini pake helm full face makanya saya nggak tau kalo dia perempuan)

“Hah jadi kalian dari Blitar?.....trus tadi darimana?”….tanya saya dan makin kaget

“Iya kami tadi dari Tanjung Priok mau nyari kapal ke Lampung, tapi nggak ada dan disarankan ke Merak aja” katanya menjelaskan…….

Ampun deh dua perempuan ini nekat banget, dari Blitar mau ke Lampung nyari kapal ferry nya di Tanjung Priok…….huehehe dapet info darimana dia – dan sekarang mau menuju ke merak…..luar biasa.

Saya sudah paham duduk perkaranya sekarang……

“Mbak, Merak itu jauh lho masih 120km lagi sekarang jam 20.30 paling cepet si mbak sampe sana jam 12 malem. Gimana berani mbak?” tanya saya menjelaskan.

“Iya berani pak..” jawab si gemuk semangat, optimis dan tanpa keraguan sedikitpun……

Seandainya dia jadi ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan, saya sudah siap menawarkan untuk mampir ke rumah dan istirahat saja dulu dirumah saya, baru besoknya melanjutkan perjalanan.

Tapi karena mereka begitu ingin untuk melanjutkan perjalanan akhirnya saya putuskan untuk memandu dia sampai ke Daan Mogot (gila apa kalo saya biarin jalan sendirian – bisa2 nggak keluar-keluar dari Jakarta mereka), kalo saya lepas di Daan Mogot nanti mereka bisa tinggal lurus saja ke Tangerang dan lanjut ke Merak.

Si gemuk yang tampaknya menjadi leadernya kini mengambil alih stang kemudi, dengan lincah mengikuti saya dan mat item menerobos ramainya lalulintas malam itu.

Kami sempet berhenti dulu untuk mengenakan jas hujan karena gerimisnya kini berubah menjadi hujan (tapi tidak lebat), waktu berhenti ini saya makin yakin mereka bukan anak club motor – saya perhatikan motornya Suzuki Smash (no pol AG4854KB) spionnya hanya ada sebelah kanan, jas hujan yang dipakai ponco ini pun cuma satu buah….kalo anak club motor yg lagi turing pastinya kelengkapan motor kumplit, plus jas hujan tipe dua pieces bukan ponco.

Pas berhenti pake jas hujan inilah baru saya sempet nanya nama mereka – Si gemuk ini bernama Tata, sementara temannya yang bertubuh langsing dan lebih tinggi ber nama Novi……

Saya tanya kapan mereka berangkat dari Blitar, kemarin malam kata mereka….bawa motornya gantian katanya.

Wah bener2 berani luar biasa dua perempuan ini, saya langsung merasa jadi Biker Cupu didepan mereka, turing2 saya semuanya gak ada apa2nya. Kalo saya kan turing dipersiapkan dengan matang cari info di internet dulu, liat petanya, kalo rutenya belum dikenal pasti aku libas siang hari dlsbnya, Nah mereka ini lebih edan ternyata jalan malem Blitar – Jakarta sendirian pula, terus lanjut jalan malem lagi Jakarta – Lampung. Nggak bawa peta….blom pernah ke Jakarta….bener-bener biker pemberani.

Weeks bandingan dengan anak club motor….jalan rame-rame, bawa peta, bawa gps plus pake rakom (radio komunikasi), ditiap kota yang dituju disambut dan diantar club lokal setempat…hehehe

Saya angkat topi deh buat keberanian mereka, entah keperluan apa yang menyebabkan mereka senekat itu…… saya hanya bisa berdoa semoga Allah memberi kemudahan dan keselamatan kepada mereka.

Di Jalan Daan Mogot, saya kasih briefing terakhir, mereka mengucapkan terima kasih dan langsung lanjutkan perjalanan kamipun berpisah. Saya berputar di putaran pertama yang saya jumpai untuk kembali menuju ke rumah….sambil masih terus berpikir betapa cupunya saya di banding mereka……….

Salam/imam arkan

Wednesday, February 17, 2010

Bekal

Kemarin sore karena badan tidak fit saya pulang on time dari kantor, Alhamdulillah tiba dirumah pas adzan magrib berkumandang, setelah memasukan motor ke halaman rumah saya bergegas ke masjid tanpa sempat berganti pakaian hanya sempat menyambar payung saja....maklum mendung tebal bergelayut dilangit siap menghunjamkan titik air hujan ke bumi.

Dijalan menuju mesjid saya bersua dengan jiran saya seorang Bapak-bapak yang juga akan ke mesjid.

"Asalamualaikum..." ujarnya sambil menyalami tangan saya.
"Waalaikumsalam..." jawab saya sambil menjabat tangannya.
"Udah pulang Mam?..." tanyanya lagi (biasanya saya memang tidak pernah pulang sore, selalu malam)
"Iya pak, ini baru nyampe dari kantor terus langsung mau ke mesjid" kata saya menjelaskan, sambil berjalan di sisinya.
"Iya baguslah, kita ini kan lagi ngumpulin bekal" katanya ringan, "Apalagi disana nanti gak ada yang bisa kita sogok pake duit kita Mam, kalo kita nggak punya amalan, terus bekal apa nanti yang kita bawa coba?" ujarnya lagi setengah bercanda....

Walaupun disampaikan dengan bercanda, namun sangat mengena di hati saya...."Bener juga apa yang dikatakan dia, kita di dunia inikan seharusnya mengumpulkan bekal untuk akherat bukan untuk menumpuk harta dunia, memangnya kita bakalan selamanya hidup didunia? tujuan akhirnya kan akherat, final destination nya akherat bukan dunia....."

Jadi sudahkah kita disela-sela kesibukan kita bekerja memenuhi kebutuhan hidup (untuk yg hidupnya msh pas-pasan) ataupun sibuk untuk menumpuk harta (untuk yg hidupnya sudah mapan), ataupun disela-sela kesibukan kita menuntut ilmu (buat yg masih kuliah, atau belajar) apakah sudah kita upayakan untuk mengumpulkan bekal untuk di akherat kelak.

Jika jawabnya "Belum", maka sebaiknya mulailah dari sekarang.....mumpung masih diberi umur oleh NYA.

Saturday, February 06, 2010

Orang Yang Tidak Dipedulikan Allah

Assalamualaikum wr.wb
Dalam Hadis Shahih Muslim terdapat tiga hadis mengenai orang yang tidak dipedulikan Allah, namun disini saya sampaikan dua buah saja
hadis no 83
Dari Abu Dzar r.a , dari Nabi SAW, sabdanya "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap dengan mereka pada hari kiamat. Mereka itu ialah : (1) Orang yang suka memberi, tapi suka menyebut-nyebut pemberiannya. (2) Orang yang menawar-nawarkan dagangannya dengan sumpah palsu. (3) Orang yang suka berpakaian berjela-jela* karena sangat luasnya."
*) berpakaian sampai menyapu tanah untuk menunjukkan dirinya orang kaya atau bangsawan tinggi.
hadis no 84
Dari Abu Hurairah r.a katanya Rasulullah SAW bersabda : "Ada tiga golongan dimana Allah tidak akan bercakap kepada mereka, tidak membersihkan mereka daripada dosa, --Kata Mua'wiyah juga tidak akan menengok kepada mereka bahkan mereka mendapat siksa yang pedih : (1) Orang tua yang pezina, (2) Raja (penguasa) yang pembohong, (3) Si miskin yang sombong.
Dikutip dari kitab terjemah hadis Shahih Muslim jilid I hadis no 83 dan 84.
Mudah-mudahan Allah membantu upaya dan ikhtiar kita agar tidak termasuk dalam golongan orang yang tidak dipedulikan Allah tersebut diatas.
salam/imam arkan

Saturday, January 23, 2010

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng – Pamengpeuk. #2-2


Tantangan dimulai deh, motor jalannya ajrut-ajrutan nggak bisa milih jalan, stamina terkuras karena harus konsen dan menjaga keseimbangan, tapi sambil ngeliat pemandangan juga hehehe…..; kira-kira dua kilo jalan gak ada perubahan malah makin parah, jadi sempet ragu juga bener nggak sih ini jalannya. Tanya lagi ke penduduk, dijawab bener. Nanya lagi “ini jalannya kayak gini terus ya sampai di Agra Binta?” dijawab “oh nggak pak nanti ada yang bagusnya juga selang seling deh” katanya.

Bagus deh ada harapan jalan bagus, soalnya di pal kilometer tadi disebutkan Agra Binta 34km…..kan kalo 34km ajrut-ajrutan gini bakalan gempor juga kita.
Perjalanan dilanjutkan dengan pelan-pelan saja paling gigi 1 atau gigi 2 aja, akhirny sekitar 20 km dari Agra Binta jalanan membaik – wuih lega rasanya.

Sepanjang perjalanan Tegal beleud – Agra Binta kontur alam masih sama, perbukitan dan banyak kebun kelapa, jarak antar kampong berjauhan kendaraan yang melintas hanya truck ¾ dan pickup yang mengangkut hasil bumi, angkutan umum tidak terlihat, sepi banget. Lumayan runyam kalo motor ada trouble di ruas ini. Motor sang suhu aja sil shockbrekernya jadi bocor…..tapi masih sanggup melanjutkan perjalanan.

Akhirnya kami tiba di Agra Binta sekitar jam 11.15, kami lanjutkan perjalanan menuju sindang barang yang berjarak 15km dari Agra Binta, kali ini jalanan sudah lebih baik dan terlihat angkutan umum berupa minibus Elf. Namun walaupun jalanan sudah lebih baik untuk mencapai Sindang Barang kami harus melalui 2 buah jembatan darurat, berupa jembatan baley yang lantainya berupa balok papan kayu……

Bener-bener deh kami seperti habis menembus daerah terisolir saja….padahal ini dipulau jawa lho.

Adzan dzuhur terdengar ketika kami memasuki Sindang Barang – dan ternyata tidak ada pom bensin di Sindang Barang ini padahal kota ini termasuk kota yang cukup ramai. Bro Arif terpaksa mengisi bensin eceran untuk bisa melanjutkan perjalanan, sedangkan bensin mat item masih cukup untuk mencapai pamengpeuk.

Saya sudah lega bisa mencapai Sindang Barang ini dengan selamat, karena dari Sindang Barang ke arah Pamengpeuk sebagaian besar saya sudah pernah lewati, tinggal sepotong saja yaitu dari Cidaun/Cijayanti ke Ranca Buaya itu saja yang belum saya lewati. Artinya rute selanjutnya saya sudah familiar.

Kami lanjutkan perjalanan menuju Cidaun (sekitar 25km dari Sindang Barang) – saya pernah ke Cidaun Maret 2009 kemarin bersama bro Djafron dan bro Wawan, kali ini saya lihat disamping jembatan darurat yang menuju cidaun sudah dibangun jembatan baru……baguslah sudah ada perbaikan, juga sebagian lubang saya liat sudah ditambal.

Dicidaun ini kami mampir dulu ke pantai Cijayanti – buat santap siang dan istirahat saat itu jam sudah menunjukan pukul 13.00. Santap siangnya nikmat banget pake ikan bawal bakar yang masih seger dan daging semua (bawal fillet?) sampai nggak abis tuh ikan bakarnya udah kekenyangan….yummy banget bo.

Menjelang jam 15 perjalanan kami lanjutkan dalam cuaca hujan, antara Cijayanti – Rancabuaya (15km) ini ada ruas yang masih rusak kira-kira sepanjang 2 kilo meter adanya selepas Cijayanti selanjutnya jalanan bagus.

Sayangnya saat itu hujan lebat, kalo tidak kami akan lebih bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan alam kepada kita, kami berada diperbukitan dimana disebelah kanan ada persawahan hijau yang membentang dan berbatasan dengan laut/pantai, disebelah kiri kami perbukitan terbuka yang digunakan berladang oleh penduduk. Sangat indah – ditempat-tempat yang tidak digarap manusia perbukitannya masih berupa hutan2 kecil penuh pepohonan.

Setibanya di persilangan jalan Ranca Buaya, hujan semakin deras kami putuskan untuk lanjut ke Pamengpeuk dan tidak mampir ke pantai Ranca Buaya. Jarak Ranca Buaya – Pamengpeuk sekitar 33km sekitar tiga kilometer selepas persilangan jalan tadi…..hujan semakin menggila, kini disertai angin kencang sementara kami berada diperbukitan yang terbuka, akhirnya ketika kami melihat ada sebuah masjid cantik di kanan jalan kami putuskan berhenti.

Mesjid ini cantik karena terletak diatas perbukitan, dari teras disebelah kanan kami bisa melihat hamparan sawah dan tepi laut. Bangunan mesjid ini masih baru dan arsitekturnyapun modern, jadinya betah deh nunggu hujan disini. Kami sholat dzuhur dan ashar terus istirahat, selain kami juga ada pengendara2 lain yang berteduh disini.

Sekitar pukul 16.30 hujan reda dan kamipun melanjutkan perjalanan menuju pamengpeuk, sepanjang jalan kami masih disuguhi pemandangan indah sampai akhirnya kami tiba disatu-satunya pom bensin di Pamengpeuk pada pukul 17.50 setelah sempet mampir ke depan gerbang pusat peluncuran roket LAPAN untuk ngambil foto bro Arif sebagai bukti sudah nyampe Pamengpeuk.

Pom bensin ini ternyata tidak buka 24 jam, jam 18.00 dia akan tutup jadi kami termasuk pelanggan terakhir hari ini, di pom bensin ini kami lepas jas hujan dan bersih2 terus sholat magrib sekalian. Tadinya kami ingin lanjut ke Garut (90km dari pamengpeuk) tapi melihat mendung mulai datang dan badan sudah lelah akhirnya kami putuskan untuk menginap di Pamengpeuk saja……

Setelah makan malam kami langsung istirahat di penginapan dan langsung tertidur kelelahan, sepertinya semua makanan yang kita makan hari itu tidak ada yang tersisa jadi daging deh, semua terkonversi menjadi energy yang kita pake hari itu…..hehehehe

Minggu, 27 Desember 2009
Etappe III : Pamengpeuk – Garut – Cijapati – Bandung – Cianjur – Puncak – Bogor – Jakarta = 329km
Udara cerah Pamengpeuk di minggu pagi ini mengiringi kami di etappe terakhir touring kami, kami start dari penginapan sekitar pukul 07.00 dan langsung menuju ke arah Cikajang – Garut. Ruas Pemengpeuk – Cikajang – Garut ini buat saya sudah cukup familiar karena saya sudah tiga kali melalui rute ini.

Kondisi rute ini jalanannya baik, beberapa kilometer bahkan sudah ada yang baru diaspal dengan hotmix, tidak terlalu lebar dan intensitas kendaraannya cukup ramai. Sedangkan konturnya sendiri berada didaerah perbukitan sehingga kadang dijumpai tanjakan dan turunan. Kelokan-kelokan banyak sekali karena jalan ini mengikuti atau melipir di pinggang bukit, sehingga biasanya disalah satu sisi adalah dinding bukit dan disebelahnya lembah atau jurang.
Pemandangannya yang jelas cantik dan tidak membosankan, ada perkebunan teh yang menutupi perbukitan seperti karpet hijau tebal, ada bukit batu yg menjulang, pokoknya enak dilihat deh.

Perjalanan sangat lancar karena hari masih pagi, kami juga sering berpapasan dengan mobil bak terbuka yang mengangkut orang yang kelihatannya akan rekreasi ke pantai-pantai yang ada di Pamengpeuk.

Menjelang pukul 09.30 kami sudah tiba di Garut, bro Asep mampir sebentar ke tempat penjualan oleh2. Digarut inilah baru kami bertemu dengan biker2 lain yang sedang turing – maklum garut juga salah satu daerah tujuan turing……hehehe berbeda banget dengan saat kami melintas di rute Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang, tidak satupun rombongan biker yg berpapasan….hihihi (kayaknya sih emang kita yang nyeleneh cari rutenya hahahaha).

Dari Garut kita lanjut ke arah Bandung, tapi kali ini kita tidak lewat Nagrek, tapi mencoba jalur alternative lewat Cijapati. Ternyata jalur alternative ini memang menantang, tanjakannya gila-gilaan hehehe……dan pemandangannya pun cukup indah. Sayang di ujungnya (Majalaya – Dayeuhkolot) masih sering macet.

Lepas dari Bandung kami sempat makan siang di Cimahi, di Padalarang rante motor sang suhu putus – untung deket bengkel jadi bisa langsung ganti rante.

Selanjutnya perjalanan lancar di Cianjur hujan lebat, Puncak lancar karena satu arah dan kering(saat itu jam 16.00), tapi di Cibulan hujan lagi terus sampai Bogor dan lalulintas menjadi padat merayap untungnya motor masih bisa nyelap nyelip diantara celah mobil yang ada……

Depok kami lewati dan kami berpisah di bawah flyover TB Simatupang bro Arif lurus ke arah pancoran sedangkan saya berbelok ke kanan menuju Poltangan. Saya tiba dihalaman rumah pukul 19.10 hari minggu tangga 27 Desember 2009 dengan selamat setelah menempuh total 730km.

Alhamdulillah selesai juga selusur jalur pantai Selatan ini di tahun 2009, Alhamdulillah sudah diberi kesempatan oleh Allah untuk menyelusuri jalan mulai dari Muara Binangeun sampai Pangandaran.

Sampai jumpa dalam catatan perjalan saya yang lain.
Imam arkananto
Samudera Indonesia Motor Community (SIMC) – 018
Mailing List Yamaha Scorpio (MiLYS) – 170
Skywave Owner Club (SOC) - 157
Data angka :
total kilometer 730km
total biaya bensin Rp 102.500,- (full to full)
konsumsi bensin = 1 : 32km
Penginapan di Ujung Genteng = Rp 250.000,-
Penginapan di Pamengpeuk = Rp 100.000,-

Touring Jalur Pantai Selatan Jawa Bagian Barat : Ujung Genteng - Pamengpeuk #1-2

Memang tidak mudah mencari teman untuk diajak turing dengan motor khususnya untuk menjelajah rute-rute yang tidak lazim dilalui biker. Tapi orang sering lupa dari perjalanan ke tempat2 tidak lazim inilah tempat-tempat indah penuh potensi wisata ditemukan dan kemudian dipopulerkan.
Mungkin empat atau lima tahun lalu orang tidak banyak tau tentang ujung genteng ataupun sawarna misalnya, karena prasarana jalannya yang masih jelek, medannya yang menguras tenaga ataupun akomodasinya yg terbatas dlsbnya pokoknya lebih banyak tantangannya sehingga orang berpikir dua kali untuk mengunjunginya. Kini setelah banyak orang berkunjung ke sana dan bercerita tentang keindahan atau keunikan tempat tersebut, maka tempat itu sekarang menjadi populer. Saat ini hampir semua komunitas biker mungkin mencita-citakan untuk bisa mengunjungi kedua tempat ini, dengan kata lain kedua tempat ini kini menjadi target tujuan turing.
Demikian juga ketika saya mencari teman untuk diajak turing menuntaskan obsesi saya untuk menyelusuri jalur pantai selatan Jawa Barat ini, cukup sulit untuk mendapatkannya sebagian karena memang sudah ada jadwal sendiri, sebagian lagi karena berpikir dua kali dengan medan yang akan dihadapi.
Untungnya H-2 menjelang keberangkatan seorang teman bersedia ikut – teman ini satu angkatan saat kami kuliah di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara dulu (stan angkatan 82), dan secara kualifikasi dia ini levelnya termasuk suhu secara tahun 1984 dia sudah solo turing Jakarta – Surabaya naik vespa, sekarang ini hobbynya adalah miara motor-motor Honda lawas. Honda CB200, Honda XL, Honda Astrea Prima th89 adalah sejumlah koleksinya.
Bro Arif Septiadi – kita singkat jadi bro Asep demikian nama teman saya tsb dan kali ini dia akan turing dengan Honda astrea prima tahun 1989 nya. Nah kebayangkan saya turing pakai Yamaha Scorpio 225 cc tahun 2005 sementara Bro Asep dgn Astrea Prima 100cc th 1989 so pasti saya yang harus menyesuaikan irama dan kecepatan dalam turing kali ini
Jalur pantai selatan jawa bagian barat yang saya maksud adalah jalan yang membentang mulai dari Muara Binangeun di Banten Selatan sampai Pangandaran di Selatan Ciamis kira-kira jarak totalnya adalah 566km.
Karena jaraknya yang cukup jauh saya tidak menyelesaikannya dalam satu kali perjalanan, tetapi saya penggal dalam empat ruas utama, dan pelaksanaannya pun mengikuti hari libur ataupun cuti yang tersedia. Apalagi saya selalu menempatkan rute yg belum saya kenal harus dilalui pada siang hari, sehingga lama perjalanan yang dibutuhkan menjadi lebih panjang.
Adapun ke empat ruas utama tersebut adalah sebagai berikut :
1. Muara Binangeun – Bayah – Sawarna – Cisolok – Pelabuhan Ratu = 114km
2. Pelabuhan Ratu – Kiara Dua – Jampang Kulon – Surade – Ujung Genteng = 103 km
3. Ujung Genteng – Surade – Tegal Beleud – Arga Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188 km
4. Pamengpeuk – Cipatujah – Cikalong – Cijulang – Pangandaran = 161 km
Dari keempat rute tersebut tinggal yang nomor 3 yang belum saya selesaikan rute yang lainnya sudah saya selesaikan dalam waktu yang berbeda-beda bahkan ada yg sampai lebih dari satu kali saya kunjungi, rute pertama diselesaikan agustus 2007 dan oktober 2009, rute nomor dua Maret 2006, Ferbuari 2008 dan Maret 2008, rute nomor empat Agustus 2009.
Rute no 3 baru kesampaian Desember ini tepatnya tanggal 25,26,27 Desember 2009.
Berikut ini ceritanya.
Jum’at 25 Desember 2009
Etappe I : Jakarta – Bogor – Cikidang – Plb Ratu – Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng = 213km
Kami start dari halaman rumah saya di Poltangan jam 07.00 perjalanan lumayan lancar, sampai dengan pertigaan cikidang saya memimpin didepan, namun selanjutnya saya persilahkan suhu Asep memimpin sesuai aturan turing yang lazim motor dengan CC lebih kecil, ataupun yg berboncengan berada di depan…….
Sejak saat itu mat item (Yamaha scorpioku) yang biasanya beringas harus belajar kalem dan santai, menyesuaikan dengan kecepatan motor sang suhu yang di maintain di 50 – 60 kpj. Sebenernya motor sang suhu bisa aja lari sampai 80kpj tapi keliatannya beliau nggak pengen mesin motor kesayangannya rontok hehehe (maklum sdh berumur 20 tahun). Tapi sisi positifnya konsumsi bensin mat item jadi irit 1 lt : 32 km padahal dah pake karbu pe28 biasanya dalem kota Cuma dapet 1 : 26/27.
Sesekali kalo saya pengen merasakan beringasnya mat item…..maka saya jauhkan jarak dengan sang suhu….baru deh digeber mendekat lagi dibelakang motor suhu.
Kondisi jalan Jakarta sampai Pelabuhan Ratu cukup baik, masih bumpy tapi lubang2 sudah berkurang, trek cikidang juga kondisi bagus dan masih menantang untuk dilibas sama yang doyan tikungan2 buat rebahan.
Pukul 09.30 kami sudah tiba di pertigaan Pelabuhan Ratu selanjutnya belok ke kiri mengarah ke jalan raya Sukabumi – Pelabuhan Ratu, Disini sempet berhenti isi perut dulu dan baru lanjut lagi sekitar jam 10.30.
Menjelang masuk kiara dua hujan gerimis mulai turun – tapi karena mendung terlihat tidak merata kami tetep lanjutkan perjalanan tanpa mengenakan jas hujan, sambil kita cari-cari masjid untuk sholat jum’at.
Untunglah ketemu mesjid tepat pukul 11.55 saat hujan semakin deras, jadi sholat jum’at sekalian berteduh. Sholat Jum’at nya rada unik, setelah Adzan jam 12, khotbah disampaikan dalam bahasa Arab singkat dan padat (dan saya gak ngert hehehe) sholat jum’atnya selesai jam 12.15 (cepet banget kan). Terus bilal berdiri dan qamat lagi – imam dan jemaah berdiri dan kemudian sholat 4 rakaat dipimpin imam seperti sholat Dzuhur - unik saya baru tau yg seperti ini……(saya dan bro asep tidak ikut sholat tsb – kita sholat ashar jama taqdim). Sisi baiknya sholat nya cepet sehingga jam 12.30 kita sudah bisa lanjut start lagi hehehe….
Jas hujan terpaksa kami kenakan juga menjelang Jampang Kulon, dikarenakan hujan deras turun dengan lebatnya – saya bersyukur pake sepatu AP boot sehingga kaki dijamin tetep kering…..
Kondisi jalan Kiara Dua – Surade – Ujung Genteng, cukup baik dalam artian sudah banyak lubang yang ditambal sehingga perjalanan bisa berlangsung cukup lancar tanpa harus meliuk-liuk menghindari lubang.
Di Surade sekarang ini sudah ada 3 buah SPBU, padaha sewaktu kunjungan saya terakhir disini (Maret 2008) baru ada satu SPBU dan itupun sedang dibangun/belum dioperasikan. Pesat sekali perkembangan daerah ini.
Jam 14.00 kami sudah tiba di Ujung Genteng yang saat itu suasananya crowded……meriah, banyak sekali pengunjungnya….hiks ujung genteng tidak seperti dulu lagi, dulu saya senang dengan ketenangannya, sunyi, sepi alami – sekarang terlihat lebih komersial banyak pondok/saung didirikan di tepi pantai.
Bahkan ketika saya mengarahkan motor menuju pantai Cibuaya melalui jalanan tanah (sekarang sudah ada jembatan beton lho – dulu masih batang kelapa, atau malah bisa pilih nyeberang sungai; nggak seru lagi ah sekarang), ternyata di Cibuaya pun ramai bukan main secara ada kemah baksos pramuka se kabupaten sukabumi…….waaks ramai banget, nggak nyaman deh.
Setelah muter2 akhirnya dapet tempat nginep disebuah kamar seadanya dipinggir pantai ujung genteng, sorenya setelah unpacking barang-barang mulai deh saya sounding dan cari info mengenai jalur yang besok harus saya lalui, selain tentunya mempelajari peta yang saya bawa.
Satu info berharga saya peroleh dari tukang ojeg yang tadinya nawarin kita untuk lihat penyu di pangumbahan. Dia pernah naik motor dari Ujung Genteng sampai di Cidaun untuk beli perahu disana, menurut dia jalannya sudah baik, kalo kita berangkat pagi-pagi jam 7 sampai disana sekitar tengah hari sekitar jam 13 an
Info yg berharga; setidaknya saya tau rute tsb bisa ditembus dengan motor, butuh waktu 6 – 7 jam untuk sampai cidaun. Kalo masalah jalannya dia bilang sudah baik saya tidak perhitungkan, karena baik menurut ukuran dia mungkin sekali beda dengan baik menurut kita…..
Malam itu ujung genteng mati lampu…….setelah santap malam….sekitar jam 10. an kami pergi tidur mengumpulkan tenaga kembali untuk perjalanan besok……..

Sabtu, 26 Desember 2009
Etappe II : Ujg Genteng – Surade – Tegal Beleud – Agra Binta – Sindang Barang – Pamengpeuk = 188km
Pagi hari sekitar jam 07.00 lebih sedikit diiringi hujan gerimis kami start dari Ujung Genteng untuk melanjutkan etappe II yang merupakan jalur baru atau jalur yang sebagian besar belum saya kenal sama sekali (kecuali mulai Sindang Barang kea rah Pamengpeuk sudah pernah saya lewati).
Untunglah cuaca berpihak pada kami, belum lagi jauh meninggalkan Ujung Genteng, cuaca menjadi cerah, matahari memperlihatkan wajahnya – udara menjadi segar….gabungan antara sisa dinginnya malam dan hangatnya mentari pagi…….Jas Hujan kami lepas dan kami simpan kembali perjalanan dilanjutkan menuju Surade dalam udara yang segar tanpa polusi….
Di Surade kami mengisi bensin full tank, karena tidak tahu apakah dijalan nanti masih ada SPBU lagi, dan ternyata memang benar SPBU baru ada di Pamengpeuk.
Begitu sampai di pertigaan yang ada rambu penunjuk arah Tegal Beleud, Cikaso belok ke kiri, maka kamipun membelok ke kiri mengikuti petunjuk rambu tersebut.
Lebar jalannya sendiri sama seperti lebar jalan Surade – Ujung Genteng, jadi tidak terlalu lebar namun kondisinya lebih jelek 10 km pertama banyak lubang2 walaupun tidak besar dan masih mudah dihindari, barulah setelah memasuki perkebunan Cikaso, jalanan lebih baik berupa hotmix mulus.
Di Cikaso kami melihat ada rombongan orang yang siap-siap hendak berburu, dengan kendaraan jip 4x4 yang diatas atapnya ada kursi tempat sang pemburu membidik buruannya.
Selepas Cikaso suasana jalannya semakin sepi belum tentu lima menit sekali kita papasan dengan kendaraan dari arah berlawanan, demikian juga angkutan umum saya perhatikan tidak ada yang berpapasan.
Pemandangannya sendiri top markotop deh, kami melewati perkebunan karet, hutan jati dan ladang2 penduduk, kontur alamnya berbukit-bukit, di beberapa tempat dimana kami berada dipunggung bukit yang terbuka kami bisa melihat lembah2 dan bukit2 hijau – cantik sekali.
Setelah sarapan disebuah warung sate beberapa kilometer sebelum Tegal Beleud, akhirnya kami sampai di Tegal Beleud sekitar jam 10.00 setelah berjalan sekitar 39km dari Surade, kami langsung lanjut dan sempet bingung karena rambu penunjuk arah menyebut Agra Binta sebagai kota kecamatan berikutnya…..lho padahal dari kedua peta yang jadi pedoman saya tidak mencantumkan Agra Binta sama sekali, yang ada adalah Rawa Uncal, Ciagra.
Daripada nyasar mendingan tanya penduduk saja, dan memang menurut dia untuk ke sindang barang memang lewat Agra Binta, jadi memang arahnya sudah benar.
Ok, lanjut kalo begitu…. Selepas Tegal Beleud ternyata jalanan semakin parah, sekarang jalanan berupa jalanan aspal yang sudah terkelupas yang tersisa adalah batu-batu fondasi jalan….itupun masih ditambah bergelombang permukaannya….hehehe

Sunday, January 27, 2008

Bang Arief Goes to Asrama


Sudah hampir tiga minggu ini Bang Arief - anakku yang penyandang tuna grahita tinggal di Asrama. Iya Bang Arief tinggal di Asrama tepatnya sejak tanggal 05 Januari 2008 - dan sudah selama itu pula kami tidak mendengar kegaduhan yang selalu dibuatnya. Rumah terasa
sepi......tetangga sebelah-sebelah pun juga bertanya kenapa akhir-akhir ini tidak terdengar kehebohan yang dibuat bang Arief.....

Bang Arief kini tinggal di Asrama SLB Nusantara di daerah Beji - Depok. Untuk tiga bulan pertama ini tidak boleh ditengok - konon ini untuk membentuk kembali kepribadian dan prilaku bang Arief.
Memang prilaku bang Arief akhir-akhir ini semakin tidak terkendali.
Sejak dia Me-merdeka-kan diri di bulan Agustus (baca Merdekanya Bang Arief http://www.imamarkan.multiply
.com/journal/item/33) prilakunya memburuk. Disiplin dan tanggung jawabnya runtuh, prilakunya sesuka hatinya.

Kabur dari sekolah pada saat ulangan umum dianggap biasa olehnya - padahal dulu dia cukup bertanggung jawab, senang mengerjakan PR dlsbnya.

Memecahkan kaca jendela kamarnya dengan sengaja juga dilakukan tanpa rasa bersalah.......Susah sekali menasehatinya, mungkin juga ini karena terbawa masa puber di usianya yang lima belas tahun ini.

Pernah dia pergi ke Muara Karang sendirian walaupun sudah kami larang, tapi nekat pergi. Disana dia ditipu orang, uangnya diambil (tidak banyak sih mungkin sekitar Rp 30 ribuan), beruntung bang Arief masih bisa pulang ke rumah.

Terakhir dia pamit mau berenang, ternyata dia tidak pergi berenang tapi malah ke blok M, beli macem2 (kacamata, jaket, lampu meja dlsbnya) ternyata dia ngambil uang ibunya.....

Melihat kelakuannya yang semakin membahayakan dirinya ataupun orang lain, maka kami sepakat untuk mencarikan asrama buat Bang Arief, agar dia ada kegiatan dan bimbingan sepanjang hari. Tadinya kami berpikir untuk memasukan ke pesantren....tapi pesantren mana yang bisa menerima siswa luar biasa....yang non pesantren aja sulit dicari? ternyata untuk mencari pendidikan berasrama untuk anak dengan kebutuhan khusus sangat sulit di Indonesia ini...(hiks wong pendidikan untuk anak normal aja sekolahannnya banyak yang ambruk....konon lagi untuk yang berkebutuhan khusus....menyedihkan).

Setelah mencoba mencari-cari akhirnya isteri saya menemukan SLB Nusantara ini, kami sepakat untuk menitipkan Arief disini.

Mengajak Arief untuk bisa tinggal di asrama ini pun butuh usaha besar dan negosiasi yang alot, Bang Arief ngotot gak mau tinggal di asrama - reaksi yang wajar sih, anak yang normalpun juga pasti tidak langsung mau jika disuruh tinggal di asrama - akhirnya dengan bujukan dan usaha keras mau juga dia tinggal asrama........

Tiga bulan pertama ini pastilah merupakan masa yang berat....bukan saja buat bang Arief tapi juga buat Saya sekeluarga, berpisah dengan anggota keluarga yang disayangi ternyata bukanlah hal yang mudah.......

Seringkali kami disergap rasa kangen dan rindu yang hebat pada Bang Arief, tapi kami harus tega - kami hanya bisa berdoa kepada Allah semoga bang Arief senang dan gembira di Asrama
sana........

Doa'in bang Arief ya.......................

Monday, September 03, 2007

Merdeka(nya) Bang Arief



Bang Arief, begitulah kami memanggilnya....nama lengkapanya Imam Khairul Arief; arti secara bebasnya adalah Pemimpin yang Baik dan Bijaksana.....; itulah yang kami harapkan dari anak nomor dua kami ini.

Namun Allah yang Maha Kuasa berkehendak lain - Sewaktu dalam kandungan CMV (Cito Megali Virus) menyerangnya - Bang Arief terlahir sebagai penyandang tuna grahita - IQ nya  dibawah normal, motorik halus nya tidak berkembang baik, bicaranya gagap, sikapnya hiperaktif, kemampuan matematisnya sangat sederhana, prilakunya kadang emosional dan ekspresif.

Bang Arif saat ini (Juli 2007) telah duduk di bangku kelas 3 SMP Luar Biasa (SLB C) "Nur Abadi" usianya yang masuk 15 tahun, menyebabkan dia berada pada masa puber nya (sama seperti remaja normal lainnya, penyandang tuna grahita juga mengalami masa puber) susah sekali mengatur sikapnya.

Entah mengapa tanggal 17 Agustus dipilihnya sebagai hari kemerdekaannya, pagi itu sekitar jam 05.45 dia sudah siap berpakaian seragam sekolahnya - setiap pagi saya selalu mengantarnya ke sekolah dan pulangnya dia naek ojek langganan - begitu saya selesai mandi dan siap mengantarnya ternyata Bang Arif sudah tidak ada. Pintu depan terbuka dan saya longok keluar pintu pagar juga terbuka.....Bang Arif kabur....;

Kamipun panik.... memang sudah lama dia minta pergi ke sekolah sendiri naek angkot; tapi selalu kami larang (siapa juga yg tidak kuatir anak seperti ini berangkat sendirian) dan kami selalu janjikan nanti kalo pas liburan kami akan latih naek angkot. Rupanya hari inilah batas kesabaran dia menanti janji kami......

Isteri saya dapat info dari seorang ibu tetangga bahwa dia  melihat bang Arif berlari dengan seragam sekolah ke ujung jalan besar.....; Saya keluarkan Mat item (scorpio ku) mencoba mencari Bang Arif.....di ujung jalan Poltangan tidak ketemu, ke Arah gedung Antam tidak juga bersua - lanjut ke stasiun KA Lenteng Agung juga tidak tampak; akhirnya saya putuskan ke sekolahnya  di Jagakarsa. Sampai di sekolah yang masih sepi saya lihat bang Arif sedang duduk di bangku panjang di depan kelas......alhamdulillah gumamku.

Dia cengar-cengir melihat saya datang dan berucap "Ayah....berhasil yah, abang berhasil naek angkot ke sekolah".......tanpa rasa salah sedikitpun....huh.....

Itulah awal kemerdekaan bang Arif....... selanjutnya petualangan demi petualanganpun dia mulai.............

Tanggal 18 Agustus dia kabur ke rumah Yangti nya di Tegalan-Matraman, Begitu juga tanggal  21 Agustus berhasil mengelabui tukang ojek langganannya dia kabur ke tempat Yangti nya lagi...
Tanggal 24 Agustus dia kabur lagi tapi gak jelas mau kemana dia - dipergoki isteri saya  yang sedang pulang kantor.
Tanggal 29 Agustus kabur lagi kali ini dia pulang di anter tukang ojek Stasiun Pasar Minggu.

Untuk menghindari hal-hal yg tidak di inginkan kami belikan dia kalung - seperti kalung pasukan Amerika, dengan peneng graviran nama dan alamatnya sebagai bandul kalung tsb.

Tanggal 07 September kabur lagi dia, kali ini dia muncul di Tanjung Priok nyusul ke kantor saya.
Tanggal 08 September lagi-lagi kabur kali ini dia muter2 dulu ke jalan Sabang, mampir ke duta  suara..(beli kaset) dan kemudian muncul di rumah Yangtinya......

Duh....bang Arif kemana lagi kamu akan bertualang nak?......hiks....bisa jadi dia akan muncul di tempat anda.......

Bang Arif semoga Allah SWT selalu melindungimu dimanapun kamu berada - ayahmu tidak akan bisa mendampingimu dalam kehidupanmu selamanya nak.......tapi Allah bisa.

Selamat Merdeka ya nak...........

Friday, December 29, 2006

Mount Ijen Touring Report #6


Etappe VI : Malang – Blitar – Ponorogo – Solo – Semarang – Batang = 485 km

Jum'at 14 Juli 2006.

Jum'at pagi setelah sarapan bersama keluarga Dik Tjuk, saya pun segera menyiapkan mat item, oli saya tambahkan lagi, side bag saya pasang, sekarang bahkan diatas tangki saya letakan kotak sepatu berisi safety shoes saya yang masih basah tentunya lagi-lagi menggunakan cargo net sebagai pengikatnya, ternyata sungguh bermanfaat cargo net yang selalu saya sungkupkan ke tangki mat item ini.

Bill hotel segera saya selesaikan, dan beruntungnya ternyata Hotel Margo Suko ini melayani pembayaran dengan credit card, jadi lumayanlah bisa menghemat uang kas ditangan, hehehe padahal rate kamarnya cukup murah yaitu Rp 125.000,- semalam setelah diskon, rate aseli sebelum diskon Rp 180.000 kalo gak salah. Cukup murah menurut pendapat saya lho, soalnya kamarnya bersih dan apik, wah bisa jadi tempat nginep andalan nih kalo liburan ke Malang lagi....hehehehe.

Pukul 09.30 saya berpamitan dengan keluarga Dik Tjuk, dan kamipun segera menunggangi mat item. Cuaca pagi itu cukup cerah walaupun disana – sini tampak berawan. Keluar dari kota Malang tidak sulit tinggal menelusuri lagi jalan yang kemarin dengan arah yang berlawanan. Sedikit diluar kota Malang saya sempatkan untuk mengisi Bensin, saya minta petugas pom bensin untuk mengisi Full Tank, ternyata butuh Rp 33.000,- untuk mengisi penuh tangki besin mat item.

Malang – Blitar berjarak sekitar 77km, jalan menuju Blitar ini cukup baik, lebar dan mulus, suasananyapun cukup ramai, seperti umumnya jalan di jalur selatan pulau jawa jalanan menuju blitar ini juga berkelok-kelok dan naik turun, karena memang sebagian besar daerah selatan jawa adalah perbukitan atau dataran tinggi. Namun kelok2an dan suasananya kali ini tidak seperti jalur Lumajang – Malang kemarin. Satu lagi ciri khas jalur selatan pulau jawa ini adalah seramai-ramainya jalur selatan tetap saja tidak seramai jalur di Pantura, mungkin hal ini disebabkan juga karena jarak satu kota dengan kota lainnya tidak terlalu rapat.

Dengan kondisi yang demikian maka di jalur selatan ini lebih memungkinkan untuk mempertahankan kecepatan pada tingkat tertentu lebih lama – atau tingkat kecepatan konstan lebih lama. Jadi walaupun sulit untuk mengembangkan top speed karena jalurnya yang berkelok-kelok, namun jalur selatan tingkat hambatannya lebih sedikit, alhasil kadang waktu tempuh bisa lebih cepat. Lain dengan jalur pantura, yang kadang kita bisa menggapai top speed di 110 – 120 kpj, tapi setelah itu harus bermacet ria karena ketemu pasar tumpah, atau terhadang oleh truk yang berjalan lambat.

Mat item biasa saya pacu melalui jalur selatan ini di kecepatan 80kpj, tapi jika pas jalur memungkinkan, top speed hanya bisa mentok di 100 kpj, sebelum kemudian harus mengurangi kecepatan karena muncul kelokan berikutnya.

Blitar ternyata bisa kami lalui lebih cepat dari yang saya bayangkan, tapi sebelum sampai di Blitar kami melewati kota Wlingi disini terdapat bendungan Ir Sutami (waduk karang kates?), fisik bendungan bisa terlihat dari jalan raya. Sayangnya saya tidak sempat mengambil fotonya karena padahal pemandangannya lumayan cantik, mengingatkan saya pada bendungan Jatiluhur di Purwakarta.

Ketika mengarah keluar kota Blitar ada papan penunjuk jalan menuju makam Proklamator Indonesia – Presiden Pertama Indonesia Ir Soekarno, sayangnya karena Arif sudah pengen pulang dan tidak mau saya ajak untuk mampir ke sana jadi saya tidak mengunjungi makam sang Proklamator ini. Padahal pengen juga tahu seperti apa sih makamnya.

Alhasil kami teruskan perjalanan meninggalkan Blitar mengarah ke barat, dan karena situasi jalan seperti yg saya sampaikan diatas lebih sepi dan minim hambatan maka kota demi kota pun dapat kami lalui dengan cepat. Tulung Agung, Trenggalek lewat sudah, sampai akhirnya kami tiba di Ponorogo – kota Reog (kesenian khas ponorogo) dan juga kota Warok (mungkin semacam jawara kali ya kalo di Jakarta tempo dulu) pada jam 13.30. Karena tuntutan perut dan saya tertarik dengan banyaknya warung nasi gule dan sate kambing, akhirnya saya berhenti disebuah warung kecil disudut jalan yang menjual nasi gule dan sate kambing.

Saya dan arif pesan nasi gule dan masing-masing sepuluh tusuk sate kambing. Tempat gulenya terbuat dari Guci tanah liat, mengingatkan saya pada penjual nasi Gule Tikungan (Gul Tik) di jalan Mahakam – Bulungan dikawasan Blok M. Yang membedakan adalah gule yang di Ponorogo ini rasanya jauh lebih mantap....sedep bumbunya meresap dan seger serta porsinya lebih banyak, udah gitu harganya murah lagi. Sate kambingnya tusukan memang tidak besar-besar tapi dagingnya asli empuk banget. Saking uenaknya saya dan arif nambah lagi nasi gulenya.......Pas bayar kami kaget cuma ditagih Rp 21.500,- saya sampai meyakinkan diri lagi ke si ibu penjual, apa sudah dihitung semua? Katanya sudah dihitung semua, ya sudah saya bayar. Sampai diatas motor ketika melanjutkan perjalanan pada jam 14.00 saya masih kuwatir kalo2 si ibu penjual salah hitung.....; sebagai gantinya ya sudah saya do'a kan saja semoga di kasih rezeki yang banyak dan dagangannya laris manis..............

Country road, take me home...to the place I belong....south Jakarta, country momma....take me home...country road....Bait lagu country road dari John Denver terngiang di pikiranku, ketika menyusuri jalan antara Ponorogo dan Wonogiri........kombinasi pemandangan alam, jalanan yang berkelok-kelok dan kerinduan untuk segera kembali ke rumah cocok sekali dengan bait-bait lagu John Denver tadi......

Mat item terus menelusuri jalan selatan jawa yang indah, melewati wonogiri dan kemudian menuju Solo, jam 16.30 saya sudah tiba di Solo dilanjutkan mencari jalan ke Semarang via Boyolali – Salatiga – Bawen dan Ungaran..... Setelah sedikit berputar-putar dan bertanya akhirnya didapatlah jalan yang benar.

Sedikit diluar Solo sekitar jam 17.00 saya berhenti untuk sholat ashar dan istirahat sejenak, ketika akan melanjutkan perjalanan lagi sekitar pukul 17.30 saya cek kembali ketinggian oli Mat Item, ternyata agak berkurang cukup banyak walaupun masih sedikit dibawah garis atas, agak kuatir juga saya dengan kondisi tersebut karena jam segini sulit untuk cari bengkel yg jual oli Yamalube..(persediaan oli saya sudah habis di Malang).

Akhirnya saya tetap lanjutkan perjalanan dengan harapan dehidrasinya gak bertambah parah setidaknya oli masih ada sampai di Batang nanti (sekitar 90km dari semarang). Jalur Solo – Semarang via Boyolali ini ternyata cukup padat terutama dengan truk-truk Container dan Bus-bus Malam yang mulai keluar (Solo – Jakarta). Truk-truk Container ini kelihatannya membawa peti kemas yang akan dikapalkan dari Semarang jadi muatannya penuh makanya jalannya lambat dan berat.

Jam sudah menunjukan pukul 19.00, ketika saya masuk kota Semarang, sempat terhambat karena macet akibat adanya pembukaan sebuah Vihara di pinggiran kota Semarang, Vihara besar tersebut kelihatan Megah dan penuh dengan cahaya lampu. Untungnya sesudah melewati kemacetan tersebut jalan cukup lancar dan panduan arah menuju keluar semarang cukup terlihat jelas.

Lepas dari kota semarang kami tiba di ruas Kendal – Batang dengan jalan-jalannya yang bagus serta melalui Boulevard Alas Roban. Di ruas ini mat item ber duel dengan bus-bus malam dan truk-truk barang, saya bilang duel karena mat item saya pacu cukup kencang 80 – 100 kpj, menyalip bus-bus malam dan truk kadang juga mobil penumpang. Saya cukup percaya diri melibas jalur Boulevard Alas Roban ini karena tahu kondisinya cukup bagus tidak ada lubang2 dan jalurnya cukup lebar sehingga leluasa untuk menyalip.

Rasanya jalur ini lebih cepat saya tempuh pada malam hari dibandingkan waktu siang hari kemarin ketika saya berangkat. Mungkin hal ini disebabkan pada malam hari tidak ada lagi aktifitas orang dipinggir jalan, kalau siang kan ada aja orang yg bersepeda, atau menyeberang dan lain sebagainya.

Akhirnya jam 21.30 saya tiba di Batang, saya putuskan untuk menginap kembali di Hotel Sendang Sari, walaupun arif tidak setuju, dia pinginnya kita nonstop, langsung saja ke Jakarta. Tadinya saya pingin juga mencoba nonstop, tapi mengingat mat item dalam kondisi dehidrasi dan mempertimbangkan resiko yg mungkin terjadi maka saya putuskan untuk menginap saja.

Kali ini side bag tidak saya turunkan dari mat item, saya hanya ambil pakaian ganti untuk besok pagi saja, seperti biasa saya catet dulu trip meter yg dicapai oleh mat item hari ini, ternyata menunjukan angka 1.913 km....hmm lumayan berarti hari ini saya menempuh 485km, dan berkendaraan selama 12 jam yaitu dari jam 9.30 pagi sampai 21.30, rasanya ini etape terpanjang dari turing saya kali ini......pantes terasa capek banget malam ini.....habis mandi dengan air hangat saya langsung pules.....zzzzzzzzzzzzz...(sedangkan arif masih nonton tv)....

Etape VII : Batang – Pekalongan – Tegal – Cirebon – Bekasi – Jakarta = 378 km

Sabtu, 15 Juli 2006

Pagi itu setelah sholat subuh saya tidur-tiduran lagi, saya tidak terburu-buru karena semua muatan tetap diatas motor tadi malam, jadi tidak perlu ada packing lagi, sehingga saya bisa sedikit santai pagi itu. Apalagi ini adalah etape terakhir saya untuk sampai Jakarta, jadi beban mental semakin ringan dan percaya diri bahwa sore ini sampai di Jakarta makin menggumpal.

Sekitar jam 08.00 sambil menunggu arif selesai mandi saya check kondisi mat item Scorpio ku. Ketika saya coba start....ternyata hanya bunyi trrrrrrttt....trrrrrt, dam lampu netral juga langsung padam......waduh akinya kayaknya tekor, kemarin memang sepanjang siang dan malam lampu menyala terus, kemarin saya berjalan hampir 12 jam dari jam 9.30 sampai 21.30 apakah ini yang menyebabkan aki tekor saya tidak tau pasti. (sepanjang turing ini saya memang menyalakan lampu baik siang maupun malem).

Akhirnya dengan kick starter motor bisa saya hidupkan, sebelumnya saya periksa olinya dan posisinya ditengah-tengah antara batas atas dan bawah. Setelah dipanasi cukup lama, saya coba starter electric....ternyata bisa, hmm mungkin memang akinya yang drop nih, padahal itu aki baru, beli sebelum turing ini cuma karena mungkin dihajar siang malem dan mungkin sistem pengisiannya yang kurang bagus makanya jadi tekor. Sepertinya di Jakarta nanti musti di periksa lagi nih sistem kelistrikannya.

Jam 08.30 setelah semuanya beres kami pun melanjutkan perjalanan, motor keluar halaman hotel dan langsung saya arahkan ke barat menuju pekalongan, pemalang dan selanjutnya Tegal. Aktifitas orang dipagi hari menyebabkan jalanan menjadi ramai sehigga kami tidak bisa mengembangkan kecepatan, barulah setelah lepas dari keramaian kota sedikit demi sedikit kami bisa mengembangkan kecepatan.

Awal-awalnya sih kecepatan masih saya kembangkan di 70-80 kpj, tapi setelah tubuh, mata dan pikiran “tune in” dengan kondisi jalan dan kondisi motor maka kecepatan pun meningkat sampai 80 – 90 kpj. Setelah isi bensin di Tegal dan juga menambahkan oli ke mesin Mat Item, saya lebih percaya diri lagi untuk mengembangkan kecepatan menjadi 90 – 100 kpj.

Walaupun beberapa tempat di jalan pantura ini berlubang namun tidak menghambat saya untuk menjaga kecepatan di 90 kpj keatas. Pukul 11.00 saya sudah tiba di Cirebon (129km dari pekalongan). Lepas dari Cirebon kali ini mat item duel dengan bis-bis dan truk-truk di jalur pantura yg sudah seperti boulevard karena masing2 arah memiliki 2 lajur dengan pemisah jalan ditengahnya. Seperti malam sebelumnya di jalur Kendal – Batang, duel kali ini lebih seru karena dilakukan siang hari sehingga mata lebih awas memperhatikan jalanan.

Luragung Jaya, Dewi Sri, Deddy Jaya dan sejumlah angkutan Elf plus Truk-truk Cargo merupakan lawan duel mat item kali ini.... beberapa mobil penumpang juga sempat duel dengan mat item antara lain sebuah opel Blazer berplat nomor E, sempat beberapa kali saling susul, tapi akhirnya harus mengakui keunggulan motor ketika dia harus tertahan kemacetan akibat jembatan darurat........ mat item melenggang dengan melintas diantara kendaraan yg terjebak macet....hehehe.

Dijalur ini mat item cuma dikalahkan satu motor yaitu ninja KRR, dia juga boncengan tapi larinya kayaknya enteng banget, saya cuma bisa membuntuti sambil mengikuti racing line nya untuk menghindari lubang dan jalan rusak. Kalau pas jalan mulus saya ketinggalan jauh juga sih, tapi mungkin sayanya yang nyalinya kurang cuma manteng di 110 kpj.

Kalau waktu berangkat saya selalu berusaha menjaga kondisi motor, maka pas pulang di etape akhir ini, saya justru agak memforsir mat item, mungkin karena ingin lekas sampai rumah. Jam 13.00 dipemanukan kami berhenti untuk makan siang dan lanjut lagi setengah jam kemudian, dengan riding style masih sama geber abis....hehehe. (Akibat motor digeber terus yg jadi korban adalah side bag saya yang sebelah kanan bolong terbakar kena kenalpot mat item, satu celana juga bolong.....untungnya gak menyala jadi api ya....; saya baru tau setelah sampai rumah ketika bongkar side bag. Padahal turing-turing sebelumnya side bag ini juga kena kenalpot lho tapi gak apa-apa tuh).

Jam 15.30 saya sudah tiba di Bekasi.....asyiik bentar lagi nyampe rumah nih....eh gak taunya bekasi luar biasa macet cet, lepas dari bekasi, sampai di kali malang di pertigaan kranji macet lagi, kendaraan sudah pada untel-untelan saling serobot...huh menyebalkan.

Dengan susah payah mat item bisa keluar dari kesemrawutan di pertigaan tersebut, dan melanjutkan perjalanan.....sebel juga kehilangan banyak waktu karena kemacetan tadi. Lampu merah Halim lewat, Uki juga lewat, belok ke Dewi Sartika kemudian belok kiri lagi ke menyusuri jalan Kalibata.....hih sudah makin dekat rumah......siip deh paling tinggal kemacetan di Pasar Minggu nih. Pasar Minggu ....eh ternyata motor bisa nerobos under pass yg belum selesai, asiik gak jadi kena macet, rel kereta juga pas gak ada kereta lewat...jadi bablas aja.

Dan akhirnya tepat jam 16.35, saya tiba kembali di rumah di Jl Poltangan III/52a, langsung parkir di halaman samping.....Alhamdulillah. Saya segera lihat trip meter mat item, 2.291km. Berarti hari ini saya menyelesaikan 378km (dari Batang – Jakarta) dalam waktu 8 jam (jam 08.30 – 16.35) atau kecepatan rata-rata = 47,25 kpj.....lumayan tidak jelek2 amat.

Alhamdulillah sore itu saya berkumpul lagi bersama keluarga setelah menyelesaikan solo turing saya ke kawah Ijen dengan selamat. Saya tidak tau kapan akan solo turing lagi.....kayaknya sih masih lama deh.....hehehehe

Jakarta, 25 Juli 2006.

Imam Arkananto

MiLYS 170
SIM-C #018

Data dan Statistik :

Total km = 2.291 km (lebih sedikit dari yg direncanakan karena opsi ke Banyuwangi di drop)

tgl Turing 09 Juli – 15 juli 2006

BBM dibutuhkan = Rp 318.000,- setara 70,6 liter

Pemakaian bensin rata-rata = 32 km/liter

Total pengeluaran Rp 1.685.500,- terdiri dari

Hotel Rp 778.000 (7 malam)

Makan Rp 331.500,- (2 orang selama 7 hari)

Lain2 Rp 258.000,- (ganti oli, kampas rem, sepatu, tiket masuk dll)

BBM Rp 318.000,-

(data uang rupiah ini saya buka disini tidak ada maksud apa2 selain agar data ini bisa menjadi acuan bagi siapa saja yg ingin bersolo turing).

Nyungsep = 1 kali, ketika mat item roboh dihutan pinus.

Puji dan Syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan keselamatan kepada saya dan Arif selama melakukan solo Turing ini.

Ucapan Terima Kasih saya sampaikan kepada :

Isteri Tercinta yang telah memberikan dukungan baik materi maupun immateril

Alin dan Aliya atas doa nya.

Kakak dan Adik-adik atas dukungan materi dan doanya

Mas Belo & keluarga atas bantuan penginapan

Mas Oth yg selalu memantau posisi saya

Teman-teman bikers atas doa dan dukungannya

  • Samudera Indonesia Motor Community = SIM-C

  • Samudera Indonesia Bikers = SI Bikers

  • Mailing List Yamaha Scorpio = MiLYS

Pihak-pihak lain yg tidak dapat disebutkan satu per satu